Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Bahtiar 11:12 am on December 22, 2021 Permalink | Balas  

    Sejarah NII Gadungan Setelah Kartosoewirjo Dieksekusi 

    Pada 1962, setelah eksekusi mati Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, 32 orang eks komandan NII/DI/TII beserta 3.000 orang pengikutnya diberi pengampunan dan nafkah oleh negara. Sebagian dijadikan pegawai di Kodam (khususnya Siliwangi), sebagian dibina berwirausaha.

    Imbalan hidup sejahtera hanya dengan modal tandatangan sumpah setia pada NKRI. Merangkul musuh; sebuah konsep yang bertahan lintas rezim hingga 60 tahun kemudian.

    Pada 1971, tiga ribu manusia beracun eks-NII/DI/TII ini ditawari hidup lebih enak lagi oleh Soeharto; melalui sang tsar intelijen, Komandan Divisi Opsus BAKIN, Kolonel Ali Moertopo.

    Lewat dua orang intel utama Moertopo, Mayor Pitut Suharto (tidak ada hubungan keluarga dengan keluarga Cendana) dan Mayor Aloysius Sugianto, sepertiga dari 32 panglima jihadis itu diberi tugas memimpin ribuan laskarnya dalam misi pemenangan Golkar jelang Pemilu 1971. Yaitu menggembosi suara partai-partai Islam yang menjadi saingan terberat Golkar : Partai Nahdlatul Ulama, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Muslimin Indonesia, dan Partai Islam PERTI.

    Caranya, menyebar diantara umat Islam se-Jawa Barat dan Jawa Timur (Jawa Tengah tidak perlu, sudah otomatis), dan mengajak umat memilih Golkar. Alasannya, ada bahaya besar yang hanya Golkar yang mampu mengatasi; yaitu kebangkitan komunis.

    Narasi yang hingga setengah abad kemudian masih laku keras.

    Sebagai imbalan, ribuan orang ini dibagi-bagi hak distribusi minyak tanah PERTAMINA di seluruh pulau Jawa. Mungkin itu awalnya penjual minyak tanah disebut “agen”.

    Dua nama yang paling menonjol diantara agen-agen itu adalah H. Ismail Pranoto alias Hispran, beroperasi di Jatim; dan Danu Muhammad Hasan di Jabar. Keduanya sudah lama menjadi binaan Pitut dan Aloysius. Danu bahkan sudah menjadi informan Aloysius sedjak 1955, sejak masih menjadi tangan kanan Kartosoewirjo; sekaligus pengkhianat terbesarnya.

    Pada misi pemenangan Golkar itu, Hispran ditempatkan sebagai ketua GUPPI – Gabungan Usaha-usaha Pembaruan Pendidikan Islam, ormas onderbouw Golkar yang kelak pasca reformasi melebur ke dalam onderbouw Golkar yang lain, Kowani – Kongres Wanita Indonesia.
    Sebagai tambahan, beragam ormas lain juga diciptakan maupun diinfiltrasi untuk pemenangan Golkar; diantaranya Korpri, PGRI, LBH, PWI, KNPI, HKTI, dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).

    Hispran kelak divonis penjara seumur hidup pada 1978. Adapun Danu kelak divonis 10 tahun penjara, tapi di hari kebebasannya ia tewas 10 jam setelah keluar sel. Sebuah kebetulan yang puitis. Penyebab kematiannya tidak pernah diketahui. Pada sidang pengadilannya di 1984, Danu mengaku sebagai “pembantu BAKIN”, bahkan mengaku kuliah anaknya di Madinah dibiayai oleh Ali Moertopo. Anaknya itu bernama Hilmi Aminuddin, pendiri Partai Keadilan, cikal-bakal PKS.

    Selepas memenangkan Golkar di Pemilu 1971, para agen ini bebas tugas; dengan masih memegang hak distribusi minyak tanah seumur hidup. Kecuali Danu yang bangkrut; ia dijadikan pegawai BAKIN, diberi rumah dan mobil dinas.

    Ini awal strategi Tebar-Pancing-Jaring, andalan Suharto untuk mengelola bahaya laten Islam. Pemenangan Golkar hanya tujuan jangka pendek. Jangka panjangnya adalah pembusukan citra Islam di mata rakyat, sehingga menyumbat potensi Islam sebagai kekuatan baru pengganti komunis.

    Pada 1973, partai-partai Islam yang sudah takluk itu lalu dipasung; dengan kebijakan 3 partai. Semua partai Islam dilebur ke dalam PPP. Sisanya, termasuk partai-partai agama selain Islam, dibuang ke PDI. Jalan tol sudah terbuka bagi kemenangan Golkar di Pemilu 1977 kelak. Para eks-NII sudah tidak dibutuhkan lagi, tinggal menunggu mereka membesar untuk dijaring.

    Pada 1975, di Jalan Mahoni, Tanjung Priok, Danu Muhammad Hasan cs mengadakan pertemuan antar perwakilan eks-NII di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Mereka menyepakati berdirinya kembali Daarul Islam. Pimpinan tertinggi diserahkan kepada Tengku Daud Beureuh di Aceh. Gaos Taufik di Sumut menjadi komandan militer utama. Ale A.T. dari Sulsel memegang hubungan luar negeri. Adah Djaelani, Aceng Kurnia, dan Dodo Mohamad Darda alias Abu Darda (anak S.M. Kartosoewirjo) bersama-sama menjabat Mendagri. Danu menjabat komandan militer Jawa Barat.

    Tahun berikutnya, 1976, Gaos Taufik mengadakan rapat di Sukabumi. Di situ dirancang bendera Darul Islam : bendera hitam bergambar sebilah pedang yang di bawahnya bertuliskan kalimat “Laa ilaaha illallah” dalam huruf Arab. Setelah rapat itu Gaos membentuk pasukan khusus. Hasil rekrutannya diantaranya Agus Sulaeman Lubis dan Timsar Zubil dari Padang, serta Abdullah Umar dari Larantuka, Flores.

    Dari sinilah istilah Komando Jihad (selanjutnya disingkat KOMJI) pertama muncul. Istilah ini digunakan oleh Opsus dan BAKIN untuk menyebut kelompok Darul Islam versi Pertemuan Mahoni. Kelak, sisa-sisa kombatan yang diwawancarai berbagai pihak mengaku tidak pernah menggunakan nama itu, dan menyebutnya istilah yang dipakai pemerintah yaitu Komji.

    Mulai 1976 hingga 1979, serentetan aksi teror bom, perampokan, dan pembunuhan dilancarkan di Sumut, Sumsel, Sumbar, Lampung, hingga berakhir di Jabar.

    Aksi pertama DI/Komji adalah teror granat di ajang MTQ, Pematang Siantar, Mei 1976. Disusul bom di RS Baptis Immanuel, Bukittinggi, Sumbar, Oktober 1976, bersamaan dengan bom di Masjid Nurul Iman,Padang. Disusul kemudian dengan rangkaian serangan bom di Medan, menyasar Bar Apollo, bioskop Riang, dan gereja Metodis.

    Setelah aksi Medan, Gaos dan Timsar diringkus; namun Abdullah Umar lolos. Dalam sidang pengadilan Timsar pada 1978, ada keterangan saksi menyatakan Timsar pernah ikut les merakit bom bersama 10 orang rekan di Jakarta; di Jl. Kalibaru, Tanjung Priok. Pemilik rumah tempat les itu bernama Jabir, eks-DI asal Sulsel, menantu Aceng Kurnia.

    Timsar Zubil divonis mati pada 1979, tapi diubah jadi hukuman seumur hidup, dan dibebaskan pada 1999.

    Pada 2001 ia diwawancarai oleh Majalah Darul Islam, yang hasilnya dimuat pada edisi Januari-Februari 2001. Di situ ia mengaku dalam rangkaian aksinya di Sumatra memakai granat sisa pemberontakan PRRI 1958.

    Abdullah Umar sempat melarikan diri ke Flores, namun pada 1977 kembali ke pulau Jawa. Ia ditampung oleh Abubakar Ba’asyir di Ponpes Ngruki, sebagai sesama alumni Gontor.

    Di Lampung, aksi DI/Komji pada 1977 dilancarkan oleh kombatan bernama Abdul Qadir Baraja. Ia memimpin serangan ke pos polisi untuk merebut senjata. Ia akhirnya ditangkap dan dipenjara di Lampung, namun berhasil memimpin pemberontakan di dalam penjara; yang meloloskan semua napi.

    Baraja baru tertangkap lagi setelah ia terlibat pengeboman Candi Borobudur pada 1985, dipenjara lagi, dan bebas pada tahun 2000. Begitu bebas, ia mengadakan Muktamar Khilafatul Muslimin di Jogjakarta ; yang diklaim meneguhkan dirinya sebagai Khalifah dan Amirul Mukminin umat Islam sedunia.

    Ormas Khilafatul Muslimin masih berdiri hingga detik ini, berkantor pusat di Lampung; bahkan sudah mempunyai cabang di beberapa provinsi; dengan klaim mempunyai 3.000 anggota. Khilmin mengaku mengusung “Khilafah Ramah”, dan merangkul semua agama. Benderanya berwarna hijau, bertuliskan “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan Selain Allah) dalam huruf Arab.

    Pada akhir 2019, “Abdul Qadir Hasan Baraja” diwawancarai oleh Gatra; setelah namanya mencuat karena menyerahkan salah satu anggota Khilmin ke polisi 3 hari setelah insiden penikaman Menkopolhukam Wiranto (sekarang sudah mantan). Kepada Gatra, Baraja sesumbar bahwa berkat kerjasamanya dengan kepolisian itulah maka ormasnya tidak ikut dibubarkan bersama hizb ut-tahrir, padahal nama ormasnya terang-terangan memuat kata Khilafah.

    Saat di Lampung, Baraja membina seorang kombatan bernama Asep Warman, asal Garut. Warman disebut telah melakukan 16 aksi serangan merebut senjata polisi di sekujur Sumsel. Setelah penangkapan Gaos Taufik di Medan, Warman kabur ke Jakarta pada 1978. Di Jakarta, bersama pelarian DI/Komji Lampung lainnya, ia ditampung di Pesantren Missi Islam di Tanjung Priok.

    Januari 1979, Warman bergabung dengan Abdullah Umar. Ia memimpin laskar DI/Komji Jabar dalam serangkaian aksi perampokan dan pembunuhan; yang dikenal dengan “Teror Warman”.

    Sasaran aksinya kebanyakan Perguruan Tinggi, menjarah uang kas dan membunuh civitas akademika yang dianggap sebagai pembocor informasi ke polisi yang berujung penangkapan Abubakar Ba’asyir, Abdullah Sungkar, dan Abdul Qadir Baraja. Korban Warman diantaranya IAIN Jogja dan IKIP Malang.

    Warman dan Abdullah Umar ditangkap pada April 1979, tapi Warman kabur. Ia melanjutkan aksinya hingga dua tahun berikutnya. Pada 1981 ia dikepung aparat ABRI dan tertembak mati di Soreang Kolot, Bandung.

    Di tahun yang sama, ada insiden pembajakan pesawat GI DC-9 Woyla di bandara Don Muang, Bangkok, Thailand. Pelakunya “Jamaah Imran”, kelompok pimpinan Imran bin Muhammad Zein, yang sejak 1980 melancarkan serangkaian aksi pembunuhan anggota polisi dan perampasan senjata di Cimahi dan Bandung.

    Kelompok ini sebenarnya tidak punya catatan afiliasi dengan DI/Komji. Setelah aksi terakhirnya, penyerangan pos polisi di Cisendo, Bandung, beberapa anak buah Imran diringkus.

    Pembajakan Woyla terjadi 2 minggu kemudian. Para pelaku menuntut 1,5 juta dollar dan pembebasan “80 orang teman”. Dari tuntutan ini barulah bisa ditarik hubungan dengan DI/Komji, sebab diantara yang dituntut pembebasannya ada nama Hispran, Abdullah Sungkar, Timsar Zubil, dan anggota kelompok Warman. Imran bin Muhammad Zein diringkus bersama beberapa anggotanya, dan semuanya dihukum mati pada 1983.

    Pasca reformasi, dua mantan punggawa Orba beda lini, Adnan Buyung Nasution dan Kivlan Zein, sama-sama menuding pembajakan Woyla rekayasa intelijen Orba. Tudingan itu ditulis keduanya di buku masing-masing, yang dirilis di tahun yang sama, 2004. Adnan dkk. menulis “Pergulatan Tanpa Henti Volume 3”, Kivlan menulis “Konflik dan Integrasi AD”. Kivlan lebih spesifik menuduh L.B. Moerdani sengaja menggalang ekstrimis Islam untuk membajak Woyla. Tudingan ini dibantah Jenderal M. Jusuf, mantan Pangab yang digantikan Moerdani; menurut Julius Pour penulis biografi Moerdani “Tragedi Seorang Loyalis” (2007). Sayangnya Julius tidak mengurai dengan jelas latar waktu, tempat, dan konteks bantahan M. Jusuf itu.

    Kembali ke DI/Komji. Setelah kematian Asep Warman pada 1981, aksinya diteruskan oleh Abdullah Sungkar, menggunakan tenaga preman yang direkrut dari Condet, Jakarta.

    Dari sini DI/Komji mendekati akhir riwayatnya. Setahun sebelumnya Daud Beureuh diciduk ABRI di Aceh, dan ditahan di Jakarta; sehingga berimbas krisis kepemimpinan DI.

    Laskar preman rekrutan Sungkar pun kelak terbantai dalam Ops Petrus, Penembak Misterius; bersama-sama dengan ribuan preman lain yang habis manis sepah dibuang Opsus.

    Menjelang Pemilu 1982, preman menjadi opsi yang tersisa untuk dipakai menggembosi lawan Golkar, setelah Suharto kehabisan stok jihadis. Prestasi terbesar “komando preman” ini pada saat memprovokasi kerusuhan pada kampanye PPP di Lapangan Banteng, Jakarta. Mereka direkrut melalui yayasan-yayasan pembina residivis yang cukup banyak bertebaran; salah satunya Yayasan Fajar Menyingsing pimpinan Bathi Mulyono, yang dilindungi oleh Gubernur Jateng Supardjo Rustam.

    Selepas Pemilu 1982, mereka dikejar dan dibasmi. Bathi sendiri hampir ikut terbunuh selama ops Petrus. Sejak 1983 ia sembunyi di Gunung Lawu, dan baru kembali pada 1985.

    Peristiwa Tanjung Priok 1984, jelas terkait dengan designasi wilayah Tanjung Priok sebagai sentra budidaya ternak DI/Komji.
    Dalam peristiwa ini sekitar 400 orang demonstran (versi LSM Sontak) tewas oleh peluru tajam dan digilas truk. Demonstrasi dipicu oleh penangkapan warga Tanjung Priok yang membakar sepeda motor milik seorang Babinsa, gara-gara bintara tersebut menyiramkan air comberan ke papan pengumuman Musholla dengan alasan di situ ada tulisan “Suharto germo Kramattunggak”.

    Pangdam Jaya waktu itu, Try Sutrisno, terselamatkan karirnya dari stigma pembantai umat Islam, berkat kedatangan mendadak Pangab L.B. Moerdani di lokasi – atas perintah langsung Suharto, sehingga Moerdani lah yang harus menyandang gelar “musuh Islam”, bahkan hingga kini.

    Di mata korban-korban Ali Moertopo, Moerdani toh sosok yang paling sesuai untuk stempel itu; sebagai binaan dan penerus Ali.

    Pun peristiwa Talangsari 1989, pemberantasan Jamaah Mujahidin Fisabilillah di desa Talangsari III, Lampung; tidak bisa dipisahkan dengan posisi Lampung sebagai basis terkuat DI/Komji di pulau Sumatera. Operasi jaring itu menghasilkan 130 mayat, menurut rilis Komnas HAM pada 2008.

    Cacat permanen citra Islam di Indonesia sudah menghasilkan kemenangan beruntun Golkar di Pemilu 1971, 1977, 1982, dan 1987. Lalu dituntaskan dengan apik oleh aksi kepahlawanan Orba yang sukses memberantas para jihadis, beserta benih-benih latennya; persis nasib simpatisan PKI.

    Saat muslim yang tersisa tinggal golongan moderat, maka sudah saatnya bagi Suharto menghentikan perangnya terhadap Islam. Pada 1991 ia naik haji, mendapat tambahan nama dari Kerajaan Saudi menjadi Muhammad Suharto. Pemilu 1992 pun kembali dimenangkan Golkar.

    Kelak oleh sebagian kalangan, H.M. Suharto dikenang sebagai Pahlawan Nasional Pembela Islam; khususnya oleh anak-anak kelahiran 1997 yang sekarang sudah tumbuh jenggot syar’i dengan washilah ulekan kemiri.

    Pada fase gerakan Reformasi 1998, ada bukti konkret bahwa Komji tidak diberantas habis. Kivlan Zein, tangan kanan Pangkostrad Prabowo Subianto saat itu, mengaku membentuk milisia bersajam yang dinamai Pam Swakarsa (Pengamanan Masyarakat Swakarsa) atas perintah Pangab/Menhankam Wiranto. Tugasnya menghadang aksi mahasiswa.

    Komposisinya dari kumpulan ormas pemuda Islam pro-Orba, diantaranya FPI, Brigade Hizbullah dan Furkon.

    Pada Oktober 1998, saat menghadang massa mahasiswa di Cawang, laskar pemakai jimat ilmu kebal ini hampir dibasmi ratusan warga Jakarta yang melindungi mahasiswa. Mereka tunggang langgang, kehilangan 5 orang personil yang mati dimutilasi warga.

    Akhir 2019, 11 tahun kemudian, Kivlan menuntut Wiranto ke pengadilan, minta ganti rugi 1 Trilyun atas jerih payahnya beternak Pam swakarsa. Menurutnya Wiranto saat itu cuma memberi 400 juta, sementara biaya pakan ternak membengkak hingga 8 Milyar, yang harus ditombokinya dengan menjual harta pribadi.

    Untuk penghadangan mahasiswa yang berbuah peristiwa Tragedi Semanggi itu, ia mengaku mendatangkan 30.000 ekor laskar takut mati dari Banten, Tangerang, Depok, Cianjur, Bekasi, Kerawang, Purwakarta, Bandung, Tasikmalaya, Lampung, dan Makassar.

    Sepelengser Soeharto pada 1998, model budidaya ternak jihadis ini tetap santer dari rezim ke rezim; walaupun tidak dijalankan oleh rezim. Selepas reformasi, ternak jihadis menjadi kumpulan freelancer yang menclok loncat sana loncat sini dari satu majikan ke majikan lain; dan terkesan sayang diberantas tuntas karena terlalu bermanfaat bagi elit tertentu.

    Abubakar Ba’asyir pendiri Jama’ah Islamiyah, sebagai mata rantai terakhir DI/Komji yang masih hidup di era reformasi, juga menjadi bukti bertahannya kumpulan ini. Aksi-aksi teror dalam 20 tahun terakhir, apapun merek knockoff yang diusung pelakunya, entah JAT, JAD, dan lain-lain, sejatinya tidak bisa dipisahkan dari JI. Sedangkan JI tidak bisa dipisahkan dari DI/Komji.

    Sosok Rizieq Shihab yang pernah satu sel dengan Abubakar Ba’asyir pun tidak bisa dipisahkan dari fenomena budidaya ternak jihadis. Ormas FPI yang didirikannya pada Agustus 1998, terlalu dekat jaraknya dengan pembentukan Pam Swakarsa untuk dianggap kebetulan. Rizieq saat ini sedang dalam tahanan karena beberapa kasus.

    Pola-pola Komji bentukan Opsus yang dibiarkan berulang setelah tumbangnya Orba ini menyuburkan dugaan masih lestarinya Komji hingga kini, walaupun di tangan peternak yang berbeda. Terduga peternak pun tidak mesti dari sisi pemerintah; bisa juga dari sisi musuh-musuh rezim tertentu – baik luar maupun dalam selimut.

    Dalam rezim terkini misalnya, pemerintahan Joko Widodo, hanya di periode pertama saja (2014-2019), ada lonjakan yang Extraordinary pada angka kejadian aksi teror : total 341 kejadian.

    Angka ini hampir 10 kali lipat dari total jenderal di 2 periode rezim sebelumnya (SBY 2004-2014), yang hanya mengalami 36 aksi.

    Dari gamblangnya eksistensi oknum elit yang terkait langsung budidaya ternak Komji, misalnya Kivlan Zein, mestinya tidak sulit mengurai siapa saja dan kalangan mana saja yang terlibat. Sayangnya negara kita tidak sekuat itu.

    Hanya tertinggal satu kata : Jasmerah.
    “Jangan sekali kali melupakan sejarah”

    Man laisa lahu tarikh, laisa lahu dzakiroh.

    Wallahul muwafiq ilaa aqwamith thoriq,
    Wassalamu’alaikum wr. wb.
    .
    Sumber-sumber :
    —————————-
    1. “Daur Ulang Militan Indonesia : Darul Islam dan Bom Kedutaan Australia”, Asia Report No. 92, International Crisis Group, 2005.

    2. “Gerakan Intelijen pada Kasus Terorisme di Indonesia sejak Komando Jihad sampai ISIS Indonesia”, Indra M. Permana & Fadzli Adam, Proceedings of the International Conference on Islamic Civilization and Technology Management, Nov. 2019.

    3. “Nasib Tragis Anggota PAM Swakarsa”, Suara Independen, edisi 3/IV/November 1998.

    4. “Petrus : Kisah Gelap Orba”, Historia[dot]id.

    5. “Rahasia-rahasia Ali Moertopo”, edisi khusus Tempo, 14-20 Oktober 2013.

    6. Pengetahuan umum.

     
  • Bahtiar 2:12 pm on September 1, 2021 Permalink | Balas  

    NII Indramayu Tiarap, Ganti NII Garut Cari Muka 

    T :
    Assalamualaikum, Pak, perkenalkan saya “bunga” korban NII cabang “kabupaten X”. Pak, saya terjaring selama 6 tahun. Saya keluar dari NII. Saya sudah ceritakan semua kepada orangtua. Dan orangtua saya sudah menelepon petinggi NII yg mengaku sbg Bupati Islam Kabupaten X. Bahwa saya tidak diperbolehkan masuk dalam anggota. Mereka tetap dablek Pak… Saya tertekan selama 2 tahun. Alhamdulillah skrg sudah mulai pulih. Namun masih rentan. Mereka masih mengejar saya. Saya harus bagaimana Pak? Saya dapat nomor bapak dari blog. Saya baca kisah kisah NII.
    J :
    Wa’alaikumsalam, Untuk menghindari kejaran NII. Cukup abaikan SMS/WA/Telpon dari mereka. Tetep dekat dan makin berbakti pada orang tua. Bila mereka nekat datang ke rumah, laporkan pada RT/RW. Perbanyak teman dan jangan sering menyendiri.

    T :
    Apakah perlu lapor polisi ?
    J :
    Boleh, nanti kertas bukti lapor nya disimpan dan difotokopi nya ditunjukkan pada pengurus RT/RW. Klo NII tetep nekat bertemu, difoto wajahnya, trus panggil kan RT/RW agar diusir.
    T:
    Terimakasih Pak.

    J:
    NII yang anda ikuti berpusat di mana ?
    T :
    Garut Pak, saat ini sedang berencana membangun pesantren thoriqul Izzah. Materi pembinaan saya baru sampai SPUI. Awalnya saya merasa biasa dgn kalimat NII. Kejanggalan terjadi. Saat saya ta’aruf. 3x proses ta’aruf saya digagalkan oleh pengurus. Ternyata saya ingin dinikahkan dgn petugas ta’aruf tsb. Saya pernah dengar jabatan sbg Bupati Islam Kabupaten X. Mulailah saya mencari informasi tentang NII di internet. Bagaimana agar saya bisa aman, Pak ?
    J :
    Selama bisa jaga jarak, menahan diri untuk TIDAK memberi uang/duit, benda berharga, tenaga, ” kehormatan & kesucian tubuh ” pada pengurus2 yang mengaku NII tsb.
    T :
    Baik Pak, terimakasih.

     
    • gocateringtool 6:18 pm on September 1, 2021 Permalink | Balas

      Mendingan nulis yang bermanfaat, berita seperti ini sudah basi dan tidak laku lagi, masyarakat semakin pandai membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, jaga persatuan dan teruskan pembangunan

  • Bahtiar 3:57 am on March 24, 2021 Permalink | Balas  

    2021 Lincahnya NII Merekrut Anggota Baru Lewat MedSos 


    Tanya :

    Assalamualaikum Pak Bahtiar,

    mohon maaf pak mengganggu waktu nya, saya dapat nomor bapak dari internet yg banyak menjelaskan tentang korban NII, jadi saya punya kenalan laki” lewat aplikasi pak,

    nah sejak dia chat saya lewat aplikasi itu ngajak kenalan dan dia berkata langsung suka sama saya saat pertama kali lihat saya dan saya juga merasa aneh saat itu, kemudian dia meminta nomor telfon saya tpi saya tidak langsung kasi karna tidak mudah percaya saat pertama kali kenal, nah setelah berteman di Instagram wah ternyata asik nih orang nya paham agama ternyata dan akhirnya tukaran nomor hp karna saya nyaman dia banyak mengajarkan tentang Islam, dan mengajarkan tentang keyakinan dan akhirnya saya banyak berubah jadi lebih rajin ibadah dan meninggalkan hal” yg tidak baik,

    nah saya tidak ada curiga sama sekali tentang dia, saya hanya berfikir dia orang baik, sholeh karna banyak tau tentang Islam dan dia mengaku sebagai orang Madinah, terus saya di bilang orang Mekah karna saya belum hijrah, jadi apakah benar dia termasuk orang NII pak?

    Jawab :

    Waalaaikum salam

    Iya dia NII

    Perkenalan & pernyataan suka hanya modus untuk merekrut Anda masuk ke NII

    Tanya :

    Jadi yg dia katakan Madinah dan Mekah itu hanya tipuan pak?

    Jawab :

    Iya

    Dia menganggap dirinya paling benar dan paling selamat krn sudah masuk NII / Madinah

    Anda dianggap masih sesat krn masih di NKRI / Makkah

    Tanya :

    Iya betul sekali pak
    Dan dia mengajarkan bahwa proklamasi NKRI tidak memakai bismillahirrahmanirrahim artinya tidak diterima sma Allah, sedangkan proklamasi nii memakai bismillahirrahmanirrahim yaitu dengan memakai hukum allah

    Jawab :

    Iya

    Dia menggunakan segala hal untuk menafsirkan NII paling benar / Haq

    Dan menuduh NKRI masih sesat jahiliah / kafir dsb

    Tanya :

    Tapi Alhamdulillah pak saya belum banyak belajar tentang NII, saya hanya fokus belajar Al-Qur’an tentang keyakinan yg dia beritahu ke saya tentang ayat” yg ada di Al-Qur’an tpi yg dia katakan tentang ayat” Al-Qur’an itu benar adanya

    Jawab :

    Iya

    Dia menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menghipnotis, mendoktrin atau mendogma Anda. Anda dibuat tidak bisa membantah

    Tanya :

    Tpi apakah benar mereka semua tau tentang isi Al-Qur’an pak?
    Kenapa dengan begitu mudah nya mereka menjelaskan nya

    Jawab :

    Tidak

    Mereka hanya mengambil ayat-ayat yang menguntungkan ajarannya saja.

    Mereka begitu mudah, karena sering mendoktrin orang lain bukan hanya Anda saja

    Tanya :

    Apakah teman saya tau pak kalau saya sudah mengetahui NII yg sebenarnya
    Karna dia pernah bilng bisa membuka mata batin

    Jawab :

    Bisa saja

    Semakin Anda banyak membaca tulisan-tulisan mantan NII di internet maka Anda akan makin waspada dan hati-hati

    Tanya :

    Saya meminjam kn dia uang 75 ribu pak karna dia berkata belum makan, jadi saya sebagai manusia punya rasa kasihan, jadi ini juga modus yaa pak

    Jawab :

    Iya

    Untuk mengukur kepercayaan Anda pada dia

    Tanya :

    Bagaimana caranya menghindar dari dia pak

    Jawab :

    Pertama : perbanyak membaca kisah-kisah para mantan NII di internet

    Kedua :
    Kalau dia bicara mengutip ayat-ayat Al Qur’an, jangan langsung percaya

    Ketiga :
    Jangan simpan sendiri kejadian ini, cerita kan pada orang tua Anda

    Keempat :
    Jaga jarak, jika dia mulai mengancam Anda

    Tanya :

    Tapi nii beneran itu ada gak sih pak

    Jawab :

    NII

    Hanya kedok
    Gerombolan orang-orang tertentu mengatasnamakan Islam untuk mempengaruhi orang lain agar mengikuti kemauan nya

    Tanya :

    Alhamdulillah terimaksih banyak pak, sangat bersyukur bisa menemukan web bapak, Terimakasih info dan saran nya pak berkat ini saya tidak terjerumus sma orang” nii🙏😇

    Jawab :

    Alhamdulillah
    Sama-sama

     
  • Bahtiar 10:00 pm on November 27, 2020 Permalink | Balas  

    Modus & Pola NII selalu sama 

    begini pak bahtiar, waktu dulu sekitar tahun 20xx saya diajak teman dekat perempuan di kantor tempat saya bekerja untuk ikut ngaji,

    awalnya saya biasa saja karena memang waktu itu saya sedang mencari tempat kajian yang menetap (bukan kajian umum) saya mengikuti setiap kajian yang di adakan, saya juga sudah bai’at kepemimpinan dan janji apa gitu saya lupa dan saya belum menyadari hal itu, juga sampai materi infaq kalo gak salah saya sudah diwajibkan atas infaq 2,5% dari penghasilan saya, sayapun memberikan infaq tersebut lancar dan waktu itu sempat bingung kenapa infaq itu ditagih + minimal memberikan besaran nominal, yang lebih membingungkan waktu saya terlewat infaq di satu bulan ternyata infaq itu ditalangin entah oleh siapa dan dibulan berikutnya saya harus membayar double dengan infaq yang ditalangin tersebut, kemudian gak lama saya memutuskan untuk berhenti mengikuti kajian itu dan ingin terlepas dari kelompok itu..

    setelah lebih dari 1 tahun, beberapa bulan kemarin saya kembali komunikasi dengan salah satu pemateri kalo gak salah dia pejabat daerah, dia mengajak saya ngopi dan berbincang sebentar sampai diajak ngaji lagi dan entah kenapa saya mengiyakan untuk menghadirinya, berjalan beberapa bulan setelahnya sekitar ” tanggal tertentu ” saya mendapat agenda untuk pembinaan di daerah pinggiran kota kecamatan dari hari jumat saya harus ijin kerja sampai hari ahad malam senin saya baru sampai rumah, di agenda tersebut saya mendapat sebuah fakta baru ternyata saya ada di Daulah Islamiyah yang mana materi sejarah yang saya dapat, perjuangan ini melanjutkan daripada perjuangan pak SM Kartosuwiryo, ada beberapa pertanyaan pada satu sesi saat saya diinterogasi oleh 2 pemateri di satu ruangan, salah satunya yaitu apakah ada dari keluarga besar yang menjadi anggota instansi pemerintahan seperti polisi atau TNI, setelah semua peserta selesai sesi interogasi, buku catatan semua peserta diambil dan disobek dihalaman dimana saya menulis tanggal pak SMK memproklamirkan NII & saya ingat betul, setelah itu saya dan peserta lain mengucap baiat TII, semenjak dari pembinaan 3 hari itu dimana saya baru tau kalo ternyata saya ada di NII saya belum menghadiri lagi satupun agenda dan membuat saya bertanya-tanya dan akhirnya saya menemukan website niikw9 bapak

    yang ingin saya tanyakan apakah benar yang saya ikuti ini memiliki benang merah perjuangan Rasulullah Shalallahu’alahi Wasallam ? dan apakah saya tetap harus mengikuti agenda2 nya serta memenuhi kewajiban untuk merekrut teman2 dekat terlebih kedua orang tua juga, dan yang lebih mengejutkan, ternyata kaka perempuan saya satu2nya juga sudah masuk di NII ini ajakan dari teman sekolah dulu, dan sudah menikah setelah ta’aruf dari ikhwan NII juga..

    sebelumnya terimakasih pak sudah menyempatkan waktunya untuk membaca sedikit cerita ini, dan bila ada waktu lebih mohon nasehatnya dari bapak bahtiar, sekali lagi terima kasih banyak pak

    ++++

    Alhamdulillah Saudara, Alloh SWT selalu memberi saudara pola pikir yang kritis dan sistematis. Sehingga tidak gampang menerima begitu saja walaupun sudah sampai tahapan bai’at dan menjadi pengikut NII.

    Izinkan saya menjawab per pokok pikiran, nanti bila ada yang kurang jelas silahkan ditanyakan kembali.

    Pertama tentang infaq yang ditalangi ?

    Itu jelas tidak ada contoh dari Rasulullaoh Nabi Muhammad Saw. Infaqnya sifat nya tidak mengikat. Disesuaikan dengan kondisi umat / jamaah nya.

    Kedua, apakah benar yang saudara ikuti ini memiliki benang merah perjuangan Rasulullah Shalallahu’alahi Wasallam ?

    Semua kelompok bisa mengatasnamakan Islam dan mengaku paling sesuai perjuangan Rasulullah. Tapi umat wajib kritis terhadap kelompok-kelompok tersebut. Jangan nurut saja atau taqlid buta.

    Ketiga, apakah saudara tetap harus mengikuti agenda2 nya serta memenuhi kewajiban untuk merekrut teman2 dekat terlebih kedua orang tua juga, dan yang lebih mengejutkan, ternyata kaka perempuan saudara satu2nya juga sudah masuk di NII ini ajakan dari teman sekolah dulu, dan sudah menikah setelah ta’aruf dari ikhwan NII juga..???

    Mereka pasti mewajibkan agenda2 tersebut. Bagi mereka, merekrut anggota baru berarti sumber pemasukan dana segar bertambah bagi kelompok mereka. Sebelum mengikuti agenda2 mereka, merekrut teman dekat dan kedua orang tua, sebaiknya pikir kan dulu baik-baik, agar tidak menyesal di kemudian hari. Kakak perempuan saudara bisa jadi salah satu sumber informasi bagi saudara, apakah benar di NII itu sesuai dengan Islam atau malah bertentangan

    .

    Kemudian, nasehat dari saya : Saudara, perbanyak lah membaca dan terus memperbanyak referensi-referensi tentang NII, baik dari buku-buku di perpustakaan, sejarah Indonesia, juga dari tulisan-tulisan mantan NII di internet. Agar tidak menyesal di kemudian waktu

    .

    Oh iya, ada yg terlewat : teman dekat di kantor perempuan yang mengajak ngaji, jelas dia anggota NII aktif.

    Demikian tanggapan saya, bila ada yang ditanyakan lagi, silahkan email lagi. Saya senang bisa berbagi dan membantu.

    Salam,

    BR

     
  • Bahtiar 6:18 am on November 26, 2020 Permalink | Balas  

    PENGALAMANKU DI NII KW9 (update 2020) 

    Ini merupakan tulisan ulang dari tulisan lama :
    https://niikw9.wordpress.com/2009/02/13/pengalamanku-di-nii-kw9/
    karena banyak adik-adik generasi milenial yang terjebak ajaran sesat NII DI TII, ngakunya berjuang atas nama agama Islam, ternyata isinya pemerasan harta, tenaga dan pikiran.

    Awalnya, pada akhir tahun 1994, kira-kira generasi milenial sudah lahir belum yaa di tahun tersebut . . . ?

    Saya selalu didekati kakak angkatan waktu kuliah di UGM beda jurusan, Abdullah Arif, Teknik Sipil UGM angkatan 1992 – akhirnya Drop Out alias D.O. Saya kuliah di Jurusan Teknik Nuklir angkatan 1993. Saya sering bincang-bincang dengan kakak angkatan tersebut karena waktu itu saya sudah cukup percaya dengannya, yang dulu juga kakak kelas saya waktu di SMA, SMA AL Islam 1 Surakarta. Ternyata alumni SMA tersebut banyak juga yang terjebak ajaran NII, baik putra maupun putri. Hal ini saya ketahui dari beberapa pesan WA yang masuk ke HP saya, menanyakan ajaran aneh tersebut, setelah bincang-bincang, ternyata alumni SMA yang sama.

    Kembali pada Dul Arif atau DoeL Kemin, panggilan waktu SMA dulu, pertamanya dia sering mengajak bicara tentang kondisi sosial, agama, dan politik pada masa itu. Kemudian pembicaraan mulai intensif ke masalah agama. Terus menjelaskan agama sebagai suatu sistem, yang dikongkritkan dalam bentuk negara. Menjelaskan dengan mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Waktu saya masih muda sehingga saya nggak berani melakukan bantahan. Saya cuma mengiyakan, walau dalam hati banyak keraguan.

    Tahap berikutnya saya mulai ditemukan temennya. Sang teman namanya Saifullah Qohari asal Kebumen, mahasiswa MIPA Kimia UGM 1988 – akhirnya D.O juga, menanyai tema-tema atau materi-materi yang sama seperti yang telah disampaikan kakak tadi. Bahkan seperti menguji dengan ayat-ayat tentang jihad, berkorban, atau perniagaan. Kemudian diakhiri dengan materi “hijrah”.

    Tahap berikutnya, saya diajak keluar kota Yogyakarta, yaitu ke kota Kebumen, kecamatan Prembun. Di sana, diulang lagi materi-materi di atas kemudian dijelaskan yang di maksud sistem Islam adalah . . . . . NII/DI/TII. Walaupun dalam hati masih ragu-ragu juga, karena sejak awal sepertinya saya dikondisikan untuk tidak dapat mengelak atau mengatakan tidak. Akhirnya saya iyakan apa yang mereka inginkan, yaitu agar saya hijrah dari RI ke NII.

    Beberapa hari setelah itu, saya disuruh hijrah. Yaitu di Kulon Progo, tanggal 24 November 1994. Saya hijrah dengan sodaqoh Rp. 250.000,00. Saya juga diberi nama baru, yaitu : Ja’far Rabbani. Menurut mereka saya resmi masuk menjadi warga Negara Islam Indonesia, propinsi Jawa Bagian Selatan. Sayang sekali saya lupa nama pimpinan-pimpinan yang menghijrahkan dan menyaksikan saya hijrah waktu itu. Yang saya ingat cuman Sugi (Mahasiswa Teknik Kimia UGM 1988 – akhirnya D.O). Sugi ini teman satu SMA Kebumen Saifullah Qohari.

    Setelah itu, saya masuk dalam dunia NII. Saya kaget karena, saya mulai difahamkan bahwa dalam masa perang antara NII dengan RI, tidak perlu melakukan “sholat wajib”. Sholatnya yaa diganti dengan tilawah atau mencari anggota baru. Boleh melakukan fai’ atau mencuri, karena semua harta yang ada di dunia ini diperuntukkan bagi manusia yang sholeh, yaitu warga NII. Boleh melakukan tipu muslihat, atau makar yang dapat melemahkan sendi-sendi kehidupan NKRI. Karena nota bene itu adalah kehidupan RI, jahiliyah mereka bilang. Saya juga disarankan untuk meninggalkan kuliah, dengan alasan itu didikan thogut.

    Alhamdulillah itu tidak saya ikuti, walaupun senior-senior (mereka menyebut: bapak-bapak) banyak yang udah Drop Out atau DO dari kampusnya masing-masing. Saya juga diwajibkan untuk menyetor infak tiap bulan yang jumlahnya tidak boleh sama atau kurang dari bulan yang lalu. Kalau ini terjadi mereka akan mengacam dengan hadis… “barang siapa yang hari ini sama atau lebih jelek dari kemaren … maka …dst”.

    Selain itu saya juga diwajibkan mencari merekut anggota atau kader-kader baru, dengan jalan mencari kenalan, menemui teman-teman lama, untuk kemudian ditilawah dan ditaftis. Untuk mempermudah pekerjaan ini saya digabungkan dengan anggota lain yang bernama : Nurmansyah Mahasiswa Teknik Kimia UGM 1989, ini akhirnya lulus.

    Setahun hidup dalam suasana batin sebagai warga NII, saya mendapatkan anak (kader) sebanyak tiga orang (1 cowok, 2 cewek). Saya renungi kembali makna hidup saya di NII …. sepertinya saya ini jadi aneh yaa … Saya makin dijauhi temen-temen dekat saya, karena sebagian mereka ada yang menolak saat saya tilawah, kemudian bilang pada teman yang lain, bahwa saya telah “berubah”. Nilai kuliah saya amburadul karena jarang kuliah…. kata senior saya, “nggak apa-apa demi tugas negara”. Hubungan saya dengan orang tua kandung jadi “dingin” karena saya menganggap mereka kafir, tapi hidup saya secara materi masih tergantung pada mereka berdua. Rasa percaya diriku juga makin luntur, hidup rasanya penuh pesimistik, dan lain-lain.

    Pernah saya dibuat terkejut saat diberi materi oleh senior saya tentang pernikahan. Bahwa perjodohan yang telah ditentukan pimpinan harus dilaksanakan, apapun rintangannya termasuk halangan dari orang tua kandung masing-masing. Yang penting pimpinan udah menikahkan, kemudian dihamili, pasti ortu kandung mereka nggak kuasa untuk menolak, Astagfirullah.

    Bulan Oktober 1995 M, saya membaca artikel di Tempo, bahwa ada NII putih, ada pula NII merah. Kata senior saya, bahwa NII saya emang yang merah tapi tetep satu komando dengan yang dipusat (kata mereka pimpinan pusat dipegang Adah Jaelani). Saya yang baru dengar nama Adah Jaelani, yaa nurut aja apa kata mereka ….. Tapi makin lama, kegalauan, kegelisahan, dan kebingungan menyelimuti hidupku di NII. Akhirnya aku mulai mencari-cari cara bagaimana bisa keluar dari kebingungan ini, kalau perlu keluar dari NII. Umat nabi dulu optimis, aku kok pesimis … apanya yang salah yaa : diriku sendiri atau NII ?

    Puncaknya di bulan Desember 1995. Temen satu timku harus pulang ke Semarang (orang tua) karena lulus kuliah, hubunganku dengan senior yang di Jogja juga mulai nggak harmonis, temen-temen NII yang selevel dengan aku juga mulai banyak yang keluar. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1995 kuputuskan keluar dari NII, dengan bilang pada seniorku, yang bernama Abdan Syakuro (atau Saifullah Qohari) lewat telpon bahwa saya sudah keluar, tidak percaya lagi dengan apa yang ia katakan. Amin. Aku juga bilang pada yunior-yuniorku apa yang telah kuputuskan. Anehnya kok mereka juga ikut keluar sama sepertiku …. yang nggak beres itu aku sendiri, yuniorku, seniorku, atau NII ?????

    Setelah keluar, aku kucing-kucingan dengan senior-seniorku, karena mereka mengancam akan membunuku, darah orang murtad itu halal kata mereka. Tapi kalau pas ketemu kok mereka malah yang ngacir nggak karuan … yang salah itu : aku, RI, atau NII ????? Alhamdulillah aku tidak merasa menyesal meninggalkan NII.

    Masa-masa berikutnya kuisi dengan pemulihan baik jasmani yang kurus kering karena dulu kurang gizi (duit habis untuk infak / shodaqoh / tabungan / dll). Juga rohani yang kehilangan rasa percaya diri. Kedua bidang itu berupa, menjalin kembali persahabatan dengan temen-temen lama, rajin kuliah, bakti dengan orang tua, dan lain sebagainya.

    ============

    Update 2009 : Saya dah berkeluarga tinggal di Tangerang kerja di Jakarta, saya terbuka buat temen2 untuk berbagi cerita, silahkan WA di https://wa.me/6281328484289 atau berkirim email di bahtiar@gmail.com

    Update 2020 : kepada teman-teman yang pernah terjebak di NII DI TII, ayo ulurkan tanganmu, ceritakan pengalamanmu, agar adik-adik generasi milenial atau generasi selanjutnya tidak ada lagi yang tertipu ajaran serupa.

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal