LOLOS DARI NII ZAYTUN BERKAT BUKU UMAR ABDUH
tau, sampai akhirnya ada org lain masuk menggantikan W, sebutlah dia si O, krn si O menyampaikannya dgn lebih lembut akhirnya saya luluh juga mau menyebut angka, kembali si W masuk, saya menyebut angka di depan W, si O keluar ruangan. Karena saya berpikir realistis, saya hitung pendapatan dan biaya saya sehari2x saya menyebut angka di bawah Y, W keberatan dgn angka yg saya sebutkan. Dia bilang masa mau masuk surga Cuma mau berinfaq segitu, masa kalah dgn Y yg notabene lebih muda dari saya dan masih mahasiswi juga, logikanya kata si W, saya yg lebih tua dari Y pasti dosanya lebih banyak makanya infaqnya juga harus banyak, akhirnya dgn sangat berat hati saya sebut angka diatas angka yg disebut Y (dikemudian hari saya baru sadar kalo angka yg disebutkan Y itu pancingan agar saya menyebut angka minimal yg diharapkan oleh W). Singkat kata, akhirnya saya hijrah. Selama proses hijrah ini ada yg mengganjal, bersama beberapa org yg akan melakukan proses hjrah dikumpulkan di sebuah rumah yg cukup kecil tuk sementara, krn setelah itu akan dibawa ke suatu tempat tuk prosesi hijrah, yg mengganjal kok selama di rumah kecil itu seperti tidak diberi kesempatan tuk sholat subuh, menjelang subuh ada pemberian materi pra hijrah sampe 5.30 setelah itu harus siap2x berangkat ke tempat prosesi hijrah. Oh iya, tuk menuju rumah penampungan sblm hijrah dan rumah tuk prosesi hijrah calaon warga Negara NII harus menutup matanya selama dalam perjalanan, selama dalam perjalanan ada yg mengawasi kalo2x ada yg coba2x membuka mata. Dalam prosesi hijrah juga ada para jamaah harus menyebutkan berapa rupiah kesanggupan membayar infaq, hal ini dicatat oleh Negara (NII). Setelah hijrah, esoknya saya cerita dgn X, saya ajak X ke malja hari sabtu, dia setuju, hari sabtu saya dan X janjian tuk pergi ke malja, sampainya di malja, dibukalah semua rahasia dari scenario, ternyata X dan Y sudah lebih dulu masuk ke NII, bahkan suami dari X saat itu sudah menjabat lurah. Saya kaget bukan main dan agak marah kepada X, seperti orang yg habis kena pukul, sampai di rumah saya telpon X, kenapa kok caranya seperti ini, kata X itu hanya salah satu cara agar saya mau bergabung dgn NII, dia meminta saya agar menurut aja apa kata pejabat NII, soal jodoh nanti akan dicarikan, itu soal mudah, lagi pula si Y itu udah ada calonnya (padahal saya sudah jatuh hati sama Y). Saya belum terima dgn kenyataan ini, seiirng berjalnnya waktu saya dgn terpaksa menerima kenyataan kalo si Y udah punya calon. Setelah itu saya rutin hadir pertemuan di malja, tapi makin lama saya makin ngeh/sadar kalo ajaran NII sesat, apalagi setelah saya berdiskusi dgn teman kantor saya yg lain (ini yg paling krusial yg menyelamatkan saya keluar dari NII). Saya dipinjamkan buku karya Umar Abduh yg judulnya kalo gak salah “membongkar kesesatan NII Al Zaytun”. Langsung saya baca sampai habis buku itu dalam tiga hari. Setelah itu saya bertekad harus segera keluar dari NII. Niat saya keluar dari NII saya sampaikan ke X, X gak terima dgn niat saya itu, saya diajak utk ketemu suaminya yg pejabat NII itu, tapi gagal krn suaminya ternyata ada acara Negara saat itu. Sebagai gantinya saya dipertemukan oleh pejabat yg lainnya, disitu saya terus dijejali dgn penggalan ayat2x Alquran biar saya tetap di NII. Tapi tekad saya sudah bulat, gak pake ragu2x lagi tuk keluar. Saya ditelpon untuk hadir pada acara2x Negara, saya gak pernah mau hadir, lama2x saya gak pernah jawab/angkat hp saya kalo saya ditelpon oleh orang2x NII. Si X marah, saya gak peduli lagi, Pernah suatu kali saya tanya ke X tentang berjilbab, jawaban dia, suatu hari hari nanti dia akan berjilbab kalo itu sudah wajib (kalo NII sudah futuh), debat saya : “jadi kamu berjilbab bukan karena Allah donk” jawabannya gak jelas sambil marah2x. Saya berkesimpulan ini orang benar2x sudah kena doktrin NII, doktrin NII ditelan mentah2x, kalo saya ajak debat, gak pernah bisa terima, bisanya hanya2x marah. Keputusan saya keluar juga saya sampaikan ke Y, Y bilang ke saya “ Mas gak takut dibilang kafir “ dalam hati saya, yg bilang kafir itu kamu dan golonganmu bukan Allah” Sekian cerita singkat saya selama di NII, mudah2xan bisa diambil manfaatnya Catatan : Kalo dihitung dari kenal, hijrah lalu keluar, mungkin hanya dua bulan saya di NII
Kejadian ini kalo gak salah tahun 2004 Alhamdulillah saya belum memasukkan orang lain utk ikut NII, baru sekali mengajak teman utk ketemuan, tapi untungnya gak jadi krn teman saya berhalangan (baru mau direncanakan skenarionya) Saya sudah keluar uang dua juta. Yg menjadi pertimbangan utk keluar : (ajarannya sesat) - orang tua atau keluarga yg lain dianggap kafir kalo mereka blm masuk NII
- harta mereka halal tuk diambil/dicuri, menghalalkan segala cara, bahkan nyawa mereka halal tuk dibunuh - dalam beberapa pertemuan2x dia malja, seringnya pejabat NII memberikan ajaran berbohong demi utk mendapatkan uang
- sholat lima waktu tidak wajib - adanya penebusan dosa dengan membayar sejumlah uang (kayak ajaran Kristen aja)
- target infaq yg sangat memberatkan, dipaksakan di luar batas kemampuan - semuanya ujung2xnya duit
- halal menikah tanpa wali tuk penganten wanita, dikarenakan keluarganya belum masuk NII
- dll Pesan saya : Kalo sudah bertekad keluar jgn ragu2x dan takut, kuatkan tekad. Salam,
Imam Mulyono
Email : imammul88@yahoo.com
Daarul 7:55 pm pada Mei 7, 2011 Permalink |
Menarik Juga…banyak cerita pengalaman, saya yang tidak ingin menulis jadi mau ikutan menulis juga, terus terang terlibat dan berkenalan dengan NII KW IX tahun 1987-1992, sampai saya diangkat sebagi pejabat setingkat Lurah tahun 1992, sepanjang perjalanan saya aktif di KW IX, saya jarang sekali sholat berjamaah, bahkan seringkali kegiatan (yang mereka sebut kegiatan Negara) dihari Jum’at saya praktis tidak ikut shalat Jum’at, bahkan mereka berani mengatakan orang yang baru pulang shalat Jum’at masih kafir (shalatnya di masjid Dhirar/tandingan) mereka masih kafir belum dapat hidayah karena belum hijrah Ke NII, suatu ketika saya ingin menikah dengan calon istri saya, calon saya aktifis Jama’ah Salafi yang berjilbab rapaf eeee…dibilang masih kafir sementara yang tidak berjilbab alias aurat kemana mana cuma karena dia pernah dibai’at dibilang sudah ber Iman, lanjut kata kalau saya mau menikah calon harus hijrah dulu ke NII, nanti Nikahnya wali hakim di NII gak perlu dihadiri wali Nasab (ayah kandung gak apa2) karena masih kafir….panjang ceritanya, aku menikah juga dengan calon istri dirumahnya disaksikan oleh keluarga dan dinikahkan wali Nasab/kakak kandung (Ortunya Allahuyarham),….e dibilang gak syah….kalao mo syah gak boleh campur dulu dan harus nikah lagi di NII,…..woooow aku gak mau…mana ada pernikahan dua kali…..sejak itu aku keluar NII dibulan Desember 1992, saya mulai aktif lagi mengaji seperti biasa, alkhirnya saya putuskan mending dibilang MURTAD sama orang NII KW IX yang gak jelas aqidahnya ketimbang kena Laknat Allah……saudaraku tapi tetap syare’at islam harus kita perjuangkan sesuai dengan kemampuan yang kita miliki…minimal untuk diri sendiri dan keluarga kalau ada kemampuan terus untuk masyarakat luas, karena Islam harus terus disosialisasikan, cita2 mendirikan NII benar adanya tapi cara dan aqidahnya yang perlu dipertanyakan (khusus untuk KW IX) mentang2 telah menjadi Warga NII seenaknya aja mengkafirkan orang, mengkafirkan para ulama, mengkafirkan siapa saja yang belum Hijrah ke NII termasuk orang tua masih kafir karena belum masuk NII, padahal orang kita termasuk orang terpandang dan ta’at menjalankan syare’at islam cuma gak di Bai’at gaya NII aja dibilang kafir, sungguh menyakitkan…sekarang percaya atau tidak antara Pondok Peantren (PP) AL ZAYTUN masih terkait NII terserah keputusan ada ditangan anda, bagi saya tetap menilai sarangnya NII ada di PP AL ZAYTUN, karena kebetulan ada diantara rekan saya yang jadi pendidik di PP AL ZAYTUN, yang pernah sama2 aktif di NII KW IX. bagi anda yang ragu tentang AL ZAYTUN tentang keterkaitannya dengan NII boleh jadi anda tidak tahu sejarahnya atau memang anda tidak pernah tahu apa itu Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah IX disingkat NII KW IX, mengenai pelajar/santri yang pernah mondok di AL ZAYTUN dan tidak tahu tentang NII itu memang strategi, ada yang perlu dan harus dikasih tahu karena sebagai kader, ada yang memang tidak perlu dikasih tahu, mereka (pengurus PP AL ZAYTUN ) lebih tahu mana yang harus jadi kader dan yang murni sebagai pelajar/santri saja, yaaa…kalau semuanya harus tahu…bukan strategi namanya, tidak akan semua santri tahu tentang Visi dan Misi AL Zaytun, secara fisik saya akui bagus….dan memiliki tanggung jawab terhadap dunia pendidikan Umat dengan manajemen yang cukup handal, namun dipihak lain tidak terbuka, penuh misteri membuat orang banyak tanya….ada apa dibalik PP AL ZAYTUN, nah…silahkan Aja datang ke AL ZAYTUN karena anda bukan warga NII, paling2 dibilang turis asing dari RI…masih kafir lagi…
Doddy Ruswandi 9:32 am pada Mei 6, 2011 Permalink |
Kelihatannya Pengurus NII cerdik sekali mereka punya dua strategi yaitu Gerakan Formal ‘diatas tanah’ yaitu ‘Ma’had Al Zaitun’, menurut kasat mata tidak ada masalah dari MAZ ini, ajaran dan kegiatan yang diberikan kepada Santri/wait kelihatannya sangat positif, sama sekali bersih dari istilah NII. Strategi lainnya adalah gerakan dibawah tanah, yaitu ‘NII Gadungan’ itu yang nyata sekali keberadaannya melihat kepada korban-korbannya yang sudah lebih dari 100 org (yang tercatat), NII inilah yang mendanai MAZ, karena biaya studi di MAZ yang diambil dari santri-santrinya sangat murah ( seharga seekor sapi selama masa belajar)..
reno wardhana 1:39 pm pada Januari 8, 2011 Permalink |
Sukron ya akhia,saya juga punya pengalaman waktu mau nikah dengan istri saya yg sekarang,yg nota bene jebolan Alzaytun,dasar istri sya orang nya polos jadi tidak tau selama di sana apa saja kajian nya,waktu mw nikah calon saya mau di bawa oleh pengurus alzaytun,mungkin mau di jadikan seprti yg antum tulis,alhamdulliah saya masih bisa menyelamatkan nya dengan mencegah supaya jangan mau di bawa.
salam