Pembaruan Terkini Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Bahtiar 10:58 pm on June 8, 2018 Permalink | Balas  

    Neo NII 2018 

    Assalamualaikum pa.

    Sebelumnya perkenalkan nama saya X. 21 tahun. Tinggal di kota Y.

    Maksud saya mengirimkan surel ini tidak lain yaitu ingin sharing mengenai pengalaman saya satu tahun belakangan ini.

    Saya mendapat alamat email bapa ini dari salah satu tulisan bapa di internet.

    Singkat nya seperti ini cerita nya pa.

    Yaitu tepatnya tahun lalu di bulan agustus. Saya kembali bertemu dengan teman lama saya ketika di SD. Awalnya kita cuma main biasa. Main Playstation. Pertemuan itu terjadi 3x dalam 1 bulan. Minggu pertama kita bermain ber 3.

    Minggu ke 2 ber 4.

    Minggu ke 3 saya kembali diajak bermain playstation. Sebelumnya saya kira akan bermain sama seperti minggu kemarin yaitu minimal ber 3 dengan teman lain nya. Tetapi ternyata tidak. Saat itu saya hanya bermain dengan satu teman.

    Permainan selesai sekitar pukul 22.00

    Diperjalanan pulang saya diajak mampir di warung untuk sekedar minum kopi lalu dilanjutkan dengan obrolan ngalor ngidul sampai obrolan tertuju pada satu bahasan yaitu tujuan kita hidup di dunia.

    Kala itu obrolan menjurus memberikan pengetahuan kepada saya bahwa tujuan kitu hidup yaitu untuk beribadah. Lalu ibadah harus pada tempatnya yaitu di islam.

    Teman sy lalu bertanya islam yang mana yang benar. Kala itu dia menceritakan tentang hadits umat islam akan terbagi menjadi 73 golongan.

    Saat saya tanya islam yang mana yang akan selamat. Dia suruh saya membaca alquran al baqarah ayat 208. Bahwa islam yang benar itu yaitu islam yang kaffah. Dia mengatakan jika ibadah kita ingin diterima maka kita harus berada di islam yang benar pula.

    Diajak lah saya untuk keesokan hari nya untuk bertemu dengan seorang yang sanggup membimbing hidup kita. Sama sama mengharap ridho nya allah. Saya mengiyakan ajakan itu.

    Besok nya dipertemukanlah saya dengan beliau di antar oleh teman tsb di sebuah rumah.

    Pertemuan tersebut diawali dengan saya mengutarakan kedatangan saya ke tempat itu untuk apa.

    Lalu dilanjutkan dengan saya mengucap syahadat di hadapan beliau. Lepas itu beliau mendoakan saya.

    Sehabis itu sampai saat ini saya belum lagi bertemu dengan bapak yang menyaksisakan syahadat saya itu.

    Saya diminta untuk berkomitmen untuk siap dibimbing. Siap mengikuti kajian kajian yg diadakan.

    Saya hampir selalu mendatangi kajian kajian yg dijadwalkan untuk saya. Biasanya terjadwal 1x dalam satu minggu.

    Materi yang di dapat yaitu tentang kesadaran kehidupan. Iman kepada Allah. Rasul. Quran dan Islam (ARQI)

    Lalu tentang Hijrah.

    Setelah mendapat materi tentang hijrah

    Saya kembali diminta berkomitmen untuk bersyariah. Disebutnya BN (baitunnisa) saya diminta untuk membaca sumpah yang ada di surat al mumtahanah ayat 12. juga ada materi tentang infaq.

    Kira kira di bulan januari materi infaq ini saya terima. Di bulan januari itu lah saya mulai per bulan nya menyerahkan infaq sebesar 2,5% dari penghasilan perbulan saya.

    Berikutnya saya mendapat materi tentang dakwah. Jadi kita diharuskan untuk mendakwahi orang lain atau mengajak seseorang yang belum bergabung dengan kita.

    Saya mendapat materi tentang bagaimana cara kita mendakwahi calon member kita.

    Yaitu dengan cara pengkondisian, pengisian, ajakan dan taftis.

    Pengkondisian yaitu kita diharuskan untuk mendata calon member kita dimulai dari nama. Alamat. Pekerjaan. Usia. Pekerjaan orang tua.

    Data tersebut diwajibkan sebelum kita melanjutkan ke tahap berikutnya.

    Oh iya sebelumnya saya jelaskan dulu. Kajian yg saya ikuti biasa nya diselenggarakan tertutup. Tak jarang juga saat kita dibentrokan dengan jadwal lain kita diminta untuk memprioritaskan jadwal kajian ini. Bahkan membolehkan kita bersiasat kepada orang tua untuk memudahkan kita mendatangi undangan kajian tersebut.

    Hingga kita berdakwah juga kita menyiasati setiap bahasa yang dipakai.

    Berdakwah kita biasa menyebutnya marketing.

    Dai istilah nya sales.

    Mad’u istilahnya klien.

    Taftis istilahnya belanja.

    Infaq istilahnya japrem.

    Semuanya dilakukan semata karena untuk meyiasati agar dakwah kita berjalan aman. Karena akan menyampaikan hal yg sangat sensitif. Begitu tuturnya.

    Bahkan untuk klien nya saja dipilih pilih. Karena diusahakan untuk tidak mendakwahi polisi. Tni atau seseorang yang orang tua nya bekerja di intansi tersebut.

    Selain daripada dakwah tersebut ada juga yang disebutkan program keuangan.

    Dimana kita harus membatu program islam dalam hal keuangan juga. Untuk yg terakhir ini contohnya sebelum ramadhan ini saya membantu berjualan kue kue kering.

    Di program dakwah saya sudah mengajak 2 orang. 1 teman perempuan saya. Dan 1 adik laki laki saya.

    Diawal ramadhan saya mendapat keraguan tentang apa yang sedang saya jalani ini.

    Saya selalu merasakan ketidaknyamanan saat melakukan dakwah.

    Karena saya mempunyai fikiran saya berdakwah untuk menyalamatkan orang yang saya dakwahi.

    Sebelum mereka bergabung bersama kita. Masuk kedalam sistem islam yg kaffah ini. Itu artinya mereka tidak akan selamat. Semua ibadah yang mereka lakukan sia sia. Karena melakukan ibadah tidak pada tempatnya.

    Bahkan zakat yang saya keluarkan harus kepada amilin di sistem ini. Jika tidak hanya akan sia sia.

    Begitulah fikiran saya kala itu.

    Sampai satu waktu saya tak sengaja mendengar tausyiah salah satu ustadz di channel youtube. Tentang mengkafirkan orang islam lainnya.

    Barulah saya mulai membuka mata untuk kembali mengkaji apa yg sedang saya jalani.

    Istiqarah saya jalani. Referensi referensi dari sumber sumber lain saya baca baca di internet. Dan sampai saat ini saya belum menemukan referensi yang membenarkan tindakan saya sebelumnya.

    Sampai saat ini saya lebih condong untuk meninggalkan sistem yang sedang saya jalani.

    Saat ini saya meminta nasihat dari pa bahtiar untuk saya.

    Saya merasa sudah masuk sangat dalam.

    Mohon pencerahnya pa.

    Apakah ini termasuk NII? Karena tak ada satupun pemateri saya yang menyinggung tentang NII.

    Terima kasih sebelumnya.

    Wassalamualaikum

    ########

    Waalaikum salam sdr. X

    Dari yg sdr jelaskan itu jelas ajaran Islam menyimpang, walau mereka tdk menyebut NII tapi cara merekrut anggota sama persis dg NII.

    Agama hanya sebagai kedok, tujuan utama memeras uang, harta, tenaga, pikiran dan orang-orang di sekitar kehidupan sodara.

    Sebaiknya segera jaga jarak dg mereka, teman dan adik yg sdh diajak masuk dinasehati agar juga menjaga jarak.

    Tetap perbanyak membaca referensi-referensi ajaran Islam menyimpang.

    Yg sdr. alami byk jg dialami anak-anak muda yg lain, tapi setelah masuk, merasakan keanehan ajaran dan byk baca referensi, akhirnya sadar dan keluar.

    Demikian saran & masukan dari saya, bila ada yg ditanyakan lg, silahkan dibalas email ini

    Salam
    Bahtiar
    Mantan NII KW9
    Tangerang Selatan Banten

    Iklan
     
  • Bahtiar 7:52 am on May 21, 2018 Permalink | Balas  

    Teroris Surabaya, Riau, Remaja, Pemuda dan Kajian Keagamaan nya 

    Setelah Kejadian2 Teroris Surabaya & Riau, Remaja & Pemuda Meng-Evaluasi Kegiatan Kajian Keagamaan nya . . .

    Berikut salah satu testimoni nya :

    Mahasiswa (M) : Assalamualaikum

    Saya (S) : Waalaikum salam

    (M) : Ini dgn pak bahtiar ? Maaf pak sbelumnya. Saya dpat nmor bpak dri internet. Ada hal yg mau saya sharing dan mnta solusi sma bapak

    (S) : iya silahkan

    (M) : Saat ini saya sdg ikut kajian pak. Cma mereka gk nyebutin diri mereka NII. Tapi ciri2 dri blog yg bpk tulis udah jelas bget itu mereka pak. Awalnya saya di ajak kajian sma tetangga kontrakan/kost, karena saya blm trllu dalam sama agama, saya ikut aja, krena saya pikir itu kajian biasa. Materi2 awal kajian masih umum, mengenai kewajiban menuntut ilmu, sampai ada materi mengenai jamaah, baiah, dan tentang salahnya sistem yg dipakai di indonesia yg menggp bahwa indonesia memakai sistem orang kafir. Dimana yg di pakai adalah pancasila yg di yakini thogut. Smpek ada materi syahadah. Dan saya bsrta bbrpa teman disuruh sahadah ulang . Disini saya berpikir gk ada slahnya kali ya syahadat doang kan. Kemudian setelah saya syahadat, tempat kajian kita pindah2, tdinya cma 1 tmpat. Kita dpet materi beda2 dri msing2 tmpt. Smpek ke pembaiatan. Sblum baiat kita di beri materi mengenai sejarah islam, sejarah mengenai bapak karotsuwryo pendiri. Stlah saya cati, ternyta beliau pendiri NII/DI/TII. Dari situ saya nyimpulin sndri kalau mereka ini NII, walaupun mereka tdk bilang. Tapi smpek skrng mereka merahasiakan imamnya. Kemudian smpai ke pembaiatan. Saya sendiri wktu dibaiat bener2 gk paham tujuannya, saya mau dibaiat krena rekan2 yg lain pada mau. Dri semua rekan yg ada, cma saya sndiri yg masih bujangan pak dan sttus msih mahasiswa smpek skrng, yg lain sudah berkeluarga. Setelah pembaiatan, saya blm naruh curiga. Karena bner2 awam. Setelah pembaiatan, kami msih sering ikut kajian mngguan dgn materi yg beda2. Sampai saya di pisah dri rekan2 yg sblmnya dan ditarik ke liqo yg seluruh anggotanya mahasiswa. Byak trnyata yg ikut, saya smkin gk naruh curiga krena kegiatan2 kita di situ positif, sprti motivasi, hafalan quran, infaq bulanan yg ktnya untuk jalan Allah. Saya udah ckup lama ikut, dri bulan september 2017, smpek skrng. Dipindah ke liqo mahasiswa sekitar januari. Udah ckup byak kenalan disana pak. Saya juga udah ckup dikenal dri pihak mereka. Bbrpa mnggu trkhir ini saya galau, bener apa enggk kelompok yg saya ikutin ini. Karena kita kajian selalu sembunyi2. Selalu bilang jgan smpek ketauan msyrkat umum dan aparat. Kren dmpknya buruk ktanga. Saya disuruh nyari anggota yg mereka sebut dengan rintisan. Tpi alhamdulillah saya blm pernah dpet. Smpai 1 hal yg buat saya sadar. Bulan ramadhan ini, mereka menagih infaq bulanan sama zakat. Saya bilang ke mereka, klok zakat saya biasa bayar bareng orang tua di kampung, kbtulan saya skrng kuliah di kota X . Trus setelah saya bilang begitu melalui WA. Mereka ngajak ketemuan. Dan mereka bilang kalok skrng kan kita punya imam, jdi zakat harus disini. Zakat yg ikut orang tua itu bukan zakat, itu cma sedekah. Jdi mereka ngnggep orang tua saya itu gk zakat, krena blm masuk keklompok mereka. Mereka juga bilang klok suruh narik orang tua saya masuk keklompok kita. Masa mau masuk surga sndrian. Saya mikir, jdi mereka ngnggep orng tua saya itu bukan orang islam. Tega bnget mereka ini, saya bener2 yakin kalok mereka ini orng yg menganut paham takfiri. Skrng saya mau keluar dri mereka, tpi saya bgung gmna cara2nya. Soalnya saya udah ckup dikenal, dan mereka pun udah tau kos2an saya. Blum lagi bbrpa orang2 yg awal2 ngjak kajian ini kontrakannya deket sma saya pak. Kira2 saya harua gmna ya pak. Karena kalok menghindar pun saya sulit. Mereka ada di sekeliling saya pak. Maksih pak sbelumnya udah nympetin wktunya ya

    (S) : Tanggapan pertama, walau tdk menyebut NII tp jelas itu NII krn nyebut2 Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, mengkafirkan orang tua kandung sendiri, menyalahkan sistem yg dibangun alim ulama Indonesia sejak berdirinya, menyalahkan Pancasila yg merupakan kesempatan bersama antar agama, suku dan ras di Indonesia sbg thogut.

    Kedua, walau isi kegiatan positif tapi UUD, ujung-ujungnya duit.

    Klo kedua hal tsb msh belum sadar juga, siap-siap tanpa sadar direkrut kelompok yg lbh radikal, ekstrim & doktrin bom bunuh diri !!!

    (M) : Iya pak, bahkan saya yg masih mahasiswa, blum kerja, msih di kirimin orng tua ttep di tagihin. Yg ktnya infaq bulanan . . . dll

    (S) : utk menghindari nya cukup mudah, karena mereka kelompok kajian agama tapi ” UUD “, ujung-ujungnya duit. Mereka hy brani mengancam, tp klo dilawan balik digertak mrk ngacir, pindah lokasi. Ada baiknya dilaporkan RT, RW, petugas atau aparat setempat. Agar keberadaan mereka terbatasi ruang gerak nya dan tidak byk anggota atau korban baru anak muda.

    (M) : terima kasih Pak, nanti sy tanya lg bila ada perkembangan atau msh bingung

     
  • Bahtiar 8:43 pm on May 4, 2018 Permalink | Balas  

    Kamu Islam ? 

    Kamu Islam ?

     

    T : Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

    J : Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh

    T : Betul ini mantan anggota NII ? Saya mau sharing.

    J : betul, silahkan

    T : Saya mau cerita dulu tentang pengalaman saya selama di NII.

    Bismillah
    Sebelumnya maaf saya dapat nomor Bapak dari Blog, yang saat itu saya lagi search mengenai NII.

    Begini awalnya,

    Saya diajak oleh teman saya pergi ke kajian. Waktu itu saya baru pertama kali, dan baru saja hijrah. Saya pikir itu kajian yang umum, yang dihadiri banyak orang tp ternyata di kajian itu hanya ada 5-6 orang tdk lebih dari 10 orang.

    Yang menyampaikan materi nya 1 orang akhwat, saat itu tempat nya di masjid.

    Pas itu saya agak heran, tapi ya sudah saya ikutin dulu.

    Awal nya beliau yang menyampaikan materi itu mengenai aurat hijab wanita, sampai ada materi mengenai al insan, ma’rifatullaah. Di tiap pekan nya selalu ada pertemuan, biasa nya kita ketemu di hari ahad.

    Ternyata, temen yang ajak saya pas awal itu sibuk sekolah karna memang kami beda sekolah juga rumah ngga terlalu dekat. Jadi, saya berangkat kajian ke sana sendiri dari rumah.

    Sampai pada akhirnya, tempat nya memang masih di masjid. Saat itu yang hadir nambah sedikit, dan hanya ada saya dan si pemateri.

    Biasa nyampaikan materi, saya lupa materi terakhir pas itu apa. Kemudian beliau tanya, saat itu beliau tanya ngeliat dulu di sekeliling, suara yang beliau ucapkan juga beda, agak rendah juga kecil atau lirih

    Beliau tanya, “kamu islam?” “Yaiya atuh mba saya islam” jawab saya. “Kayak nya materi ini dibahas nya ahad depan aja deh, biar enak. Nanti kamu minggu depan dateng lagi ya. Di sini ngga enak udah rame dan ngga kondusif”. Kata beliau

    Tapi saya maksa, saya pengen tau banget kenapa beliau tanya gitu. Lalu beliau mengiyakan, tapi kita pindah tempat. Memang masih di masjid, tapi di pojok dan tempat nya sepi.

    “Kamu islam dari kapan?”, “Yaa dari lahir Mba”, kata beliau “Berarti udah syahadat?” Dan percakapan semacam nya.

    Saat itu saya cuma ngangguk. Seolah-olah membenarkan apa yang beliau bilang. kemudian beliau minta utk saya datang lagi ke kajian ahad depan.

    Akhirnya saya dateng, tapi beliau kasih kabar kalau kajian nya bukan di masjid. Tapi di rumah. Saya ngerasa aneh, kok bukan di masjid malah di rumah. Tapi saya tetap datang saat itu.

    Saya katakan rumah itu sepi, terpencil, dekat sawah. Saat itu juga saya ngga liat beliau, saya liat nya orang lain yang seumuran dg beliau.. kemudian saya disuruh masuk di tempat semacam ruangan kecil disana juga ada papan tulis.

    Saya kira saat itu saya sendiri, ternyata satu persatu ada yang lain yang juga datang. Dan di antara yang datang itu saya kenal, dia tetangga teman rumah saya..

    Setelah itu, kita sudah kumpul. Ada yang ngasih materi, tapi bukan Mba yang kemarin tapi beda. Ibu2 tsb nyampaikan materi yaa mengenai Jama’ah, Imamah, dan Bai’ah lalu mengenai syahadat, dan yang terakhir zakat, infaq dan shodaqoh.

    Pada saat pemateri nyampaikan mengenai syahadat saya agak kaget.
    Apa iya? Kok begini? Saya ngerasa diri saya ini kafir. Akhirnya, kita syahadat sambil tangan kita ditumpuk jadi satu.

    Pada saat itu juga ada yang datang, ikhwan. Yang nengatakan kalau beliau itu imam.

    kemudian imam itu memimpin kita bersyahadat. Jujur, pada saat itu saya menangis. Bagaimana tdk, saya mengatakan diri saya sendiri kafir, yang selama ini bagaimana dg ibadah yang saya lakuin? Kok tdk ada orang yang memberitakan ini? Bahkan ustadz atau ulama? Tdk ada.

    Setelah syahadat, mulai saat itu ahad berikut nya kita bukan pengajian di masjid lagi, tapi di rumah imam (kata mereka) yang kemarin mimpin utk syahadat.

    materi nya ada mengenai apa saja yang membatalkan syahadat, lalu sampai pada sejarah islam dan Indonesia.

    Yang pada saat ada materi mengenai sejarah islam dan Indonesia, seolah-olah saya benci dg negara saya sendiri yaitu Indonesia.

    Akhir dari pertemuan itu, ada bai’at. Kami dibai’at utk masuk di anggota mereka, dg dipimpin dari salah satu dr kita yang hadir disana.. sambil kita berjabat tangan.

    Mulai dari situ, entah kenapa apa awalnya saya search di hp. Ini pertama kali, mengenai syahadat ulang.

    “Apa kah seseorang itu diharuskan utk bersyahadat ulang?” Itu yang saya ketik. Ternyata sama sekali tdk ada artikel atau pun blog yang membenarkan mengenai itu

    Bahkan ada yang mengatakan itu sesat.. mulai dari situ saya tanyakan kpd ustadz/zah yang dari mereka pun sama sekali tdk ada yang mengiyakan.

    Mereka kasih nasehat kpd saya utk tdk ikut dikajian spt itu lagi.

    Oh iya, pada saat bai’at. Setelah bai’at, si imam berkata, “Selamat datang di NII. Mulai sekarang kita dakwah sembunyi2 dulu”.

    Agak tercengang saya ketika denger NII.

    Akhirnya saya putuskan utk tdk ikut kajian disana. Detik itu juga.

    Apa yang harus saya lakuin ya sekarang kira2?

    J : Langkah pertama :

    Perbanyak membaca dan mempelajari apa itu NII dan DI/TII, baik dg mengingat-ingat pelajaran sejarah saat sekolah SMP dan SMU atau lewat tulisan-tulisan di internet

    Langkah kedua :

    Setelah punya informasi lengkap ttg NII boleh ikut kajian tersebut bila mental nya kuat.

    atau :

    Hindari kajian NII tersebut

    T : Di langkah yang kedua, boleh ikut kajian tsb? Maksudnya gimana ya Pak?

    Saya udah mulai kasih tau temen saya, terutama temen dekat. Soalnya ada bbrpa yang ikut disana, tapi sama sekali tdk ada yang percaya dg apa yg saya bilang

    J : Langkah kedua maksudnya :

    Dengan banyak membaca referensi dan literatur NII, akan menemukan dan menjumpai keanehan-keanehan di kajian tsb

    T : Alhamdulillah Pak, saya sdh sering search di internet tentang NII. Tiap blog hampir saya buka, termasuk blog yang mengenai pengakuan Bapak di NII

    Bapak tau mengenai POKJAR?

    Harus nya ahad yang lalu itu ada materi mengenai pokjar, tapi saya sudah bilang sama tutor kalau saya sdh tdk bisa kajian disana lagi.

    J : PokJar
    Kelompok Belajar, semacam studi club tapi ujung-ujungnya bahas kafir dan harus NII . .

    T : Astaghfirullah
    saya kasian Pak sama yang lain, yang ikut anggota mereka. Udah kebanyakan makan doktrin dari imam mereka, saya kasih nasehat tentang yang sebenarnya juga mereka nolak.

    J : Iya,

    Tugas saudari pada teman dekat adalah menasehati & mengingat kan.

    Kalau mereka menolak, tugas saudari tetap memantau dari jarak jauh.

    Cepat atau lambat para pengkut atau korban doktrin NII pasti akan sadar.

    T : Aamiin Yaa Rabbal’alaamiin.

    Syukron Pak, jazaakallaahu khairan.

    J : sama-sama

     

     

     
  • Bahtiar 6:58 am on March 29, 2018 Permalink | Balas  

    Cara Deteksi Aliran Sesat 

    Heboh soal orang hilang karena bergabung Gafatar akhir-akhir ini membuat banyak orang mulai menyadari mengenai adanya aliran sesat & berbagai bahayanya. Namun bagi orang awam, kadang amat sulit untuk mendeteksi, apakai sebuah kelompok pengajian adalah aliran sesat, atau bukan ?

    Pada prinsipnya, nyaris semua aliran sesat menggunakan Al-Quran dan Hadits juga. Ini yang jadi makin membingungkan banyak orang. Perbedaan mereka adalah pada #tafsir nya.

    Walaupun menggunakan Al Quran dan Hadits yang sama, namun, mereka sangat ngawur dalam menafsirkannya.

    Contoh: ayat Quran yang membahas soal #perang, diterapkan di saat #damai. Hasilnya? Kelompok sesat yang doyan terorisme.

    Masalahnya, soal tafsir ini bukan hal yang mudah. Bahkan banyak yang (mengaku) ustadz pun keliru dalam menafsirkan suatu ayat atau hadits. Lalu bagaimana cara kita, orang awam, untuk mendeteksi suatu aliran sesat ? Agar kita tidak terjerumus ke dalamnya ?

    Dari pengalaman saya bergaul dengan berbagai kelompok & aliran Islam selama beberapa puluh tahun, beberapa hal berikut ini adalah tanda-tandanya.

    Jika Anda menemukan salah satu atau beberapa tanda terlampir; segera waspada & konsultasi dengan ahli agama yang Anda percaya.

    (1) Bai’at / Sumpah setia kepada pemimpinnya : jika ada kelompok yang mewajibkan kita untuk melakukan bai’at / sumpah setia pada pemimpinnya, tidak usah ragu, keluar saja. Bisa dipastikan ini kelompok sesat, walaupun kadar kesesatannya mungkin berbeda-beda, namun ini adalah tanda bahwa kelompok ini menuntut kita untuk patuh #buta Sedangkan Islam mengajarkan kita untuk selalu berpikir & kritis.

    (2) Menganggap muslim lainnya adalah kafir : dalam Islam, tidak mudah / tidak bisa seenaknya mengkafirkan orang lain. Selama seseorang masih bersyahadat, maka masih #bisa dianggap sebagai muslim.

    Persaudaraan muslim itu sangat luas & kuat. Tidak bisa dihapuskan hanya karena berbeda cara sholat, beda pakaian, dst.

    Berbagai kelompok sesat sangat suka menganggap muslim lainnya sebagai kafir. Ini adalah strategi mereka untuk meyakinkan Anda, bahwa kelompok ini adalah yang paling benar.

    (3) Memisahkan kita dari keluarga & teman-teman kita / strategi excommunication : trik ini sangat kotor, namun efektif dalam menjebak orang ke dalam kelompoknya. Perlahan-lahan, Anda didorong untuk menjauhkan diri dari keluarga & teman-teman Anda.

    Maka tiba-tiba saja, suatu hari, Anda sudah jauh dari semuanya, kecuali kelompok sesat ini.

    Mau keluar dari kelompok itu pun jadi susah – Anda sudah tidak kenal lagi dengan teman-teman Anda. Dan biasanya Anda sudah telanjur menyakiti keluarga Anda sendiri, karena pengaruh kelompok ini.-

    Sehingga banyak orang jadi terjebak selama-lamanya di kelompok tersebut.

    Jangan mau dijebak seperti ini. Tetap keluar saja.

    (4) Fokus pada soal politik / kekuasaan : berbagai kelompok menganggap bahwa kekuasaan & kekerasan adalah kunci kemenangan. Sedangkan Rasulullah saw sudah menunjukkan bahwa Islam itu menyebar dengan dakwah & seruan yang baik. Bahkan perjanjian Hudaibiyah yang sempat diprotes beberapa sahabat, karena pada awalnya terkesan sangat melemahkan umat Islam – akhirnya terbukti justru jadi penyebab berbondong-bondongnya orang masuk Islam.

    Kelompok yang fokus pada politik, kekuasaan, dan/atau kekerasan; ini perlu diwaspadai. Biasanya mereka justru banyak menyalahi ajaran-ajaran Islam sendiri.

    (5) Percaya pada “silver bullet” : ada banyak kelompok yang percaya bahwa “xxx adalah solusi dari #semua masalah yang ada”. Dimana xxx bisa apa saja, kekuasaan, khilafah, uang, riba, dst.

    Ini keliru, Islam tidak pernah menunjukkan silver bullet apapun. Kecuali umat – kunci sukses Islam adalah umat yang sholeh & tercerahkan. Sampai Allah swt menjanjikan pemimpin yang baik jika umat Islam juga baik.

    Jika ada kelompok yang menggadang-gadangkan silver bullet lainnya, abaikan saja.

    (6) Infaq / sumbangan wajib : dan biasanya jumlahnya cukup besar. Sampai ada yang harus mencuri uang orang lain untuk membayar sumbangan (yang tapi) wajib itu.

    (7) Mengajarkan & fokus pada kebencian : Hate / benci adalah salah satu emosi yang paling powerful. Dengan memanfaatkan emosi ini, maka banyak aliran sesat jadi bisa mengecoh & menipu orang.

    Jika ada kelompok yang bahasannya banyak menebar kebencian, segera waspada. Bisa jadi ini adalah kelompok sesat dan/atau ekstrimis.

    Satu hal yang penting untuk diketahui adalah, kadang watak asli suatu kelompok sesat itu baru muncul belakangan.

    Biasanya diawal Anda bergabung, yang dimunculkan adalah hal-hal yang baik saja. Baru belakangan kemudian Anda akan dituntut untuk bai’at, mengkafirkan muslim lainnya, mengucilkan diri dari keluarga kita, dst.

    Jadi jangan terkecoh. Selalu waspada.

    Cara jitu untuk selamat dari kelompok sesat adalah dengan mengetahui cara berpikir kritis.

    Ada terlalu banyak penipu, terlalu banyak kelompok sesat. Artikel singkat ini tidak mungkin bisa membahas semuanya.

    Namun jangan khawatir, karena Allah swt sudah membekali kita semua dengan akal & hati.

    Selalu kritis. Jangan mudah percaya. Pertanyakan semuanya. Selalu belajar & cari tahu.

    Dilengkapi dengan do’a, dan hati yang bersih, terutamanya bebas dari ego & sombong, maka InsyaaAllah kita akan selalu selamat.

    Demikian tulisan ringkas ini, semoga bisa bermanfaat untuk Anda & keluarga. Selamatkan mereka dari kelompok-kelompok sesat yang berbahaya.

    9 Februari 2016, Masjid Nabawi, Madinah.

    Referensi :
    https://plus.google.com/+HarrySufehmi/posts/BwT3HxTMhsq

     
  • Bahtiar 1:44 pm on March 8, 2018 Permalink | Balas  

    NII Zaytun Ungaran Semarang Jawa Tengah 

    Yth Bapak Bahtiar, tolong nomor HP saya dirahasiakan. Saya tahu nomor dan email Bapak dari internet.

    Saya mantan NII KW 9 Zaytun wilayah 22, kode untuk wilayah Jawa Tengah, idariah Semarang,  yang hampir kebanyakan malja atau kos di seputaran Ungaran. Termasuk malja gubernur TDH/MS yang ditangkap polisi ada di Ungaran.

    Saya sudah keluar dari NII Zaytun sekitar 8 tahun yang lalu, tapi masih saja membekas ingatan tentang NII Zaytun, secara saya lebih dari setahun menjadi warga NII Zaytun. “Tersiksa” itulah gambaran perasaan selama lebih dari setahun di sana. Keseharian cuma cari duit buat setoran dengan jalan meminta-minta sumbangan di dekat pintu-pintu ATM, jalan keliling membawa kotak infaq ke lesehan-lesehan kaki lima, kalau tidak dapat sesuai target maka  digertak oleh atasan atau mas’ul.

    Demi setoran bulanan, saya bersama kepala bagian keuangan atau kabag maliyah yang lain pernah invasi keluar kota, seperti Jakarta, Surabaya, Banten, Medan . . .  eh jauh-jauh cuma minta sumbangan buat eksistensi mahad atau pesantren dan menggaji guru-guru atau asaatidz Al Zaitun.

    Untuk Maliyah wilayah Semarang biasanya pake proposal pembangunan pondok pesantren lokal dari Mranggen, Demak – lupa nama ponpes lokal nya. Untuk yang Surabaya pake YBAB, Yayasan Bakti Anak Bangsa. Untuk Jakarta dan kota-kota lain pake PKAB, Perhimpunan Karya Anak Bangsa.
    Jadi siapapun di antara Anda yang bertemu peminta-minta sumbangan dengan amplop, kotak kardus bertulisan tiga yayasan tersebut bisa dipastikan itu orang NII Zaytun wilayah 22.

    Kalau sekarang belum pindah saya juga masih ingat malja atau markas  yang buat Taftis atau persiapan untuk menjadi mas’ul atau aparat atau pejabat di lingkungan NII Zaytun. Kalau tidak proposal atau cari sumbangan, seharian cari kenalan atau tilawah biasanya ke kampus, Unes, Undip, Ngudi Waluyo, IKIP, di masjid Baiturahman Simpang Lima.

    Apapun cita-cita Panji Gumilang d Al Zaytun mungkin masih bisa dinalar semua demi kemajuan ajaran Islam versi dia, tapi eh tapi warga NII yang di daerah, sangat riskan beresiko berurusan dengan pihak berwenang, warga jadi kambing hitam, sapi perahan. Pemimpin macam apa, yang memperlakukan warganya semena-mena, berbohong . . .  Negara macam apa, yang mewajibkan warganya cuma setoran, setoran dan setoran melulu.

    Makin lama saya muak dengan perilaku mas’ul-nya yang arogan, katanya Negara Islam kok perilaku aparat kok kayak macam sales, kalau tidak dapat sesuai target dapat gertakan-gertakan kata kasar. Katanya Negara Islam lah Islam gak dipelajari, kalaupun baca Al Quran diterjemahkan  se ‘enak wudele dewe’, untuk kepentingan golonganya.

    Shalat malah tidak dijaga, Dhuhur Ashar, Maghrib, Isya selalu dijamak,
    tiap jam shalat, diminta laporan Maliyah atau keuangan, laporan tilawah, tidak pernah mas’ul aparat pejabat atau atasan tanya sudah shalat atau belum . . . ?

    Semoga sedikit pengalaman di atas membuat anggota aktif NII Zaytun Panji Gumilang menjadi sadar dan keluar. Adik-adik generasi muda makin kritis dan tidak mudah tertipu ajaran sesat atas nama agama Islam

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal