Updates from April, 2011 Toggle Comment Threads | Tombol Pintas

  • Bahtiar NDT 9:33 pm pada April 30, 2011 Permalink | Balas  

    Simak Cara2 Menyembuhkan Korban Cuci Otak Doktrin Ajaran NII Gadungan, di Masjid Al Mujahidin Jl. KH Ahmad Dahlan 17 Kukusan Beji Depok Jawa Barat, Ahad 01/05/2011 jam 06:00 WIB. Info lengkap sms ke 08132 8484 289 

     
  • Bahtiar NDT 5:46 pm pada April 29, 2011 Permalink | Balas  

    AYAT-2 NII GADUNGAN UTK MENCUCI OTAK PENGIKUT-2 NYA 

    Sumber : http://kampungrison.wordpress.com/2008/10/22/teks-proklamasi-nii/

    “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfa’at bagi orang-orang yang beriman.”
    (Al Qur’an 051:55)

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.”
    (Al Qur’an 002:159)

    “F A K T A” ….. versi NII Gadungan tentunya,

    SIAPAPUN PRESIDEN DAN WAKILNYA – PANCASILA IDEOLOGINYA
    APAPUN AGAMA PRESIDEN DAN WAKILYNA – KUHP HUKUM-HUKUMNYA

    ISLAM DAN BERIMANKAH KITA DI HADAPAN ALLAH SWT?

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Siapakah yang dinyatakan oleh Allah Swt orang-orang yang beriman, yang mereka itu diseru untuk mematuhi Allah dan rasul-Nya secara kaffah?

    – Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya; kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar beriman. (Q. Al Hujurat 15)

    Dan siapakah pula yang dinyatakan oleh Allah Swt orang-orang yang kafir?

    – Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. (Q. Al Baqarah 6)
    - Hai orang-orang yang beriman, ber-Dinnul Islam-lah kamu secara kaffah (secara keseluruhan), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari Dinnul Islam) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. Al Baqarah 208-209)

    – Pada hari ini, telah Aku sempurnakan Agamamu (Pedoman Hidup dan Kehidupanmu) untukmu. Telah Aku cukupkan nikmat-nikmat-Ku untukmu. Dan telah Aku ridhai (Aku setujui dan Aku restui) Islam sebagai Pedoman Hidup dan Kehidupanmu. (Q. Al Maidah 3)

    – Siapa saja yang mencari (apalagi yang memakai) pedoman hidup dan kehidupan selain Dinnul Islam, maka tidaklah akan diterima (tidak dinilai ibadah) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q. Ali Imran 85)

    Bagi seluruh umat manusia, tidak terkecuali bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri mereka Islam dan beriman, tentu mengimani Kebenaran Ketetapan Allah Swt yang tersebut di atas. Jika tidak, tentu mereka bukan orang-orang yang beriman.

    Intinya adalah, tidak ada agama atau pedoman hidup dan kehidupan yang lain bagi mereka, selain Dinnul Islam dan Nabi Muhammad Rasulullah Saw adalah panutan, contoh dan tauladan bagi mereka di dalam menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka, baik di kala mereka hidup sendiri-sendiri berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara.

    Berdinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala perintah adalah Perintah Allah Swt yang wajib dipatuhi oleh seluruh umat Islam yang beriman, sebagaimana realisasinya yang benar telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah Saw pada masanya.

    Rasulullah Saw berpribadi, Rasulullah Saw berkeluarga, Rasulullah Saw bermasyarakat, Rasulullah Saw berbangsa, dan Rasulullah Saw bernegara. Bahkan, Beliau adalah kepala negaranya. Semua aspek hidup dan kehidupan Beliau berserta umat Islam yang beriman, begitu juga yang belum beriman yang berada di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah pada saat itu, ditata dan diatur berazastunggalkan Dinnul Islam seutuhnya atau yang lazim disebut dengan “secara kaffah”.

    Nabi Muhammad Rasulullah Saw tidak pernah mengajak bangsa Arab, baik yang kafir maupun yang beriman, dengan seruan Beliau yang seperti ini, misalnya: “Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air. Demi persatuan dan kesatuan bangsa Arab, marilah sama-sama kita rekayasa suatu ideologi yang baru, selain Dinnul Islam, kemudian kita lengkapi ideologi tersebut dengan hukum-hukum dan undang-undang serta peraturan-peraturan yang kita butuhkan. Kemudian, kita jadikan dan kita pergunakan ideologi kita tersebut berserta hukum-hukumnya sebagai satu-satunya azas pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, baik bagi yang beriman maupun yang kafir, agar kita semua dapat selamat dan sejahtera di dunia dan akhirat”.

    Pernahkah Rasulullah Saw mencontohkan ber-Dinnul Islam seperti misal ajakan Beliau yang tersebut di atas?

    Bukankah misal ajakan Rasulullah Saw itu seperti kita beragama, berbangsa dan bernegara di Indonesia?

    Kalaulah kita, seluruh bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita islam dan beriman, dan kita beriman sesuai dengan Ketetapan Allah Swt dan sesuai pula dengan apa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw, tentu kita tidak akan pernah berideologi yang lain, selain Dinnul Islam, Pancasila misalnya, di dalam kita menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita, baik di kala kita beragama, berbangsa maupun bernegara. Seluruh aktifitas hidup dan kehidupan kita, bahkan mati kita pun hingga cara penguburan mayat kita haruslah berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Itulah Ketetapan Allah Swt bagi seluruh manusia yang mau digolongkan sebagai orang-orang yang beriman, yang imbalannya, adalah Jannah. Beriman dulu yang benar sesuai dengan Ajaran-Nya, barulah kemudian beramal saleh, yang harus juga sesuai dengan Bimbingan Allah Swt dan contoh serta tauladan yang telah diberikan oleh Rasulullah Saw. Maka barulah hidup dan
    kehidupan kita bernilai ibadah di sisi-Nya. Sebagaimana KetetapanNya atas penciptaan diri manusia.

    – Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.
    (Q. Az-Zaariyaat 56)

    Apakah Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam memang tidak berlaku atas umat Islam Indonesia?

    Ataukah kita, Umat Islam Indonesia yang jumlahnya mayoritas di Indonesia ini, telah mendapatkan dispensasi atau keringanan dari Allah Swt untuk tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tetapi kita masih dianggap beriman oleh Allah Swt di hadapan-Nya?

    Ataukah kita, umat islam Indonesia, yang tidak mau ber-Syariat Islam karena kita merasa berat mematuhinya, walaupun itu untuk kebaikan kita? Dan kalaupun kita mau ber-Syariat Islam, bagaimana mungkin kita dapat melaksanakannya karena kita masih tetap ber-Pancasila? Bukankah Pancasila juga mempunyai hukum-hukumnya sendiri yang harus dipatuhi oleh kita-kita yang ber-Pancasila? Sementara Allah Swt, yang kita imani dengan Dinnul Islam-Nya, juga mewajibkan kita, Umat Islam Indonesia, berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum-Nya atau Syariat Islam. Bahkan, Dia mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau, dan juga yang menolak atau tidak setuju atas pelaksanaan Syariat Islam.

    Bagaimanakah kita berpedoman di dalam menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan kita sebagai orang-orang yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman di dalam berbangsa dan bernegara?

    Siapa yang harus kita patuhi? Tuhan kita, Allah Swt, dengan Syariat Islam-Nya, ataukah Pancasila kita Nan Sakti dengan hukum-hukum thaghutnya?

    Bukankah ini artinya kita berdualisme dalam berpedoman, alias beragama “suka-suka”? Kita beragama sesuai dengan selera kita. Mana yang cocok dengan selera kita, kita patuhi. Dan mana yang tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsu kita, kita ingkari. Kita beriman akan sebagian isi Al Qur’an dan kufur akan sebagian yang lainnya. Seperti inikah Rasulullah Saw mengajarkan dan mencontohkan kepada kita ber-Dinnul Islam? Koq kita tidak bermalu mengklaim diri kita sebagai umat Beliau?

    Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam tidak berlaku di Negara Republik Indonesia, karena NKRI bukanlah Negara Islam. Padahal, kabarnya, mayoritas penduduknya beragama Islam (?). Apakah ada Allah Swt memerintahkan dan meridhoi kita, seluruh Umat Islam Indonesia, untuk mendirikan suatu negara yang berideologikan ideolgi manusia dan berhukum serta berhakim kepada hukum-hukum buatan manusia alias hukum-hukum thaghut?
    Sewaktu berjuang merebut kemerdekaan kita berteriak, “Allahu Akbar!” Tetapi, setelah merdeka, di mana kita letakan Ideologi dan Hukum-Hukum Allah? Koq malahan ideologi manusia dan hukum-hukum thaghutnya yang kita jadikan pedoman hidup dan kehidupan kita berbangsa dan bernegara? Dengan cara seperti inikah kita bersyukur kepada Allah Swt?

    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Ini adalah FAKTA cara kita beragama. Kita ber-Dinnul Islam dengan cara kita, berdualisme dalam berpedoman, bukan dengan cara Rasulullah Saw yang hanya ber-Dinnul Islam secara kaffah. Beliau tidak berideologikan yang lain, selain Dinnul Islam, dan begitu juga para sahabat serta umat Islam yang beriman lainnya pada saat itu.

    Dan yang sangat naïfnya bagi kita adalah, kita selalu berdo’a memohon dan mengharapkan syafa’at beliau di kemudian hari. Tetapi ironinya adalah, disuruh beriman sebagaimana Rasulullah Saw beriman sajapun kita tidak mau. Koq, bisa-bisanya kita mengharapkan syafa’at beliau dan menginginkan Surga Allah?

    Oh, alangkah rancunya kita ber-Dinnul Islam karena kita berdualisme dalam berpedoman. Kita buat tandingan bagi Ideologi Allah Swt, yaitu Ideologi Panca Sila. Dan kita anugerahkan Pancasila kita itu dengan ungkapan yang hebat, yaitu “Nan Sakti” atau Yang Sakti, walaupun kita tahu Pancasila kita Nan Sakti itu tidak bisa menciptakan apa-apa, walau sehelai rambutpun, karena memang Pancasila itu bukan apa-apa, kecuali ideologi manusia yang membawa pengikutnya ke jurang neraka.

    Tidakkah cukup Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya) menjadi pedoman hidup dan kehidupan bagi orang-orang yang beriman?

    Ini adalah suatu perbuatan syirik yang tidak akan pernah diampuni oleh Allah Swt, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali kita bertaubat nasuha dengan meninggalkan Pancasila untuk selama-lamanya, dan kembali ke Dinnul Islam secara kaffah.

    Apakah orang-orang yang beriman seperti kita-kita ini yang dimaksud oleh Allah Swt sebagai pewaris surga? Surga itu milik siapa? Milik Allah Swt, atau milik Pancasila kita Nan Sakti? Atau memang ada Pancasila kita Nan Sakti memiliki Surga sehingga kita mau berhukum dan berhakim kepadanya? Ataukah kita yang memang tidak mempergunakan akal sehat kita? Tetapi yang jelas, kita mendahului hawa nafsu kita yang tidak terbimbing oleh Bimbingan Allah, yaitu Al Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga kita tidak saja beragama suka-suka, tetapi ternyata, kita juga berbangsa dan bernegara sesuka-suka kita. Ini adalah FAKTA yang ada di depan mata kita. Maukah kita kafir selamanya sampai ajal tiba menjemput kita?

    – Menetapkan Hukum itu hanyalah Hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi Keputusan yang paling baik. (Q. Al An’am 57)

    – Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Namun (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (Q. Al Ma’idah 50)

    – Siapa saja yang kafir sesudah beriman (karena tidak mau berhukum kepada Hukum-Hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q. Al Ma’idah 5)

    – Siapa saja yang memutuskan (suatu perkara) tidak menurut apa yang diturunkan Allah, berarti mereka adalah orang-orang kafir. (Q. Al Ma’idah 44)

    Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Orang-orang kafir atau masyarakat kafir, bangsa-bangsa kafir, negara-negara kafir, pemerintahan-pemerintahan kafir dan pemimpin-pemimpin kafir di seluruh penjuru bumi Allah ini tentu mereka semuanya tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam karena mereka memang kafir atau tidak beriman kepada Dinnul Islam. Mereka berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum thaghut, yaitu hukum-hukum yang dibuat oleh mereka sendiri, sesuai dengan apa yang mereka kehendaki, yang mereka anggap benar dan adil. Mereka tidak diperintahkan oleh Allah Swt untuk menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka dengan berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam karena mereka memang tidak beriman kepada Dinnul Islam. Dan bagi mereka, Allah Swt telah menetapkan Ketetapan-Nya, yaitu Jahannam tempat kembali mereka. Itulah seburuk-buruknya tempat kembali.
    Hanya orang-orang yang beriman atau masyarakat yang beriman, bangsa-bangsa yang beriman, negara-negara yang beriman dan para pemimpin yang beriman yang tidak berideologikan yang lain, selain Dinnul Islam, yang mau dengan ikhlas karena iman, menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka dengan berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

    Dan ber-Dinnul Islam secara kaffah dengan mematuhi segala Perintah, termasuk berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam hanya dapat dilaksanakan di suatu Negara atau Pemerintahan yang berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, yaitu yang lazim disebut dengan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Daulah Khilafah Islamiyah tersebut tidaklah mungkin terbentuk dengan sendirinya atau orang-orang kafir yang mendirikannya kemudian dipersembahkan kepada Umat Islam Indonesia untuk mengelolanya. Ini adalah suatu hal yang mustahil. Tetapi sayang, sedikit sekali di antara kita yang memikirkannya. Padahal, Allah Swt telah mengisyaratkan dan Rasulullah telah mencontohkan kepada orang-orang yang beriman untuk memiliki suatu wadah pemerintahan yang berazas-tunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul.

    – Wahai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q. An Nisa’ 59)

    Bahkan di dalam tatanan Pemerintahan Islam sekalipun di mana ada orang-orang kafir atau non muslim yang di lindungi oleh Pemerintah atau Negara Islam, Allah Swt telah memperingatkan kita untuk berhati-hati di dalam memilih para pemimpin, jangan sampai Pemerintahan Islam tercemar dengan unsur-unsur kafirun dan munafikun.

    – Hai orang-orang yang beriman, jangan kamu jadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpinmu, sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Siapa saja di antara kamu memilih mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim. (Q. Al Ma-idah 51)

    – Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Siapa saja yang berbuat demikian, niscaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembalimu. (Q Ali Imran 28)

    – Wahai orang-orang yang beriman!
    Janganlah kamu jadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu menjadi pemimpin-pemimpinmu, jika mereka memilih kekafiran daripada keimanan. Siapa saja di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (Q. At-Taubah 23)

    Akankah kita beriman di kala kita berbangsa dan bernegara sesuai dengan Petunjuk dan Ketetapan Allah Swt seperti apa yang disampaikan di atas agar kita tidak tergolong orang-orang yang merugi di kemudian hari, ataukah kita harus selamanya beragama seperti nenek moyang kita beragama walaupun mereka tidak berada di atas Kebenaran Illahi?

    Oleh sebab itu, marilah kita semua, Bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman, bertaubat nasuha dengan meninggalkan semua ideologi yang bukan Ideologi Allah, Pancasila misalnya, dan kembali ke jalan yang benar, yaitu Ideologi Allah – Dinnul Islam – Al Qur’an dan Sunnah Rasul agar kita semua dapat selamat di dunia dan akhirat.

    – Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menta’ati orang-orang yang kafir, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (menjadikan kamu kembali kafir), lalu jadilah kamu orang-orang yang merugi. (Q. Ali Imaran 149)

    – Ta’atilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir. (Q. Ali Imran 32)

    – Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Qur’an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. (Q. Al Qasas 85)

    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Sebagai Bangsa Indonesia yang telah bersyahadat menyatakan diri kita Islam dan beriman, maka haruslah kita sadari dan kita insyafi bahwasanya:

    1. Pancasila bukanlah Agama Islam. Bahkan, bukan pula agama Bangsa Indonesia. Dan Agama Islam tentu bukan pula Pancasila karena Pancasila memang bukan Agama. Maka benarlah pernyataan para pancasilaist, “Pancasila bukan agama!”.

    2. Pancasila adalah ideologi manusia, sedangkan Dinnul Islam adalah Ideologi Tuhan Yang Maha Esa, yaitu Allah Swt, Tuhannya orang Islam yang benar-benar beriman, yang beriman sesuai dengan Petunjuk dan Ketetapan-Nya.

    3. Ber-Pancasila bukanlah berarti ber-Dinnul Islam ataupun beragama yang lain karena tidak ada satupun agama yang dianut oleh bangsa Indonesia yang berakidahkan Pancasila. Berdinnul islam bukanlah berarti berpancasila karena memang tidak ada sangkut pautnya diantara Dinnul Islam dengan Pancasila. Sungguh sangat nyata perbedaannya. Bagaikan siang dengan malam. Yang satu adalah Ideologi Allah Swt, Yang Haq, dan yang lain adalah ideologi manusia atau Yang Bathil. Al Qur’an adalah pembeda diantara yang Haq dan yang Bathil.

    4. Berpancasila berarti harus berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Pancasila, yaitu hukum-hukum yang dibuat oleh manusia. Diberlakukan atas seluruh bangsa Indonesia. Suka atau tidak suka, wajib dipatuhi oleh seluruh warganegara Republik Indonesia yang berazastunggalkan Pancasila. Kalau tidak dipatuhi, tentu ada sanksi atau hukumannya, baik pidana maupun perdata.

    5. Beragama Islam berarti harus pula berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Islam atau Syariat Islam, yaitu Hukum-Hukum yang Diciptakan dan Diwajibkan oleh Allah Swt atas seluruh umat manusia yang telah bersyahadat menyatakan diri mereka Islam dan beriman agar dapat diakui oleh Allah Swt, sesuai dengan Ketetapan-Nya, sebagai orang Islam yang benar-benar beriman. Dengan kata lain, bagi manusia yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, dengan suka rela ataupun terpaksa, mereka harus berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah, karena kalau tidak, berarti mereka bukanlah orang-orang yang beriman. Dan fakta membuktikan, memang orang-orang yang tidak beriman alias orang-orng kafir yang tidak berhukum dan berhakim kepada Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam di dalam mereka menata dan mengatur semua aspek hidup dan kehidupan mereka di dunia ini.

    6. Allah Swt mengkafirkan siapa saja manusianya yang tidak mau beriman kepada Dinnul Islam, dan yang memutuskan suatu perkara tidak menurut apa yang telah diturunkan-Nya. Dia juga menjadikan kembali kafir di hadapan-Nya, siapa saja manusianya yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, tetapi tidak mau menerima atau menolak Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam diberlakukan atas dirinya, atas keluarganya, atas masyarakatnya, atas bangsanya dan atas negaranya. Maka hapuslah amalannya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi.

    7. Sesungguhnya Allah Swt telah memberi kebebasan kepada manusia untuk menentukan pilihannya, di antara keimanan dan kekafiran, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari seperti apa yang telah menjadi Ketetapan-Nya berikut ini.

    – Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka siapa saja yang ingin (beriman) silahkan ia beriman dan siapa saja yang ingin (kafir) silahkan ia kafir. (Q. Al Kahf 29)

    8. Dan apabila kita mengikuti dan mematuhi dengan senang hati alias ridho kepada para pemimpin dan pembesar negeri yang kafir, yang memimpin tidak berazastunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul, maka kita akan menerima balasan seperti apa yang telah menjadi Ketetapan Allah Swt berikut ini.

    – Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (para pemimpin) yang telah menukar nikmat Allah (Bimbingan Allah) dengan kekafiran (yang bukan Bimbingan Allah) dan menjatuhkan pengikutnya (rakyatnya) ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka Jahanam; mereka masuk ke dalamnya; dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.
    (Q. Ibrahim 28 – 29)

    – Orang-orang (para pemimpin) kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah (tandingan bagi Ideologi Allah) supaya mereka menyesatkan (rakyatnya) dari Ideologi-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah neraka.” (Q. Ibrahim 30)
    - Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Tetapi mereka masih mau berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya. ( Q. An Nisa’ 60)

    – Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati)mu.
    (Q. An Nisa’ 61)

    – Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q. An Nisa’ 65)

    – Apakah kamu beriman (mendengar dan mematuhi) kepada sebahagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan kafir (mendengar dan mengangkangi) terhadap sebahagian yang lain? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. (Q. Al Baqarah 85)

    – Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah (iman atau kafir), mereka itulah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya (dedongkot kafir). Kami telah menjadikan untuk orang-orang kafir seperti itu siksaan yang menghinakan. (Q. An Nisa’ 150-151)

    – Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang dzalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. (Q. Al An’am 44 – 45)

    – Siapa saja yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.
    (Q. An Nahl 106-107)

    – Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari Kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman.
    (Q. Al Baqarah 8)

    – Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah (persatuan dan kesatuan) di antara orang-orang yang beriman, serta untuk menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya).
    (Q. At Taubah 107)

    – Jangalah engkau melaksanakan sholat dalam masjid itu selama-lamanya. Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa, sejak hari pertama adalah lebih pantas engkau melaksanakan sholat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih (akidahnya).
    (Q. At Taubah 108)

    – Demi masa.
    Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati untuk menta’ati kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Q. Al ‘Asr 1-3)

    – Dan ta’atilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.
    (Q. Ali Imran 132)
    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    Jadi sudah jelaslah bagi kita, seluruh Umat Islam Indonesia, bahwasanya kalau ada di antara kita, siapa pun dia adanya dan apa pun status sosial dan profesinya, yang telah bersyahadat menyatakan dirinya Islam dan beriman, tetapi pada kenyataannya, dengan suka rela dan senang hati mengambil dan menjadikan Ideologi Pancasila berserta undang-undang dan hukum-hukumnya sebagai pedoman hidup dan kehidupannya, baik untuk dia berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara, maka dia sesungguhnya bukanlah tergolong orang-orang yang beriman di hadapan Allah Swt.

    – Katakanlah: “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya?”. Yaitu orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.

    – Berkatalah orang yang beriman,
    “Wahai kaumku!
    Ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.

    Wahai kaumku!
    Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

    Siapa saja mengerjakan perbuatan jahat, maka dia akan dibalas sebanding dengan kejahatan itu. Dan siapa saja mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhingga.

    Dan wahai kaumku!
    Bagaimanakah ini, aku menyerumu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeruku ke neraka?

    (Mengapa) kamu menyeruku agar kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai ilmu tentang itu, padahal aku menyerumu (beriman) kepada Yang Maha Perkasa, Maha Pengampun?

    Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan aku kepadanya bukanlah suatu seruan yang berguna baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita pasti kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampui batas, mereka itu akan menjadi penghuni neraka..

    Maka kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahakn urusanku kepada Allah. Sungguh Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya”. (Q. Al-Mu’min 38 – 44)

    – Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu Ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan siapa saja mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.
    (Q. Al-Ahzab 36)

    – Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.

    Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

    Dan ikutilah sebaik-baiknya apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”. (Q. Az-Zumar 53 – 55)

    Wahai saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang seiman.

    – Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al Qur’an), mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat, kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang. (Q. Al Baqarah 159-160)

    – Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling dari padanya?
    (Q. As-Sajdah 22)
    PEMILU 2014 telah di depan mata
    Saat yang tepat untuk kita bertaubat nasuha
    Kalau kita memang masih beriman kepada-Nya
    Tentu kita tidak akan dapat menyertainya, karena Allah Swt melarangnya.

    Para pemimpin yang dipilih
    Dan semua rakyat yang memilih
    Semua mereka wajib berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Pancasila
    Itulah yang membuat kita menjadi kembali kafir di hadapan-Nya

    Membersihkan qalbu setiap hari
    Setelah bersih, dengan apa diisi?
    Apakah diisi dengan Pancasila Nan Sakti
    Ataukah diisi dengan Wahyu Illahi?

    Inilah fakta hidup dan kehidupan kita
    Bangsa Indonesia yang telah menyatakan diri kita Islam dan beriman
    Ternyata di hadapan Allah kita belum beriman
    Karena kita masih mau berideologi yang lain selain Dinnul Islam, yang membuat kita tidak berhukum dan berhakim kepada Syariat Islam

    Ini hanyalah sebuah peringatan
    Yang disari dari kitab suci Al Qur’an.

    Mau beriman, silahkan beriman
    Mau kafir, silahkan kafir
    Sudah jelas mana yang haq dan mana yang bathil
    Orang lain tidak menanggung dosa orang lain

    Maha Suci Allah Yang Mengkafirkan manusia yang tidak mau berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum-Nya. Dan hukum-hukum-Nya hanya dapat dilaksanakan di Pemerintahan Islam, suatu pemerintahan yang berazastunggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Dan Pemerintahan Islam tidak akan pernah ada sampai hari kiamat kalau umat islamnya tidak pernah mau mengadakannya.

    Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain Dia. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya). (Q. Al A’raf 3)
    Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar. (Q. Al Buruj 10)

    Dan siapa saja yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal dia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya. (Q. An Nisa’ 93)

    Sesungguhnya orang-orang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. (Q. An Nisa’ 150-151)

    Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q. Al Baqarah 208-209)

    Apakah kamu beriman (mendengar dan mematuhi) kepada sebagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan kafir (mendengar dan mengangkangi) terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. (Q. Al Baqarah 85)

    Sumber : http://kampungrison.wordpress.com/2008/10/22/teks-proklamasi-nii/

     
    • ahlamiah 10:27 pm pada Oktober 22, 2011 Permalink | Balas

      Wah jadi rancu, ini mau menunjukkan kalau isi dari posting ini benar atau salah? Saya masyarakat awam juga, jadi takut untuk berasumsi.

    • Mutakin 9:14 pm pada Mei 12, 2011 Permalink | Balas

      terima kasih banyak pa’ benar pa semua itu yang telah di jelaskan teman saya agar Qta masuk ke negara islam, terima kasih pa’ semoga tidak ada lagi korban2 nii selanjutnya pa’ amin ya robbal alamin

  • Bahtiar NDT 11:05 am pada April 29, 2011 Permalink | Balas  

    MAKNA NAIK HAJI BAGI NII GADUNGAN 

    Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/04/28/142314/1627720/10/nii-kw-9-berhaji-k…

    NII KW 9 Berhaji ke Al Zaytun Tiap 1 Muharam Nurvita Indarini – detikNews

    Jakarta – Ini pengakuan seorang mantan anggota Negara Islam Indonesia Komandemen Wilayah (NII KW) 9. Sejak awal bergabung, dia tidak pernah dikenalkan rukun Islam. Layaknya umat Islam, NII KW 9 juga berhaji. Tapi, Tanah Suci bagi mereka adalah Ponpes Al Zaytun.

    “Saya tidak mengenal materi rukun Islam sejak awal bergabung. Karena bagi mereka, Islam adalah yang masuk dan dibai’at NII KW 9. Selain itu, kafir,” ujar mantan anggota NII KW 9, Bahtiar, dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (28/4/2011).

    Bahtiar bergabung dengan NII KW 9 pada 1994. Kala itu, dia masih duduk di semester 3 Jurusan Teknik Fisika UGM. Selama hampir dua tahun dia menjadi warga NII, Ponpes Al Zaytun belum berdiri. Saat itu, anggota NII KW 9 diberi tahu adanya program pembelian surga. Artinya, uang-uang yang diserahkan anggota merupakan wujud pembelian kavling surga.

    “Saat saya masih jadi anggota NII KW 9, ternyata ada program pembebasan tanah di Indramayu yang kemudian dibangun Al Zaytun itu. Nah, bagi NII KW 9, yang namanya naik haji itu adalah berkunjung ke Al Zaytun setiap 1 Muharam kalender Hijriyah,” terangnya.

    Menurut keterangan orang-orang yang pernah ‘berhaji’, imbuh Bahtiar, mereka diberi tahu kalau Al Zaytun yang megah dibangun dari dana yang telah mereka sumbangkan. Di sana mereka juga diberi materi untuk menguatkan pemahamannya akan NII KW 9.

    “Di sana mereka bisa bertemu dengan anggota NII KW 9 lainnya, bisa berkenalan dengan yang lain untuk memupuk rasa kebersamaan. Kalau di waktu biasa, anggota NII hanya bertemu dengan pemimpin di atasnya, tidak dibolehkan bertemu dengan anggota lain di luar jalur komando,” jelas Bahtiar.

    (vit/fay)

    Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/04/28/142314/1627720/10/nii-kw-9-berhaji-k…

     
    • oklek33 11:20 am pada April 29, 2011 Permalink | Balas

      Hidup dibuat susah susah cari makan aja susah malah ada ada aja

  • Bahtiar NDT 10:13 am pada April 29, 2011 Permalink | Balas  

    MAHASISWI UNIMED MEDAN HILANG KARENA NII GADUNGAN 

    Jeni Arista Andini

    Jeni Arista Andini

    From    : Mhd Nasuhan (nasuhanmhd@yahoo.co.id)
    to    : bahtiar@gmail.com
    date    : Wed, Apr 27, 2011 at 10:25 PM
    subject    : KORBAN NII KW 9

    As.Wr.Wb Pak Bahtiar, saya Pak Nasuhan, kemanakan saya yang hilang sejak bulan Maret 2008, ketika aktif kuliah di UNIMED MEDAN beserta dua orang rekan sekelasnya dan sekaligus teman satu kamar kost di Jl.Pelita kampung durian Medan, ketiganya sampai detik ini Rabu 27 April 2011 belum pernah dapat kabar beritanya dimana dan bagaimana kabar anak-anak kami berada.

    Kami sudah berusaha semaximal mungkin untuk mendapatkan kemanakan kami tersebut baik melaporkan kepihak yang berwajib dari Polresta Kota Binjai, Polresta Kampung durian tempat kejadian hilangnya kemanakan kami hingga kami sudah melaporkan ke POLTABES MEDAN dan kami sudah memasukan ke media masa koran Harian Post Metro dan ke pihak Kampus dimana mereka berkuliah, namun hingga detik ini juga belum membuahkan hasil, kami sekeluarga memohon kepada saudara-saudara kami sebangsa dan setanah air untuk dapat memberitahukan kepada kami pihak keluarga jikalau mengetahuai kemanakan kami berada.

    Nama-nama kemanakan kami yang hilang beserta biodatanya :

    Nama              :     Jeni Arista Andini
    Tpt/Tgl Lahir     :     Binjai / 1 Januari 1987
    Alamat            :     Jl.Mayjend Sutoyo No.50 Kel.Sukamaju Kec.Binjai Barat Kota Binjai Prov.Sumatera Utara Indonesia
    Umur              :     24 Tahun
    Status            :     Mahasiswi Unimed Medan Stambuk 2005,Jurusan PGSD

    Jeni Arista Andini lebih akrab dirumah dipanggil Rista, jika teman sekolah dan kampus selalu dipanggil Jeni atau Rista

    1. Tamat sekolah SD Inpres psr.X kel. Sukamaju binjai Barat tahun 1999,
    2. Tamat SLTP/SMPN 10 Binjai tahun 2002 ,
    3. Tamat SMU Taman Siswa Binjai tahun 2005,
    4. Menjadi mahasiswi UNIMED jurusan PGSD stambuk 2005

    dan hilang tidak tau keberadaannya bulan Maret 2007 hingga sekarang beserta teman sekampus dan sekamar kostnya bernama : EFRIDA dan PITA, hingga sekararang belum ada kabar berita keberadaan mereka.

    Berikut ini foto Jeny Arista Andini, panggilan di keluarga Rista, panggilan teman2 di kampus Jeny dan sebelum hilang, ketika setelah diformat oleh anggota NII KW 9, diberi nama Melly, foto ini dicetak tahun 2005 ketika mau kuliah di UNIMED Medan

    Jeni Arista Andini

    Jeni Arista Andini

    —–

    Kepada pembaca website ini di manapun berada, yang mengetahui keberadaan Sdri. Jeni mohon menghubungi orang tuanya atas nama : Bapak Nasuhan HP : 08126 4443 00 atau saya Bahtiar 08132 8484 289

     
    • ola 1:19 am pada November 20, 2011 Permalink | Balas

      Assalamu’alaikum Ustad Bachtiar temen saya sudah ada yang terkena doktrin nii kw 9. Bagaimanakah cara menyadarkannya? Mohon tipsnya agar kita tidak terpengaruh oleh doktrin2 agama sesat. terimakasih

  • Bahtiar NDT 8:36 am pada April 28, 2011 Permalink | Balas  

    MOHON DIBANTU, 2 ADIK SY PERGI KRN NII GADUNGAN 

    NENI DAN NUNI

    From : Yayah Suratiyah (yayahsuratiyah@yahoo.com)
    To : bahtiar@gmail.com
    Date : Wed, Apr 27, 2011 at 10:00 PM
    Subject : MOHON DIBANTU MENCARI KEDUA ADIK SAYA

    Assalamualaikum Wr Wb,

    Berikut data2 dua org adik2 sy yang pergi karena NII Gadungan :

    1. Nama : Neni Mindayani (Neni)
    Lahir : Mei 1975
    Pendidikan trakhir : D1 LPK santa Ursula Angktn 1994/1995

    2. Nama : Juhardini ( Nuni )
    Lahir : Agustus 1979
    Pendidikn trakhir D3 Adm Niaga Univ Indonesia Angktn 1997

    Kami 7 saudara semuanya prempuan, sy anak trtua, sedangkan Neni anak ke 6 dan Nuni anak bungsu. Sbetulnya sblum merka msk kelompk NIIZ, adik sy ank ke 4 brnama Ella Karmila sdh brsuami lbh dulu msk kelmpk tsb yg kmudian mengjak 2 adiknya. Adk sy Ella juga tdk ingin brhub lg dg kel.

    Beberapa kl kami kermhnya menanyakn kberadaan Neni dan Neni, tp slalu mengatakn tdk tahu, bhkan kami prnah melaporkannya ke polisi agr memberitahukan keberadaannya tetap saja tdk mau mengatakannya.Blm lm ini ortu sy main kermhnya tetapi tdk dianggap seditpun bhkn minumpun tdk diberikan.

    Sblum meninggalkan rmh kedua adik sy sdh bekerja sbg karyawan di TVRI sub bag Berita Bahasa Inggris. Banyak kejanggalan trhdp sikap kedua adik sy stelah ikt kelmpk tsb, berani membantah ortu, tdk membrikan uang kpd ortu yg biasa dibrikan stlah mndpt gaji. Biasanya royal trhadp uang unk keponakan2/ saudara2nya. Kl ibu sy minta uang unk bayr listrik yg biasanya dibyr mrk, slalu mrengatakn ngga ada dah hbs. Ibu sy punya firasat kl uang mrk diserahkan unk kelmpk. Kedua orng tua sy dan sy sendiri sring menasehati mereka tp mereka slalu brdalih bhw apa yg mereka lakukan adalah perintah Allah brdasarkan Alquran. Sy prnah mengatakn bhwa pemahaman ajarannya tdk sesuai dg alquran dan sunah Rasul. Krna sering kami brikan masukan2/ nasehat2 dll, akhirnya mrka pergi unk menghindarinya spy tdk trpengaruh .

    Mereka prgi th 2001 pd hari Raya/ lebaran. Pd saat itu kami sekeluarga ingin brlebaran ke tempt saudara, mereka tdk mau ikut,. Pd saat kami kembali pulang mrka pergi dg meninggalkan sepucuk surat.

    Kel kami tingal di Komplk Prmhan DPRRI Kelapa Dua no 69 Kebon Jeruk Jak Bar, no telp Rmh 0215324795. HP sy 081369212163. Sudah banyak upaya2 pencarian mereka, lapor Polisi, kami prnah ke daerah Manggarai tmpt pengaduan korban NIIZ, bhkn wkt itu kami membeli buku dr org tsb (sy lupa namanya) yg brjudul Pesantren Alzaytun sesat.

    Kami prnah minta bantuan media ( radio ) tetapi blm juga membuahkan hasil. Sejak sy lulus dr IKIP Jkt th 1985 sy mengajar dan tinggal di Bandar lampung sampai sekarang. Demikianlah yg bs sy sampaikan brkaitan dg kedua adik2 sy, mudah2an Mas bahtiar dan tmn2 Mantan NII Gadungan yg peduli trhdp korban2 NIIZ berkenan membantu kami.

    Wassalam

    —-

    Isi surat yg ditulis Neni dan Nuni :

    Assalamualaikum Wr Wb.

    “Mama dan mimi ( panggilan unk ayh, ibu kami ), Neni dan nuni ngga akn pulang lagi jadi ngga usah lg mikirin dan kuatir sama kita atau sampai nangis segala krn itu hanya nyusahin mama dan mimi aja. Neni dan Nuni udah dewasa sdh bisa nilai mana yg benar dan salah. Kita brdua yakin inilah jalan yg benar karena ikuti Allah dan Rasulnya. Juga apa yg kita lakukan semuanya adalah tanggung jawab kita krn setiap diri bertanggung jawab atas dirinya. Kitapun brbuat ini bukan mengikuti kata gurunya tapi semata2 ikut kepada ayat Allahnya, juga karena takut kita kepada Allah lebih besar dari yang lain. Masalah rizki Neni dan Nui yakin itu akn Allah kasih, so don’t worry.

    Kalau mama dan mimi mau ikut jalan yg sama dg kita yaitu ikut ayat Allahnya, insya Allah kita akan brkumpul kembali seperti dulu dan semua itu atas petunjuk Allah. Sehubungan dengan ini juga Neni dan Nuni minta supaya mama dan mimi jangan brtanya lagi tentang kita pada Ella dan suaminya ( kakak mereka yg mengajak mereka). Karna yg kita lakukan yang tahu hanya kita, mereka tdk tahu apa2 dan jangan dikait-kaitkan mereka dg kita. Itu yang bisa kita sampaikan supaya mama dan mimi brpikir. Hidup itu ada yg lebih besar lagi dg Quran yang akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban.
    &n bsp; dari Neni & Nuni”

    —-

    Kepada Saudari Neni dan Nuni yang kebetulan membaca tulisan ini ataupun pengikut NII yang masih aktif dan kenal dengan kedua saudari tersebut. Tolong sampaikan untuk direnungkan kembali kepergian Anda berdua dari rumah, apakah hati nurani Anda membenarkan untuk menjalankan Isi Al Qur’an harus memutuskan tapi silaturahim antara Ibu dengan Anak ?

    Saudari Neni dan Nuni, kalau memang NII tersebut sudah menjadi jalan hidup Anda, tentu orang tua sudah ikhlas dan pasrah. Tapi sempatkanlah untuk menengok Ibu yang sedang sakit karena rindu bertemu dengan Anda.

    Sempatkanlah untuk pulang, rangkulkan Ibu Anda yang sudah sangat ingin melihat kedua anak kandungnya …..

    —-

    Kepada pembaca budiman yang mengetahui keberadaannya untuk mengabarkan kepada keluarga di alamat :
    Komplek Perumahan DPR RI Kelapa Dua no 69 Kebon Jeruk Jakarta Barat,
    Telp 0215324795 & HP 081369212163.

     
    • anwar 9:20 pm pada Januari 22, 2012 Permalink | Balas

      ijin share di FB saya….kebetulan saya seangkatan poltek ui dgn Dini

    • eL Faruqy 10:47 am pada Mei 14, 2011 Permalink | Balas

      Gara-gara ulah NII Gadungan jadi rusak dan cacat semua nama NII

    • panji kuswantoro 6:17 pm pada April 29, 2011 Permalink | Balas

      …mohon ijin utk share….terima kasih..

    • icdw 7:33 pm pada April 28, 2011 Permalink | Balas

      bagaimana progres kepolisian? bagaimana isi suratnya?

c
Tulis postingan baru
j
tulisan berikutnya/komentar berikutnya
k
tulisan sebelumnya/komentar sebelumnya
r
reply
e
sunting
o
tampilkan/sembunyikan komentar
t
ke atas
l
masuk ke log
h
show/hide help
shift + esc
cancel
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 40 pengikut lainnya.