Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Bahtiar 2:12 pm on September 1, 2021 Permalink | Balas  

    NII Indramayu Tiarap, Ganti NII Garut Cari Muka 

    T :
    Assalamualaikum, Pak, perkenalkan saya “bunga” korban NII cabang “kabupaten X”. Pak, saya terjaring selama 6 tahun. Saya keluar dari NII. Saya sudah ceritakan semua kepada orangtua. Dan orangtua saya sudah menelepon petinggi NII yg mengaku sbg Bupati Islam Kabupaten X. Bahwa saya tidak diperbolehkan masuk dalam anggota. Mereka tetap dablek Pak… Saya tertekan selama 2 tahun. Alhamdulillah skrg sudah mulai pulih. Namun masih rentan. Mereka masih mengejar saya. Saya harus bagaimana Pak? Saya dapat nomor bapak dari blog. Saya baca kisah kisah NII.
    J :
    Wa’alaikumsalam, Untuk menghindari kejaran NII. Cukup abaikan SMS/WA/Telpon dari mereka. Tetep dekat dan makin berbakti pada orang tua. Bila mereka nekat datang ke rumah, laporkan pada RT/RW. Perbanyak teman dan jangan sering menyendiri.

    T :
    Apakah perlu lapor polisi ?
    J :
    Boleh, nanti kertas bukti lapor nya disimpan dan difotokopi nya ditunjukkan pada pengurus RT/RW. Klo NII tetep nekat bertemu, difoto wajahnya, trus panggil kan RT/RW agar diusir.
    T:
    Terimakasih Pak.

    J:
    NII yang anda ikuti berpusat di mana ?
    T :
    Garut Pak, saat ini sedang berencana membangun pesantren thoriqul Izzah. Materi pembinaan saya baru sampai SPUI. Awalnya saya merasa biasa dgn kalimat NII. Kejanggalan terjadi. Saat saya ta’aruf. 3x proses ta’aruf saya digagalkan oleh pengurus. Ternyata saya ingin dinikahkan dgn petugas ta’aruf tsb. Saya pernah dengar jabatan sbg Bupati Islam Kabupaten X. Mulailah saya mencari informasi tentang NII di internet. Bagaimana agar saya bisa aman, Pak ?
    J :
    Selama bisa jaga jarak, menahan diri untuk TIDAK memberi uang/duit, benda berharga, tenaga, ” kehormatan & kesucian tubuh ” pada pengurus2 yang mengaku NII tsb.
    T :
    Baik Pak, terimakasih.

     
  • Bahtiar 3:57 am on March 24, 2021 Permalink | Balas  

    2021 Lincahnya NII Merekrut Anggota Baru Lewat MedSos 


    Tanya :

    Assalamualaikum Pak Bahtiar,

    mohon maaf pak mengganggu waktu nya, saya dapat nomor bapak dari internet yg banyak menjelaskan tentang korban NII, jadi saya punya kenalan laki” lewat aplikasi pak,

    nah sejak dia chat saya lewat aplikasi itu ngajak kenalan dan dia berkata langsung suka sama saya saat pertama kali lihat saya dan saya juga merasa aneh saat itu, kemudian dia meminta nomor telfon saya tpi saya tidak langsung kasi karna tidak mudah percaya saat pertama kali kenal, nah setelah berteman di Instagram wah ternyata asik nih orang nya paham agama ternyata dan akhirnya tukaran nomor hp karna saya nyaman dia banyak mengajarkan tentang Islam, dan mengajarkan tentang keyakinan dan akhirnya saya banyak berubah jadi lebih rajin ibadah dan meninggalkan hal” yg tidak baik,

    nah saya tidak ada curiga sama sekali tentang dia, saya hanya berfikir dia orang baik, sholeh karna banyak tau tentang Islam dan dia mengaku sebagai orang Madinah, terus saya di bilang orang Mekah karna saya belum hijrah, jadi apakah benar dia termasuk orang NII pak?

    Jawab :

    Waalaaikum salam

    Iya dia NII

    Perkenalan & pernyataan suka hanya modus untuk merekrut Anda masuk ke NII

    Tanya :

    Jadi yg dia katakan Madinah dan Mekah itu hanya tipuan pak?

    Jawab :

    Iya

    Dia menganggap dirinya paling benar dan paling selamat krn sudah masuk NII / Madinah

    Anda dianggap masih sesat krn masih di NKRI / Makkah

    Tanya :

    Iya betul sekali pak
    Dan dia mengajarkan bahwa proklamasi NKRI tidak memakai bismillahirrahmanirrahim artinya tidak diterima sma Allah, sedangkan proklamasi nii memakai bismillahirrahmanirrahim yaitu dengan memakai hukum allah

    Jawab :

    Iya

    Dia menggunakan segala hal untuk menafsirkan NII paling benar / Haq

    Dan menuduh NKRI masih sesat jahiliah / kafir dsb

    Tanya :

    Tapi Alhamdulillah pak saya belum banyak belajar tentang NII, saya hanya fokus belajar Al-Qur’an tentang keyakinan yg dia beritahu ke saya tentang ayat” yg ada di Al-Qur’an tpi yg dia katakan tentang ayat” Al-Qur’an itu benar adanya

    Jawab :

    Iya

    Dia menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menghipnotis, mendoktrin atau mendogma Anda. Anda dibuat tidak bisa membantah

    Tanya :

    Tpi apakah benar mereka semua tau tentang isi Al-Qur’an pak?
    Kenapa dengan begitu mudah nya mereka menjelaskan nya

    Jawab :

    Tidak

    Mereka hanya mengambil ayat-ayat yang menguntungkan ajarannya saja.

    Mereka begitu mudah, karena sering mendoktrin orang lain bukan hanya Anda saja

    Tanya :

    Apakah teman saya tau pak kalau saya sudah mengetahui NII yg sebenarnya
    Karna dia pernah bilng bisa membuka mata batin

    Jawab :

    Bisa saja

    Semakin Anda banyak membaca tulisan-tulisan mantan NII di internet maka Anda akan makin waspada dan hati-hati

    Tanya :

    Saya meminjam kn dia uang 75 ribu pak karna dia berkata belum makan, jadi saya sebagai manusia punya rasa kasihan, jadi ini juga modus yaa pak

    Jawab :

    Iya

    Untuk mengukur kepercayaan Anda pada dia

    Tanya :

    Bagaimana caranya menghindar dari dia pak

    Jawab :

    Pertama : perbanyak membaca kisah-kisah para mantan NII di internet

    Kedua :
    Kalau dia bicara mengutip ayat-ayat Al Qur’an, jangan langsung percaya

    Ketiga :
    Jangan simpan sendiri kejadian ini, cerita kan pada orang tua Anda

    Keempat :
    Jaga jarak, jika dia mulai mengancam Anda

    Tanya :

    Tapi nii beneran itu ada gak sih pak

    Jawab :

    NII

    Hanya kedok
    Gerombolan orang-orang tertentu mengatasnamakan Islam untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti kemauan nya

    Tanya :

    Alhamdulillah terimaksih banyak pak, sangat bersyukur bisa menemukan web bapak, Terimakasih info dan saran nya pak berkat ini saya tidak terjerumus sma orang” nii🙏😇

    Jawab :

    Alhamdulillah
    Sama-sama

     
  • Bahtiar 10:00 pm on November 27, 2020 Permalink | Balas  

    Modus & Pola NII selalu sama 

    begini pak bahtiar, waktu dulu sekitar tahun 20xx saya diajak teman dekat perempuan di kantor tempat saya bekerja untuk ikut ngaji,

    awalnya saya biasa saja karena memang waktu itu saya sedang mencari tempat kajian yang menetap (bukan kajian umum) saya mengikuti setiap kajian yang di adakan, saya juga sudah bai’at kepemimpinan dan janji apa gitu saya lupa dan saya belum menyadari hal itu, juga sampai materi infaq kalo gak salah saya sudah diwajibkan atas infaq 2,5% dari penghasilan saya, sayapun memberikan infaq tersebut lancar dan waktu itu sempat bingung kenapa infaq itu ditagih + minimal memberikan besaran nominal, yang lebih membingungkan waktu saya terlewat infaq di satu bulan ternyata infaq itu ditalangin entah oleh siapa dan dibulan berikutnya saya harus membayar double dengan infaq yang ditalangin tersebut, kemudian gak lama saya memutuskan untuk berhenti mengikuti kajian itu dan ingin terlepas dari kelompok itu..

    setelah lebih dari 1 tahun, beberapa bulan kemarin saya kembali komunikasi dengan salah satu pemateri kalo gak salah dia pejabat daerah, dia mengajak saya ngopi dan berbincang sebentar sampai diajak ngaji lagi dan entah kenapa saya mengiyakan untuk menghadirinya, berjalan beberapa bulan setelahnya sekitar ” tanggal tertentu ” saya mendapat agenda untuk pembinaan di daerah pinggiran kota kecamatan dari hari jumat saya harus ijin kerja sampai hari ahad malam senin saya baru sampai rumah, di agenda tersebut saya mendapat sebuah fakta baru ternyata saya ada di Daulah Islamiyah yang mana materi sejarah yang saya dapat, perjuangan ini melanjutkan daripada perjuangan pak SM Kartosuwiryo, ada beberapa pertanyaan pada satu sesi saat saya diinterogasi oleh 2 pemateri di satu ruangan, salah satunya yaitu apakah ada dari keluarga besar yang menjadi anggota instansi pemerintahan seperti polisi atau TNI, setelah semua peserta selesai sesi interogasi, buku catatan semua peserta diambil dan disobek dihalaman dimana saya menulis tanggal pak SMK memproklamirkan NII & saya ingat betul, setelah itu saya dan peserta lain mengucap baiat TII, semenjak dari pembinaan 3 hari itu dimana saya baru tau kalo ternyata saya ada di NII saya belum menghadiri lagi satupun agenda dan membuat saya bertanya-tanya dan akhirnya saya menemukan website niikw9 bapak

    yang ingin saya tanyakan apakah benar yang saya ikuti ini memiliki benang merah perjuangan Rasulullah Shalallahu’alahi Wasallam ? dan apakah saya tetap harus mengikuti agenda2 nya serta memenuhi kewajiban untuk merekrut teman2 dekat terlebih kedua orang tua juga, dan yang lebih mengejutkan, ternyata kaka perempuan saya satu2nya juga sudah masuk di NII ini ajakan dari teman sekolah dulu, dan sudah menikah setelah ta’aruf dari ikhwan NII juga..

    sebelumnya terimakasih pak sudah menyempatkan waktunya untuk membaca sedikit cerita ini, dan bila ada waktu lebih mohon nasehatnya dari bapak bahtiar, sekali lagi terima kasih banyak pak

    ++++

    Alhamdulillah Saudara, Alloh SWT selalu memberi saudara pola pikir yang kritis dan sistematis. Sehingga tidak gampang menerima begitu saja walaupun sudah sampai tahapan bai’at dan menjadi pengikut NII.

    Izinkan saya menjawab per pokok pikiran, nanti bila ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan kembali.

    Pertama tentang infaq yang ditalangi ?

    Itu jelas tidak ada contoh dari Rasulullaoh Nabi Muhammad Saw. Infaqnya sifat nya tidak mengikat. Disesuaikan dengan kondisi umat / jamaah nya.

    Kedua, apakah benar yang saudara ikuti ini memiliki benang merah perjuangan Rasulullah Shalallahu’alahi Wasallam ?

    Semua kelompok bisa mengatasnamakan Islam dan mengaku paling sesuai perjuangan Rasulullah. Tapi umat wajib kritis terhadap kelompok-kelompok tersebut. Jangan nurut saja atau taqlid buta.

    Ketiga, apakah saudara tetap harus mengikuti agenda2 nya serta memenuhi kewajiban untuk merekrut teman2 dekat terlebih kedua orang tua juga, dan yang lebih mengejutkan, ternyata kaka perempuan saudara satu2nya juga sudah masuk di NII ini ajakan dari teman sekolah dulu, dan sudah menikah setelah ta’aruf dari ikhwan NII juga..???

    Mereka pasti mewajibkan agenda2 tersebut. Bagi mereka, merekrut anggota baru berarti sumber pemasukan dana segar bertambah bagi kelompok mereka. Sebelum mengikuti agenda2 mereka, merekrut teman dekat dan kedua orang tua, sebaiknya pikir kan dulu baik-baik, agar tidak menyesal di kemudian hari. Kakak perempuan saudara bisa jadi salah satu sumber informasi bagi saudara, apakah benar di NII itu sesuai dengan Islam atau malah bertentangan

    .

    Kemudian, nasehat dari saya : Saudara, perbanyak lah membaca dan terus memperbanyak referensi-referensi tentang NII, baik dari buku-buku di perpustakaan, sejarah Indonesia, juga dari tulisan-tulisan mantan NII di internet. Agar tidak menyesal di kemudian waktu

    .

    Oh iya, ada yg terlewat : teman dekat di kantor perempuan yang mengajak ngaji, jelas dia anggota NII aktif.

    Demikian tanggapan saya, bila ada yang ditanyakan lagi, silahkan email lagi. Saya senang bisa berbagi dan membantu.

    Salam,

    BR

     
  • Bahtiar 6:18 am on November 26, 2020 Permalink | Balas  

    PENGALAMANKU DI NII KW9 (update 2020) 

    Ini merupakan tulisan ulang dari tulisan lama :
    https://niikw9.wordpress.com/2009/02/13/pengalamanku-di-nii-kw9/
    karena banyak adik-adik generasi milenial yang terjebak ajaran sesat NII DI TII, ngakunya berjuang atas nama agama Islam, ternyata isinya pemerasan harta, tenaga dan pikiran.

    Awalnya, pada akhir tahun 1994, kira-kira generasi milenial sudah lahir belum yaa di tahun tersebut . . . ?

    Saya selalu didekati kakak angkatan waktu kuliah di UGM beda jurusan, Abdullah Arif, Teknik Sipil UGM angkatan 1992 – akhirnya Drop Out alias D.O. Saya kuliah di Jurusan Teknik Nuklir angkatan 1993. Saya sering bincang-bincang dengan kakak angkatan tersebut karena waktu itu saya sudah cukup percaya dengannya, yang dulu juga kakak kelas saya waktu di SMA, SMA AL Islam 1 Surakarta. Ternyata alumni SMA tersebut banyak juga yang terjebak ajaran NII, baik putra maupun putri. Hal ini saya ketahui dari beberapa pesan WA yang masuk ke HP saya, menanyakan ajaran aneh tersebut, setelah bincang-bincang, ternyata alumni SMA yang sama.

    Kembali pada Dul Arif atau DoeL Kemin, panggilan waktu SMA dulu, pertamanya dia sering mengajak bicara tentang kondisi sosial, agama, dan politik pada masa itu. Kemudian pembicaraan mulai intensif ke masalah agama. Terus menjelaskan agama sebagai suatu sistem, yang dikongkritkan dalam bentuk negara. Menjelaskan dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Waktu saya masih muda sehingga saya nggak berani melakukan bantahan. Saya cuma mengiyakan, walau dalam hati banyak keraguan.

    Tahap berikutnya saya mulai ditemukan temennya. Sang teman namanya Saifullah Qohari asal Kebumen, mahasiswa MIPA Kimia UGM 1988 – akhirnya D.O juga, menanyai tema-tema atau materi-materi yang sama seperti yang telah disampaikan kakak tadi. Bahkan seperti menguji dengan ayat-ayat tentang jihad, berkorban, atau perniagaan. Kemudian diakhiri dengan materi “hijrah”.

    Tahap berikutnya, saya diajak keluar kota Yogyakarta, yaitu ke kota Kebumen, kecamatan Prembun. Di sana, diulang lagi materi-materi di atas kemudian dijelaskan yang di maksud sistem Islam adalah . . . . . NII/DI/TII. Walaupun dalam hati masih ragu-ragu juga, karena sejak awal sepertinya saya dikondisikan untuk tidak dapat mengelak atau mengatakan tidak. Akhirnya saya iyakan apa yang mereka inginkan, yaitu agar saya hijrah dari RI ke NII.

    Beberapa hari setelah itu, saya disuruh hijrah. Yaitu di Kulon Progo, tanggal 24 November 1994. Saya hijrah dengan sodaqoh Rp. 250.000,00. Saya juga diberi nama baru, yaitu : Ja’far Rabbani. Menurut mereka saya resmi masuk menjadi warga Negara Islam Indonesia, propinsi Jawa Bagian Selatan. Sayang sekali saya lupa nama pimpinan-pimpinan yang menghijrahkan dan menyaksikan saya hijrah waktu itu. Yang saya ingat cuman Sugi (Mahasiswa Teknik Kimia UGM 1988 – akhirnya D.O). Sugi ini teman satu SMA Kebumen Saifullah Qohari.

    Setelah itu, saya masuk dalam dunia NII. Saya kaget karena, saya mulai difahamkan bahwa dalam masa perang antara NII dengan RI, tidak perlu melakukan “sholat wajib”. Sholatnya yaa diganti dengan tilawah atau mencari anggota baru. Boleh melakukan fai’ atau mencuri, karena semua harta yang ada di dunia ini diperuntukkan bagi manusia yang sholeh, yaitu warga NII. Boleh melakukan tipu muslihat, atau makar yang dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan NKRI. Karena nota bene itu adalah kehidupan RI, jahiliyah mereka bilang. Saya juga disarankan untuk meninggalkan kuliah, dengan alasan itu didikan thogut.

    Alhamdulillah itu tidak saya ikuti, walaupun senior-senior (mereka menyebut: bapak-bapak) banyak yang udah Drop Out atau DO dari kampusnya masing-masing. Saya juga diwajibkan untuk menyetor infak tiap bulan yang jumlahnya tidak boleh sama atau kurang dari bulan yang lalu. Kalau ini terjadi mereka akan mengacam dengan hadis… “barang siapa yang hari ini sama atau lebih jelek dari kemaren … maka …dst”.

    Selain itu saya juga diwajibkan mencari merekut anggota atau kader-kader baru, dengan jalan mencari kenalan, menemui teman-teman lama, untuk kemudian ditilawah dan ditaftis. Untuk mempermudah pekerjaan ini saya digabungkan dengan anggota lain yang bernama : Nurmansyah Mahasiswa Teknik Kimia UGM 1989, ini akhirnya lulus.

    Setahun hidup dalam suasana batin sebagai warga NII, saya mendapatkan anak (kader) sebanyak tiga orang (1 cowok, 2 cewek). Saya renungi kembali makna hidup saya di NII …. sepertinya saya ini jadi aneh yaa … Saya makin dijauhi temen-temen dekat saya, karena sebagian mereka ada yang menolak saat saya tilawah, kemudian bilang pada teman yang lain, bahwa saya telah “berubah”. Nilai kuliah saya amburadul karena jarang kuliah…. kata senior saya, “nggak apa-apa demi tugas negara”. Hubungan saya dengan orang tua kandung jadi “dingin” karena saya menganggap mereka kafir, tapi hidup saya secara materi masih tergantung pada mereka berdua. Rasa percaya diriku juga makin luntur, hidup rasanya penuh pesimistik, dan lain-lain.

    Pernah saya dibuat terkejut saat diberi materi oleh senior saya tentang pernikahan. Bahwa perjodohan yang telah ditentukan pimpinan harus dilaksanakan, apapun rintangannya termasuk halangan dari orang tua kandung masing-masing. Yang penting pimpinan udah menikahkan, kemudian dihamili, pasti ortu kandung mereka nggak kuasa untuk menolak, Astagfirullah.

    Bulan Oktober 1995 M, saya membaca artikel di Tempo, bahwa ada NII putih, ada pula NII merah. Kata senior saya, bahwa NII saya emang yang merah tapi tetep satu komando dengan yang dipusat (kata mereka pimpinan pusat dipegang Adah Jaelani). Saya yang baru dengar nama Adah Jaelani, yaa nurut aja apa kata mereka ….. Tapi makin lama, kegalauan, kegelisahan, dan kebingungan menyelimuti hidupku di NII. Akhirnya aku mulai mencari-cari cara bagaimana bisa keluar dari kebingungan ini, kalau perlu keluar dari NII. Umat nabi dulu optimis, aku kok pesimis … apanya yang salah yaa : diriku sendiri atau NII ?

    Puncaknya di bulan Desember 1995. Temen satu timku harus pulang ke Semarang (orang tua) karena lulus kuliah, hubunganku dengan senior yang di Jogja juga mulai nggak harmonis, temen-temen NII yang selevel dengan aku juga mulai banyak yang keluar. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1995 kuputuskan keluar dari NII, dengan bilang pada seniorku, yang bernama Abdan Syakuro (atau Saifullah Qohari) lewat telpon bahwa saya sudah keluar, tidak percaya lagi dengan apa yang ia katakan. Amin. Aku juga bilang pada yunior-yuniorku apa yang telah kuputuskan. Anehnya kok mereka juga ikut keluar sama sepertiku …. yang nggak beres itu aku sendiri, yuniorku, seniorku, atau NII ?????

    Setelah keluar, aku kucing-kucingan dengan senior-seniorku, karena mereka mengancam akan membunuku, darah orang murtad itu halal kata mereka. Tapi kalau pas ketemu kok mereka malah yang ngacir nggak karuan … yang salah itu : aku, RI, atau NII ????? Alhamdulillah aku tidak merasa menyesal meninggalkan NII.

    Masa-masa berikutnya kuisi dengan pemulihan baik jasmani yang kurus kering karena dulu kurang gizi (duit habis untuk infak / shodaqoh / tabungan / dll). Juga rohani yang kehilangan rasa percaya diri. Kedua bidang itu berupa, menjalin kembali persahabatan dengan temen-temen lama, rajin kuliah, bakti dengan orang tua, dan lain sebagainya.

    ============

    Update 2009 : Saya dah berkeluarga tinggal di Tangerang kerja di Jakarta, saya terbuka buat temen2 untuk berbagi cerita, silahkan WA di https://wa.me/6281328484289 atau berkirim email di bahtiar@gmail.com

    Update 2020 : kepada teman-teman yang pernah terjebak di NII DI TII, ayo ulurkan tanganmu, ceritakan pengalamanmu, agar adik-adik generasi milenial atau generasi selanjutnya tidak ada lagi yang tertipu ajaran serupa.

     
  • Bahtiar 9:35 am on November 19, 2020 Permalink | Balas  

    NII 2020 


    Malam kak, saya Bunga …

    Saya sedang galau kak, orang tua calon saya ternyata orang NII kak dan syarat untuk bisa nikah sama calon saya itu saya harus taslim (perbaruan syahadat terlebih dahulu)..

    Yang saya sayangkan, kenapa calon saya itu jujurnya pas sudah proses ta’aruf yang terakhir..

    Dan orang tua saya sudah menanyakan terus kapan calon saya ini datang ke rumah ? Padahal calon saya ini nunggu taslim (perbaruan syahadat) dari saya..

    Tapi jujur dari hati yang paling dalam, saya bener2 pengen nolak taslim tapi kok saya sudah sreg sama calon saya dan gak siap kalo liat dia nikah sama orang lain.. Dan 1 sisi hati saya penuh keraguan setiap harinya..

    Saya ini sudah di bina sama anak pemuka NII ini kak atas permintaan calon saya, agar kami cepet nikah.. Dan besuk jum’at itu saya pembinaan lagi.. Tapi dari sayanya sendiri belum mengucapkan taslim (perbaruan syahadat) karna jujur saja saya ngrasa kalo mereka itu seperti mengkafirkan orang yang tidak melakukan taslim (perbaruan syahadat)..

    Terus kira2 saya harus gimana kak ?

    Oh ya kak lupa.. Saya kenal sama calon saya itu lewat perantara ustad saya.. Dan dia tidak menceritakan keadaan dia dan keluarganya bahwa ikut golongan NII.. Jd calon saya cuma cerita ke saya aja pas keluarga saya sudah mensetujui proses ta’aruf ini..

    Mohon fast respon yaa kak, karna besuk jum’at keputusannya..

    ++++

    Selamat pagi, Ananda Bunga, kebetulan sy baca pesannya waktu pagi, salam kenal, Assalaamualaikum . . .

    Orang NII rata-rata seperti itu, tidak jujur dari awal, alasan mereka ber-strategi.

    Ananda harus jujur pada orang tua, agar orang tua tidak terus-menerus menanyakan hal tersebut. Dan agar orang tua tidak menyesal di kemudian hari dan melindungi Ananda dari pengaruh NII

    Lebih baik tunda dulu daripada menyesal di kemudian hari. Ananda berharap banget padanya, tapi dia tidak sepenuhnya pada Ananda. Dari pengalaman, orang-orang NII banyak maunya yang dikemas atau dibungkus “karena Alloh”. Rata-rata orang-orang NII itu parasit. Tangannya selalu di bawah, menengadah, meminta-minta, menyodorkan nomor rekening, minta transfer. Coba diingat-ingat sudah berapa lama kenal atau ta’aruf dg orang NII tersebut ? Lebih banyak meminta, menuntut atau memberi ?

    Sebaiknya tunda dulu, jangan buru-buru, daripada menyesal di kemudian hari. Perbanyak membaca referensi tulisan-tulisan tentang NII. Orang-orang NII ngakunya berbuat atas nama Alloh, tapi ujung-ujungnya pemerasan harta.

    Bisa jadi ustadz yang mengenalkan tersebut adalah dedengkot NII di sekitar tempat tinggal Ananda.

    Baik Ananda, fast respon sudah. Kuncinya jangan cepat-cepat, jangan buru-buru, perbanyak bacaan referensi tulisan tentang NII, jangan terjebak dg cara-cara NII dalam merekrut anggota baru, cerita kan semua nya pada orang tua, agar tidak menyesal di kemudian hari. Alloh adalah pelindung terbaik melalui orang tua pada Ananda.

    Salam 👍👍👍

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal