Updates from Oktober, 2009 Toggle Comment Threads | Pintasan Keyboard

  • Bahtiar 5:15 pm on October 30, 2009 Permalink | Balas  

    SELALU KRITIS TERHADAP DOKTRIN NII KW 9 

    Bersambung dari [PASCA KELUAR DARI NII KW 9]

    Selang beberapa bulan lagi, saya sudah benar2 melupakan masalah NII. Saya konsen ke skripsi, untuk mengejar target bisa lulus cepat. Waktu itu teman sekelas saya, namanya Arinda, minta tolong sama saya untuk dikirimin suatu bahan diemailnya. Saya mencatat email itu di HP saya, dan saya benar2 kaget, karena email yang dia berikan adalah email yang saya pikir adalah email Aldi, yaitu “azkiya_05@yahoo.com”. Saya tanya Arinda, ini benar2 emailnya apa bukan. Arinda bilang, “Iya benar ini emailku, memangnya kenapa?” Saya tanya sama dia, pelan2, apakah dia pernah masuk NII dan menulis sebuah tulisan tentang kisahnya di NII. Arinda langsung bingung, saya kenal Arinda, aktivitasnya jelas dan dia bukan orang yang macam2. Jelas dia nggak mungkin orang NII. dan saya menjelaskan sedikit duduk persoalannya. Waktu itu Arinda ketakutan, dia sama sekali tidak tahu tentang NII. Seperti yang sudah saya duga. Arinda nggak macem2. Kemudian Arinda meminta saya menunjukkan situs itu dan email yang dituliskan dibawahnya. Dari ekspresi wajahnya yang ketakutan, akhirnya dia bilang, memang waktu itu ada yang kirim email ke dia, seperti menyinggung sebuah pesantren dan NII. Tapi dia hapus. Kemudian, dari ekspresi saya yang masih bingung dan rada nggak percaya, akhirnya dia kasih tau password email itu. Saya buka dan memang nggak ada yang aneh. Waktu saya tanya apa dia pernah mempublikasikan email itu yang ada keterangannya jurusannya apa dan kuliahnya dimana, dia bilang sama sekali nggak pernah. Arinda heran,bingung dan terus2an bilang takut ke saya, karena email dia sudah dipake orang dalam situs itu. Dan dia bilang dia mau ganti email aja. Agak membingungkan kan? Kalau saya tidak mendapatkan email Arinda, mungkin saya nggak akan pernah lebih yakin lagi kalau ada yang cacat disini. Secara no.HP boleh bohong, tapi kalau email? Kenapa mesti mengambil email orang lain? Apalagi emailnya kebetulan banget email teman sekelasku. Dan membuat masih tetap dalam tanda tanya, apakah Aldi memang sudah keluar, atau semua tulisan itu cuma kedok belaka mengingat NII itu licik? Hanya Allah dan Aldi yang tau. Saya juga nggak tau apakah kalo “Aldi atau bukan Aldi” yang udah “keluar atau belum” itu meneruskan tulisannya disitus2 NII karena dia nggak pernah pakai Identitasnya sendiri, sejauh liat tulisannya diatas pake nama dan email orang lain. Bahkan no. HP yang diberikan pun no.HP yang sudah nggak aktif. Bisa jadi si mungkin traumanya masih ada.

    Saya cuma bisa mendoakan, agar suatu saat, kebenaran bisa terungkap, dan orang2 yang dulunya menganggap saya yang memfitnah dia, bisa terbuka mata hatinya, siapa yang sebenarnya difitnah disini.

    Dan buat yang merasa dia adalah Aldi, dimanapun hati kamu sekarang, di kiri atau kanan, saya tetap akan menganggap kamu bagian dari hidup saya seperti sahabat2 yang lain, dan kamu tau siapa mereka. Saya juga minta maaf sama Aldi jika selama ini banyak kesalahan dan juga karena sengaja memanfaatkan kepercaaan kamu waktu di NII. Niat saya waktu itu semata2 hanya ingin menolong kamu. Ingat orang tua, setiap kamu mau bertindak.

    Iya, hanya itu yang saya sampaikan, lega rasanya akhirnya kisah ini bisa saya ulangi lagi. Buat kak Bahtiar, Pak Sidik, Mbak Anlene dan Mbak Wartawan dari salah satu stasiun TV, saya ucapkan terimaksih banyak. Terutama buat Kak Bahtiar, yang tidak pernah menertawakan apapun yang saya lakukan, mendukung dan pastinya mendoakan saya.

    Dan buat siapapun yang orang2 terdekatnya masih di NII, jangan takut berusaha, asal dalam usahanya jangan sampai terseret masuk ke dalam. Yang saya lakukan bukan hal yang patut dicontoh, tapi nggak ada yang salah dengan berusaha menolong, pasti nggak akan sia-sia. Tetap bersabar, dan berdoa sama yang diatas. Allah pasti beserta hamba-hambaNya. Wassalam.

    # TAMAT #

    Ditulis ulang oleh :
    Bahtiar Rifai
    Mantan NII KW 9
    HP. 08132 8484 289
    Email : bahtiar@gmail.com
    Ilustrasi diambil dari situs [ini]

     
    • bahtiar 1:59 pm on Mei 15, 2010 Permalink | Balas

      Saudara Say No For NII, terima kasih atas tanggapannya.NII KW 9 Al Zaytun bukanlah musuh Densus 88 … sekali lagi NII KW 9 Al Zaytun bukanlah musuh Densus 88 …. namanya memang NII, Negara Islam Indonesia, tapi programnya bukan membentuk NII, itu hanya nama. Programnya adalah mengajari anggotanya untuk berbohong dan menipu orang tua kandung masing-masing demi mendapat uang. Nah, uang hasil kebohongan dan penipuan itu digunakan untuk membangun Mahad Megah agar dilihat hebat oleh mata dunia.Demikian penjelasan saya, semoga menambah pengertian.Salamhttps://niikw9.wordpress.com/2009/01/12/nasehat-calon-korban-nii-kw-9/

    • Anonymous 11:06 am on Mei 15, 2010 Permalink | Balas

      tinggal nunggu di bedil pake timah panas densus 88 tuh semua anggota NII yang masih keras kepala… emang hanya dengan membuat Mahad al- Zaytun setinggi dan selebar mungkin bisa di lihat hebat oleh mata dunia internasional apa? yakin kena gempa pasti hancur semua tuh gedung2 dari hasil keringat para warga desa2nya yang diboongin, uda tau di Indonesia (NKRI) tempat pertemuan cicin api dunia (patahan lempeng bumi dan deretan gunung berapi)ko malah bikin gedung besar2 dan super permanen cie… aduh jeng uda ikhtiar aja klo emang tuh si mas aldi bukan jodoh gk usah di inget2 lagi, ingat life must go on… semua uda ada yang atur yaitu ALLAH. so Berantas NII sampe ke si Panci Gumilang itu… (say No for NII).

    • bahtiar 9:20 am on Mei 15, 2010 Permalink | Balas

      Terima kasih Sdri. Rahma, telah berbagi cerita tentang persinggungannya dengan NII. Semoga cerita Sdri. dapat menjadi bahan kewaspadaan kita semua.

      Salam
      bahtiar
      https://niikw9.wordpress.com/2010/04/25/keberanian-menyelamatkan-dari-ajakan-nii-kw-9/

    • rahma 8:21 am on Mei 13, 2010 Permalink | Balas

      saya jugapernah terlibat dengan orang NII, katanya saya di suruh hijrah, kalau mau berubah. hijrah itu ada biayanya, kurang lebih Rp 800.000.
      kata saya, adaya,Islam yg kaya gini.
      akhir-akhir ini saya baru tahu kalau mereka dari NII.

    • bahtiar 4:21 pm on November 29, 2009 Permalink | Balas

      Yth.Mas MT,Terima kasih telah berbagi cerita tentang kesesatan nii, semoga banyak masyarakat yang terbantu sehingga tidak banyak jatuh korban lagi.Tentang kopdar, tentu saya senang menyambutnya. Kalo Mas MT ke Jakarta jangan sungkan2 untuk mengabari saya di 08132 8484 289Buat pembaca yang lain, mari berbagi, agar tidak trauma dan banyak yang terselamatkan dari bisa NII AL ZaytunSalam jabat eratbahtiar

    • MT 10:43 pm on November 22, 2009 Permalink | Balas

      Ketika masih aktif dalam gerakan sejenis, saya pernah dialog dengan orang NII KW9. Mereka tak kenal lelah dalam merekrut anggota baru. biasanya mereka selalu mengangkat isu kemiskinan, keberhalaan pancasila, dan kekafiran indonesia, agar kita mau "tobat" dan mengikuti jalan mereka.Mereka baru akan mundur jika kita agak kritis menanyakan secara detil tujuan perjuangan mereka. Mereka sulit menjawab hal-hal teknis bahkan sepele yang ada dalam kehidupan kita. Seperti waktu itu aku tanya, kalau Negara Islam tegak, lalu siapa yang mengelola jalan tol, PAM, Listrik, dan fasilitas negara dan rakyat? Mereka sulit menjawab dengan detil, karena memang tak pernah punya desain yang jelas terhadap cita-citanya sendiri. Gerakan seperti itu hanya dibangun dari semangat kebencian terhadap sesama dan merasa paling suci daripada yang lain. Yang mereka kejar hanyalah bagaimana bisa memanfaatkan orang lain untuk tujuan yang lebih cenderung finansial dan fasilitas hidup seperti kendaraan, rumah, dsb. Menimbang kecerdasan masyarakat kita belakangan ini, mestinya gerakan semacam nii kw9 mestinya telah diambang kebangkrutan. Jika mereka masih tetap eksis, muncul pertanyaan, apakah mereka memang sengaja diciptakan agar kita rakyat endonesya selalu berada dalam masalah seperti itu?Oia mas Bahtiar, soal wawancara saya yang ada di icdw, bahasa indonesianya bisa dilihat di sini : http://www.commongroundnews.org/article.php?id=21682&lan=ba&sid=1&sp=0Kapan-kapan kita kopdar khusus rehabilitasi yuk?

    • bahtiar 7:12 pm on November 16, 2009 Permalink | Balas

      Benar Sdri. Syawa, NII AL ZAYTUN akan menggunakan segala cara demi mendapatkan anggota baru dan setoran infaq.

    • syawa 4:51 pm on November 14, 2009 Permalink | Balas

      Gara-gara kenal ma orang NII KW 9, sekarang saya jadi suka berhati-hati sama semua orang yg menghubungi no.Hpku, semoga ini bukan suudzon. Kemaren aku ngikutin ide mas Bahtiar buat ngasih tau situs ini, eh ternyata dia nggak mau ngaku. orang aku udah ngumpulin bukti2.Setelah itu,ada sms2 aneh yang katanya dr telkomsel klo aku dpt hadiah,aku diemin aja.Kalau memang dia orang NIIKW 9,aku bisa baca kenapa dia masih ngejar2 aku, yaitu satu secara finansial, meski aku bukan anak org kaya, aku udah lulus kuliah, yang kedua tampaknya mereka jeli melihat kalau aku mantan ADK kampus, yang ketiga ada mimpi untuk memperkosaku secara halal. Seandainya mereka baca ini, aku mohon ayo kembali, aku kasihan pada orang tua kalian.Sudah aku katakan sesuatu akan mungkin jika Allah menghendaki, tapi Allah takkan meridhoi umatnya bersatu dalam kesesatan.Aku mohon kembalilah, aku sayang sama kalian semua.

  • Bahtiar 4:27 pm on October 30, 2009 Permalink | Balas  

    PASCA KELUAR DARI NII KW 9 

    Bersambung dari [AKHIR PENYUSUPAN DI NII KW 9]

    Terkukung lumayan lama dengan masalah NII, membuat saya terbagi konsennya dengan kuliah, meskipun nilai saya Alhamdulillah nggak jatuh. Saat itu sore hari, sudah terhitung bulan saya nggak pernah nge net lagi buka situs NII. Mungkin sudah waktunya berbagi, tapi karena ingin konsen dengan kuliah dan skripsi, saya nggak mau buka situs NII lagi untuk sementara. Mungkin rasanya seperti merobek luka yang belum lama kering dan saya nggak mau konsentrasi studi saya buyar. Tetapi sore itu rasanya lain, entah angin apa yang membawa kaki saya, yang sudah berjalan pulang dan kembali lagi ke kampus, ke perpustakaan. Perpus sudah mau tutup, tapi saya bersikeras tetap didalam dan membuka situs NII untuk pertama kalinya sejak saya kabur dari mereka. Dan saya kaget, karena dari situ, ada satu tulisan, yang sepertinya mengeluarkan kata2nya dengan emosi, marah dengan NII. Karena gara2 NII dia banyak dibohongi dan menyakiti hati orang2 terdekatnya. Dan yang membuat saya benar2 terpaku, dibawah tulisan itu, ada no.HP Aldi, tetapi dia menggunakan nama cewek. Memang, khas Aldi, jika tidak mau diketahui idenstitasnya dia menyamarkan dirinya jadi cewek. Berikut ini adalah tulisan yang saya copy-pastekan dari situs NII itu .

    “Informasi telah terbuka begitu lebar, bila kita mau membuka pikiran dan membuka hati, maka sebenarnya mudahlah bagi siapa saja untuk mengetahui kebusukan dan kebaikan. Hanya saja orang lebih suka bersembunyi di ruang-ruang tertutup dan Ekslusif, dengan di nina bobokan oleh jargon YANG PALING BENAR, maka terasa Bangga sekali dan dah pasti mewarisi Syurga, padahal hanya dibodohi.

    Para perancang Jebakan tahu persis watak orang Indonesia, yang bangga bener kalau dah beda ame orang lain, apalagi diembel-embeli kata-kata “Paling”. Udah deh menikmati bener HALUSINASI yang diciptakan untuk membuat orang seperti KERBAU atau ROBOT, berbuat dan bertindak dengan melepaskan Rasionalitas dan Hati Nurani. Semuanya demi “Kelompok saya Yang Paling Benar”, padahal yang paling benar hanya Allah swt, lainya hanyalah menafsirkan sebagaimana pikiran manusia yang lain yang sangat terbatas.”

    Vita – Alumni NII KW – 9
    HP : 0852 815 85 190

    Jadi, dengan kata lain, melihat tulisan dan no.HP, itu adalah Aldi. Senang sekali rasanya kalau memang itu Aldi. Saya mencoba buat komen dibawah tulisannya. Coment saya seperti ini:

    • to mbak vita :

    “saya setuju sekali dengan pendapat anda, sangat setuju sekali,,
    saya juga merasakan seperti itu, saya menyakiti banyak orang, orang2 terdekat saya, saya sudah memaki2 mereka, saya lakukan apapun asal kedok saya tidak ketahuan, beberapa orang dekat mendekati saya untuk menjauhkan saya dari NII, tapi saya nggak peduli mereka, bahkan orang paling dekat denagn saya telah saya putuskan hubungan saya nggak mau ketemu dia lagi, kalo berpapasan saya pura2 menganggap dia tidak ada, saat itu saya merasa, “yah, emang harus seperti itu” dan saya telah memfitnah orang demi keeksisan saya di NII, lambat laun saya mengerti pemikiran mereka, jadi seperti itu lah, beberapa pemikiran mereka tidak sesuai dengan perkiraan saya, apa yang anda utarakan sama persis dengan yang saya rasakan..
    saya butuh teman untuk berbagi, seperti mbak vita juga, maukah kita sama2 berbagi pengalaman dan mengayomi teman2 kita yang masih berada didalamnya? apakah anda sudah berhasil meminta maaf ke orang2 terdekat anda? saya, tidak punya keberanian untuk itu, saya terlalu tidak memilki hati nurani lagi saat menyakiti mereka..
    saya telah menghubungi nomor anda,,tapi tidak aktif. saya harap kita bisa mendiskusikan ini semua. Saya tunggu dimana bisa menghubungi anda, saya sedikit mendapat pencerahan ada yang sependapat seperti saya, persis sekali dengan pemikiran saya, saya tunggu kabarnya. Terimakasih.”

    Saya tidak menulis nama. Sengaja. Lagian yang saya tuliskan tidak benar2 terjadi cuma kedok doank karena sengaja memancing Aldi. Sebenarnya ada rasa sedih, kenapa kalau sudah keluar, tapi nggak coba mau berkomunikasi lagi sama saya. Apa dia masih berpikir bahwa saya masih orang kanan? Sehingga takut terjerumus lagi? Atau nggak mau tau sekali lagi segala hal yang berbau dengan NII. Kemudian saya mencoba miskol ke no. HP nya, tapi tidak aktif. Agak aneh sebenarnya, jika memang ingin berbagi, kenapa no.HP yang diberikan sudah tidak aktif. Mungkin nggak pengen identitasnya ketahuan, atau masih agak trauma dengan yang terjadi sehingga masih sulit membuka diri. Itu jelas dan bisa dimaklumi.

    Dalam hitungan hari sampai minggu, saya mencoba tunggu balesan komen saya tapi nggak pernah dibalas. Saya berpikir, yang penting kalau itu memang benar Aldi, saya sangat bersyukur dia mau keluar. Meskipun bukan hasil jerih payah saya mengclearkan pikiran dia, membuka mata hati dan perasaan dia, tapi saya jadi merasa kunjungan saya hijrah di NII tidaklah sia-sia. Itu semuanya dari ALLAH. Kemudian dalam hitungan 1 bulan, ada sebuah tulisan di topik NII yang lain, tulisan itu seperti menceritakan sedikit apa yang terjadi, dan dari tulisan dia yang penuh dengan curhat-an, ada kalimat yang seperti mengcopy-paste-kan saja comment saya. Ini tulisannya :

    “Saya setuju sekali dengan situs ini, sangat setuju ….
    Demi ikut NII KW 9 saya menyakiti banyak orang, orang2 terdekat saya, saya sudah memaki2 mereka, saya memfitnah mereka, saya lakukan apapun asal kedok NII KW 9 saya tidak ketahuan. Beberapa orang dekat mendekati saya untuk menjauhkan saya dari NII, tapi saya nggak peduli mereka, bahkan orang paling dekat dengan saya (pacar) telah saya putuskan, saya nggak mau ketemu dia lagi, kalo berpapasan saya pura2 menganggap dia tidak ada.

    Saat itu saya merasa, “yah, emang harus seperti itu” dan saya telah memfitnah orang demi ke-eksis-san saya di NII, walau hati saya juga merasa pedih, karena saya tidak mungkin mengaku ikut NII KW 9 kepada temen2 saya ….

    Lambat laun saya mengerti pemikiran NII KW 9, beberapa pemikiran mereka tidak sesuai dengan hati nurani saya …

    Segala hal yang situs ini sampaikan sama persis dengan yang saya rasakan … saya jadi dilema dan ragu, apa yang NII KW 9 janjikan saat tilawah ternyata bohong semua, hidup saya jadi kacau, kuliah saya amburadul, pekerjaan saya ikut terbengkalai, hubungan saya dengan orang tua jadi renggang, saya dijauhi temen2 yang dulu saya tilawah tapi tidak ikut masuk NII KW 9, saya harus berbohong pada orang tua untuk mendapatkan uang demi pemenuhan infaq, rasa percaya diri saya hilang … apakah Islam seperti ini yang Nabi tanamkan pada umatnya …. ???

    Saya butuh teman untuk berbagi, semoga saya mendapatkan temen di situs ini, maukah kita sama2 berbagi pengalaman dan mengayomi teman2 kita yang masih berada didalamnya ?

    Apakah anda sudah berhasil meminta maaf ke orang2 terdekat anda ? saya, belum punya keberanian untuk itu, saya butuh kekuatan hati nurani lagi … saya malu, apakah pembaca merasakan hal yang sama ?

    Saya membutuhkan nomer2 telpon/HP yang bisa dihubungi, saya harap bisa membagi ini semua, terlalu berat hidup saya menanggung ini semua, saya butuh terapi penyembuhan, saya tunggu dimana bisa menghubungi pembaca semua yang mengalami saya seperti saya, saya mendapat pencerahan dengan membaca situs ini, persis sekali dengan yang saya alami.

    Please tolong saya ….”

    Zakiyah : azkiya_05@yahoo.com

    Ini adalah tulisan yang saya temukan. Anehnya, tulisan ini kok hampir sama dengan comment saya buat tulisan Vita alias Aldi ya? (gak ta niy Aldi beneran or ga, yang jelas itu no.HP Aldi). Coba cocokkan, yang saya Bold itu adalah tulisan yang sama persis, tetapi untuk yang tulisan terakhir diatas, ada penambahan sedikit. Salah satu contoh kalau saya tuliskan bahwa: “ Saya terlalu tidak memilki hati nurani lagi saat menyakiti mereka.”, Tulisan diatas bilang : “Saya Butuh Kekuatan Hati Nurani Lagi….”

    Kalau tidak ada kalimat saya yang seperti di copy-paste-kan saja dari pertanyaan saya untuk Aldi sebulan kemarin, saya tidak akan berpikir orang itu kemungkinan Aldi. Meskipun dari curhatan dia, mirip dengan kisah Aldi. Terlalu banyak kemungkinan sebenarnya. Kemudian dibawahnya ada emailnya pula azkiya_05@yahoo.com. Tapi aneh lagi, itu bukan emailnya, dan lagian itu email nama wanita. Bisa jadi memang dia sengaja. Saya merasa cukup terharu waktu itu, kalau memang dia nggak punya muka. Lagian sebenarnya saya sudah lama tidak mengingat lagi bagaimana dia memperlakukan saya dan memfitnah saya. Itu hal yang wajar jika di NII. Yang terpenting sekarang, tak peduli itu Aldi atau bukan meskipun saya waktu itu diatas 50% yakin itu Aldi, tak peduli juga dia menghubungi saya lagi atau nggak, bagaimana dia menilai saya, atau pikirannya pada saya apakah saya masih bersama orang NII atau dia sudah tau bahwa saya berpura-pura, nggak pernah penting lagi, karena memang yang paling penting bagi saya Aldi sudah keluar. Dia sudah merdeka dari NII.

    Bersambung ke [SELALU KRITIS TERHADAP DOKTRIN NII KW 9]

    Ditulis ulang oleh :
    Bahtiar Rifai
    Mantan NII KW 9
    HP. 08132 8484 289
    Email : bahtiar@gmail.com
    Ilustrasi diambil dari situs [ini]

     
  • Bahtiar 4:09 pm on October 30, 2009 Permalink | Balas  

    AKHIR PENYUSUPAN DI NII KW 9 

    Bersambung dari [WAHYU TURUN DI PESANTREN AL ZAYTUN]

    Saya diajak ke Bogor hari itu, katanya untuk bertemu saudara-saudara yang ada disana. Tapi nggak jadi. Ada perubahan rencana. Setelah ketemu sama Umi S ,dia membolehkan saya mencari Aldi. Abi izat, yang begitu baik sama saya, langsung mengiyakan ketika saya meminta dia untuk menemani saya mencari Aldi di kosannya. Apes, tentu saja Aldi tidak ada ditempat. Lalu saya diajak menginap di rumah salah satu Abi, yang sudah punya istri dan anak baru berumur sebulan 2 bulan. Abi ini yang ada di desa 5, yang tidak punya biaya saat istrinya melahirkan. Rumah abi ini dekat carefour lebak bulus tapi naik 2 angkot lagi dari situ. Tapi si abi jarang di rumah, saat saya disana Abi itu jam 12 malam keluar, katanya rapat penting dengan atasan. Meninggalkan istrinya yang baru melahirkan dan bayinya. Waktu itu umi (istrinya) bilang sudah biasa mereka di tinggal berdua. Abi Izat juga sudah pulang ke rumahnya, dan minta ongkos balik ke rumahnya sama saya, katanya dia kehabisan duit.

    Besok pagi, saya benar-benar merasa tertekan karena hari itu jadwalnya untuk ke Bogor, bertemu dengan saudara-saudara yang lain. Tapi, saya berniat untuk pergi mencari Aldi. Sendirian, sebelum Abi Izat datang. Dengan memberanikan diri, saya berusaha mencari Aldi, ke rumah Sakit tempatnya koas , tapi dia nggak ada. Kemudian ke kosnya, nggak ada juga. Katanya, dia pergi dengan teman wanitanya, teman satu kuliah. Saya berniat menunggu. Karena saya ingin benar-benar bertemu sama Aldi. Yang membuat saya khawatir, kenapa saya nggak sekalian bawa tas waktu pergi, karena dalam tas saya ada buku harian yang berisi rahasia saya tentang NII. Semoga tidak dibaca waktu itu, karena saya masukkin ke dalam tumpukkan baju. Ingin sekali rasanya setelah ketemu Aldi saya bisa langsung cabut ke kota saya naik kereta pertama, tanpa perlu lagi bertemu orang NII selamanya. Ketika sedang menunggu, teman sebelah kamar Aldi, namanya Baim, dia sempat ngobrol sama saya. Kemudian ada teman lainnya namanya Chandra. Baim sempat tanya sama Chandra tentang kemana perginya Aldi, tapi Chandra kelihatan banget seperti tidak suka dengan kedatangan saya. Entah perasaan saya juga tidak nyaman dengan dia. Kemudian, belum berapa lama, dia keluar dari kamar, dan bilang sama saya, kalau Aldi pergi ke Tulugangung. Saya jelas nggak percaya, nggak mungkin banget. Kemudian dia sempat bilang “ Ya kalo nggak ada ya nggak ada, niy baca sendiri smsnya.” .Isi inbox itu, bukan nomor Aldi, tapi gaya smsnya memang itu Aldi, katanya

    “ Bilang aja sama cewek itu, saya pergi ke Tulungagung naik kereta “. Saya bingung, kok smsnya gitu, kemudian rasa penasaran saya beralih ke sent item-nya. Saya baca sms yang dia kirim buat Aldi, katanya “ Al, ada cewek dari kota L cari kamu, katanya dia pengen nungguin kamu sampai kamu pulang “. Dan tadi yang diatas itu balesan Aldi, yang kata “ Bilang aja…” jelas itu merupakan kalimat ngeles, penolakan, pengecut dan ingin sembunyi. Saya memperlihatkan sms itu sama Baim, yang kemudian senyum masam aja. Tak lama ketika Chandra sudah berangkat kerja, Baim, sempat heran, ada apa sebenarnya. Lagi-lagi, sifat saya yang suka blak2an kalau udah nyesek di dada nggak peduli dia siapa kembali lagi. Saya cerita semuanya apa yang terjadi. Baim yang kerjanya supir ambulans itu jelas kaget. Dari ekspresi wajahnya, saya yakin dia bukan NII. Dan saya bercerita pada orang yang tepat. Karena, dia bilang, abang dia udah 5 tahun nggak pulang karena ikut aliran itu. Setau dia, abang dia pernah pulang waktu tiba2 bawa foto2 cewek, yang ditanyakan sama ibunya mana yang paling cantik untuk dinikahi. Setelah menikah, dia jadi jarang pulang. Mas Baim, dia cukup prihatin dengan keadaan Aldi dan berjanji kalau Aldi pulang dia mau sms saya.

    Kembali ke rumah orang NII jelas merupakan pukulan bagi saya. Saya nggak mau balik, dan menyesal sekali meninggalkan tas saya disana. Hari itu, dengan baju melekat di badan saya menginap di tempat kos temen saya waktu SMU. Saya nggak balik ke rumah Abi itu. Handphone saya juga tidak dihubungi2 sama orang NII. Mungkin mereka marah karena saya sudah pergi tanpa pamit padahal mungkin saja schedule saya waktu itu penuh sama mereka. Besok, pagi-pagi sekali jam 6 shubuh saya sudah pergi ke tempat Aldi, kali ini saya benar2 mau mengajak dia ngomong dari hati ke hati. Mas Baim bilang Aldi semalam nggak pulang, tapi setelah sampai di kosan Aldi, saya tau Aldi ada didalam mau ke Rumah Sakit. Saya mengetuk pintu, Aldi membuka dan tampak terkejut, was-was dan berusaha kelihatan tidak tau apa2, mungkin memutar otak cari alasan apa yang membawa dia kembali begitu cepat dari Jakarta-Tulunagung-Jakarta lagi hanya dalam waktu sehari. “ Hai, mau ngapain kesini” .Sapaan basa-basi, pura2 tak ada yang terjadi. Saya bilang saya mau ngomong, tapi karena Aldi mau berangkat kerja, dia menyuruh saya tinggal istirahat dikosnya dan titip kunci kalau saya sudah mau pulang,,Fyuh, kali ini saya nggak mau kalah. Saya harus bisa ngomong sama dia. Meskipun waktu itu rasanya lelah sekali, tapi saya nggak bisa berdiam lebih lama, kembali pada janji saya, terbayang lagi wajah orang tuanya,dan saya, gadis bego sok tau dengan keingintahuan yang sudah akut, ego besar dan tidak puas jika masih ada yang mengganjal, membuat saya rela nungguin Aldi sampai selesai koas. Aldi berjalan bahkan tidak mau dekat2 saya, seolah nggak kenal,dia bahkan nyari nomor Umi S buat kasih tau saya ada dimana. O-oh, tolong jangan. Jangan sekarang saya bertemu Umi S. Tapi untung waktu itu nggak jadi. Saat saya tanya, mau nggak bantuin saya menjenguk kakek dan nenek yang sekarang sedang sakit, dia nggak mau. Rencananya mau diajakkin ke rumah orangtua mas H (Mantan pacar Mbak Anlene), biar dia tau keadaannya gimana. Dan jelas Aldi nggak mau ada ruang lebih lama dengan saya. Tetapi Aldi, yang waktu itu mungkin masih memiliki sedikit hati nurani, menghargai perjuangan saya yang nekat ketemu orang penting di NII seperti dia, dengan membolehkan saya menunggu di ruang tunggu tempat dia praktek di rumah sakit.

    Belum berapa lama, sekitar setengah jam menunggu, Aldi mengusir saya dari situ, dia bilang saya beban buat dia. Iya, sudah jelas. Dia nggak mau saya tungguin, padahal dia sudah janji sama saya boleh ditungguin. Dia mengantar saya sampai dapat angkot, karena saya nggak tau arah untuk mengambil tas saya dirumah si Abi. Dalam perjalanan, saya mencoba mengorek2 lagi sama dia, saya mengeluh, kenapa harus orang kaya, kemarin saya dapat taftis tapi ditolak hanya karena dia miskin, tapi Aldi bilang memang harus begitu, dan diam nggak mau bahas itu lagi. Saya tau. Sudah jelas jawabannya, ini akhir kunjungan singkat saya di NII. Aldi, sudah terlampau jauh kepercayaannya, dia bahkan nggak peduli dengan cerita nyata yang saya ceritakan sama dia tentang Bayu yang ditolak didekati hanya karena dia dipandang nggak punya apa2 buat hijrah. Sebelum naik angkot, saya minta untuk terakhir kalinya, Aldi menatap mata saya, jika kata orang mata nggak bisa bohong saya ingin buktikan saat itu juga. Dan dari cara dia menatap, saya mendapat sedikit kerinduan di mata dia untuk bisa bersikap sewajarnya saja sama saya, tanpa harus bersikap kasar, saya langsung memalingkan wajah dan Aldi akhirnya tertawa, kembali ke sikap dia yang semula, tak peduli. Perjalanan ke rumah sang abi cukup jauh, setelah sekitar 3 kali ngoper, sampai juga di rumahnya, daerah Lebak Bulus. Sampai disana, saya sempat disuruh makan, tapi saya cuma ngambil tas dan langsung pengen cabut. Tapi si umi menahan saya, katanya saya dicari Abi Izat, dan harus lapor dulu. Diruangan salah satu rumah, ruangan tertutup yang kata umi ruangan itu nantinya akan dipakai untuk tempat proses hijrah, ada telepon dan saya boleh memakainya untuk nelpon Abi Izat. Seingat saya, waktu itu nomornya nggak bisa dihubungi. Tak lupa berucap trimakasih karena sudah boleh menginap disana (Biar bagaimanapun abi dan umi itu baik sekali sama saya, dan saya prihatin dengan keadaan mereka). Saya pamitan, dan segera meluncur mencari kereta terakhir ke kota saya, dan apesnya, karena perjalanan yang begitu jauh saya ketinggalan kereta, akhirnya saya dapet tiket tanpa tempat duduk dan setelah itu ngoper kereta lagi. Saya nggak peduli, biarlah saya dicap seperti apa, yang penting saat itu saya benar2 pengen lari dari mereka sejauh mungkin dan buang jauh2 keinginan untuk bisa bersama mereka lagi.

    Sampai di kota saya, saya sempat telpon sama Abi Izat, katanya lain kali jangan main lari gitu aja. Abi Izat yang begitu baik sama saya dan nggak pernah marah, saya akan selalu ingat kebaikannya. Abi Izat ini keadaannya sangat memprihatinkan, semakin lama badannya makin menciut, seperti tulang belulang, dan dalam keadaan seperti itu dia juga harus tetap menjalankan tugasnya di NII. Bahkan sempat opname kecapean, Typus kalau nggak salah. Setelah telpon beralih ke umi S, kita saling bantah-membantah, tapi saya nggak peduli lagi, saya tetap bersikap tenang, saya bilang keberatan2 saya, dari hal yang paling dasar, kenapa kalau mau Islam seutuhnya harus milih dan harus punya mobil. Umi S bilang saya memang keras kepala, dan ini yang membedakan saya dan Aldi, begitu katanya. Suara umi makin lama makin meninggi, dan saya cuma ketawa dikit dan bilang “ Jangan pake urat, mi…”, dia bilang gini ‘ siapa yang pake urat…? Dasar kamu itu keras kepala”, si umi bilang begitu tapi suaranya malah makin meninggi, jelas-jelas pake urat. Saya langsung mengucapkan salam dan menutup telpon, padahal si umi masih ngomong diseberang sana. Sudahlah. Kisah NII ini sudah tamat bagi saya saat itu. Dan masalah Aldi, sudah cukup saya berusaha, selainnya saya serahkan sama yang diatas. Saya nggak pernah merasa menyesal, sama sekali nggak. Saya malah senang karena bisa dapet pengalaman pahit2 manis bersama NII, tanpa bisa terseret masuk ke dalam.

    Bersambung ke [PASCA KELUAR DARI NII KW 9]

    Ditulis ulang oleh :
    Bahtiar Rifai
    Mantan NII KW 9
    HP. 08132 8484 289
    Email : bahtiar@gmail.com
    Ilustrasi diambil dari situs [ini]

     
  • Bahtiar 3:59 pm on October 30, 2009 Permalink | Balas  

    WAHYU TURUN DI PESANTREN AL ZAYTUN 

    Bersambung dari [KASTA KESEJAHTERAAN PETINGGI DIBANDING RAKYAT BAWAH NII KW 9]

    Terakhir kali sekitar Januari-Februari 2008 saya kembali ke Jakarta. Saya bertekad untuk menemui Aldi dan kali ini nekat mau mengambil videonya. Apa saja yang ganjil dari dia.

    Sampai di Jakarta, saya bertemu dengan umi S bersama abi Izat. Belum apa-apa, saya sudah dimintai uang lagi 50 ribu untuk infak kurban. Kemudian mereka meminta saya untuk ketemuan dengan temean chattingku yang namanya Bayu, anak SMU. Sekali lagi, saya mengakui kebodohan saya sendiri, saya mempertemukan Abi Izat karena katanya hari itu mau perkenalan dulu. Semoga tidak berlanjut. Akhirnya kita ketemuan di Blok M, ketemuan sama Bayu dan kakak sepupunya. Abi Izat memancing pembicaraan, dan rada kurang tertarik sama mereka, meskipun Abi Izat tetap minta nomor telepon rumah. Seusai pertemuan, Abi Izat bilang bahwa mereka orang kampung, miskin, tidak bisa dijadikan target. Apalagi waktu itu abi sempat bilang bahwa saya harus cari orang yang punya mobil agar kalau TL seperti ini kita nggak perlu kepanasan. Beneran waktu itu saya benar-benar marah, bkannya marah karena si Bayu nggak diterusin prosesnya, saya malah bersyukur banget si Bayu nggak diproses, tapi saya marah dengan cara nyebelin mereka itu. Saya memulai perdebatan sepanjang perjalanan, kenapa memang kalau mereka miskin,dan kenapa harus yang punya mobil dengan alasan rendahan seperti itu, Islam itu tidak pernah memilih-milih, dan banyak argumen yang saya katakan sampai abi Izat tidak tau harus berkata apa. Katanya dia dulu juga seperti saya, mempertanyakan! Tapi lama-kelamaan dia jadi mengerti memang harus begitu. Fyyuuuhh! Sudah gitu sebelumnya saya ketemuan juga sama petingginya. Waktu saya tanya kenapa dananya buat megah2in gedung pesantren nggak disalurkan buat orang2 yang kelaparan atau orang2 yang memerlukan gitu? Si Abi petinggi itu malah nanya balik, “ Kalau kamu jadi presiden apa yang kamu lakukan ?”. Yah, saya jawab aja saya mementingkan pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Trus Si Abi itu bilang, yang lain bisa menunggu, intinya pusatna dulu dibangun. Lho?kalau dananya Cuma bangun gedung doank, rakyat kita udah keburu busung laper tunggu pesantren dan tetek bengeknya selesai dibangun. Dia juga menambahkan bahwa pemimpin pesantren Az –Zaytun dapet wahyu langsung, yang menemukan Asmaul Husnah yang ke seratus. Abi itu lanjutin,

    “ Tapi nggak tau juga sih,,katanya gitu,”. Uhhh… rasanya masih mau terus mengajak debat orang itu. Tapi sudahlah!!! Tutup buku! Tidak ada gunanya meneruskan berdialog dengan kebodohan dogmatis!

    Bersambung ke [AKHIR PENYUSUPAN DI NII KW 9]

    Ditulis ulang oleh :
    Bahtiar Rifai
    Mantan NII KW 9
    HP. 08132 8484 289
    Email : bahtiar@gmail.com
    Ilustrasi diambil dari situs [ini]

     
  • Bahtiar 3:49 pm on October 30, 2009 Permalink | Balas  

    KASTA KESEJAHTERAAN PETINGGI DIBANDING RAKYAT BAWAH NII KW 9 

    Bersambung dari [NII KW 9, HIDUP SELALU BERSANDIWARA]

    Ada rasa khawatir sebenarnya, melihat orang2 itu, petinggi2nya seperti pak IK, pak AN, pak IQ, mereka bertiga terllihat lebih sejahtera, segar bugar dengan perut buncit, tapi lihat bawahan-bawahannya, abi2 yang di desa 1, keliatan kalo dia orang susah, abi I dan istrinya di desa 2, yang sepertinya kehidupannya juga susah, kosnya aja seperti nggak ada isinya, katanya barang2nya masih di bekasi, dan dia nggak punya duit 250 ribu untuk ngangkut semuanya, ya ampun, 250 ribu ? Bukannya gimana2, tapi yang saya tau abi itu kerja di kantor yang lumayanlah, kemana aja duitnya? di desa 5, abi yang istrinya melahirkan, dan disinggung tentang dia yang nggak punya duit untuk biaya istrinya melahirkan, kalo nggak salah karena duitnya dipake buat bayar apa gitu, dan si umi S, yang di critakan nggak pernah ketemu orang tuanya lagi, udah lama banget nggak pulang ke rumah.. apa dia di usir atau lari? (Padahal si Umi S ini ngakunya anak kedokteran,,, kalau ditanyain kok nggak pernah kuliah, pasti jawabanya muter2).

    Sepertinya, perjalananku belum bisa berakhir disini, Aldi udah percaya sama saya, tinggal si NII aja,, walau saya tau mungkin sulit buat nyadarin Aldi nantinya, tapi saya nggak pengen, dia jadi melarat kayak gitu,, biar bagaimanapun, dia di kuliahin jauh2 ke ke Jakarta, bukan untuk jadi seperti mereka, tapi bahagiakan orang tua, gimana jadinya nanti, kalo duitnya lari ke NII semua? Sejenak ada rasa ingin tinggalin Aldi disini, udah males, karena sepertinya Aldi bahagia2 aja di NII, tapi saya nggak bisa terima kalo gitu kenyataannya. Maksud saya, jika nasib Aldi seperti abi2 di desa itu, saya nggak tega, dengan keluarganya Aldi terlebih. Dan minimal jika Aldi jadi petinggi, dimana perasaannya melihat abi2 yang jadi bawahannya itu, karena saya tau, Aldi salah satu anak emas mereka. Tampan, cerdas dan berdedikasi. Orang seperti itu yang kemungkinan besar selalu mereka cari.

    Bersambung ke [WAHYU TURUN DI PESANTREN AL ZAYTUN]

    Ditulis ulang oleh :
    Bahtiar Rifai
    Mantan NII KW 9
    HP. 08132 8484 289
    Email : bahtiar@gmail.com
    Ilustrasi diambil dari situs [ini]

     
    • faiza 9:44 am on Februari 1, 2012 Permalink | Balas

      Assalamu’alaikum temen saya sudah ada yang terkena doktrin nii kw 9. Bagaimanakah cara menyadarkannya? Mohon tipsnya agar kita tidak terpengaruh oleh doktrin2 agama sesat. terimakasih

c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Balas
e
Sunting
o
Show/Hide comments
t
Pergi ke atas
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Batal