EMPAT BULAN DI NII

Seorang sahabat di facebook berbagi cerita pengalamannya ikut NII, semoga menjadi manfaat bila dibaca sahabat mantan NII ataupun saudara yang masih aktif di NII :

Terimakasih atas kesempatan untuk berbagi cerita,

Keikutsertaan saya tidak lama di NII hanya 4 bulan. Pertengahan 1996 seorang teman aktivis ROHIS mengajak saya dengan alasan dirumah teman dibilangan Lebak Bulus ada pengajian bulanan. Disana kita bisa diskusi tentang agama. Sesampai disana bukan pengajian tapi lebih kepada brain storm. Saya dan 4 orang lain dibuat seakan kita salah negara, hidup selama ini dosa semua tanpa ada pahala krn salah negara, yg beda negara kafir jd tidak pantas di hormati kecuali pipmpinan tertinggi NII. Untuk pindah negara (hijrah) ada sebuah pengorbanan untuk menebus semua itu. Saat itu saya harus menipu teman ( atas saran yang mengajak saya ) sebesar 3juta dengan alasan ayah saya akan operasi. Setelah urusan admin selesai seminggu kemudian saya dibawa ke daerah terminal lebak bulus, dilanjutkan ke daerah kebayoran lama. dari sana mata saya ditutup untuk ke rumah pendoktrinan. menginap semalam disitu setelah subuh saya dibawa untuk menjemput orang-orang lain dan setelah keluar pintu tol bekasi barat mata saya ditutup kembali. sampai disana kita semua di baiat. Selesai itu semua kita dikembalikan ke MALL masing-masing.

Setelah 4 bln iuran ( istilah mereka infaq,sedekah sama saja dengan pajak yang dibayarkan ke NKRI hanya ini dibayarkan ke NII setiap 15 tiap bulannya menurut kalender Islam patokannya adalah bulan purnama sebelum berubah ke bulan sabit lg iuran harus sudah ada dan digunakan di jalan ALLAH katanya ) saya mulai ada perasaan ini bukan jalannya. sampai suatu pagi saya saat saya pulang ke rumah orang tua saya ditlp dengan “abi” bahwa jangan ke MALL karena sudah digrebek kepolisian. saya bilang saya tidak akan ikut ke MALL manapun karena saya kembali ke orangtua saya.”abi” bilang setiap perbuatan ada balasannya kecil dan besar. 3 hari kemudia teman yang mengajak saya datang. Dia bilang semua kegiatan saya sudah dipelajari. dan saat futuh nanti orang2 yg keluar tidak akan diterima tobatnya dan akan dipancung. Karena telah jadi penghianat.dan akan terjadi tahun 1998. saya bilang “saya cape, hidup saya hanya nunggu bulan purnama untuk iuran. jika itu resikonya saya terima”.

tahun 1998 saat saya sedang baca buku mengenai DII / TII seorang teman kampus menanyakan kenapa tertarik membaca buku itu. lalu saya diajak diskusi dan kembali mulai ada brainstorm. ternyata dia seorang “abi” didaerah pasar minggu. saya bilang saya adalah pengkhianat NII dan akan dipancung tahun ini. saya tanyakan kapan tepatnya futuh. Dia bilang dana sedang difokuskan ke pembangunan negara ( sebuah pesantren ), saya tegaskan kapan futuh dia jawab nanti ada saatnya.lah bagaimana bisa ngaku negara klo futuh aja belum tapi negara sudah dikembangkan ????????

sampai detik ini kel saya masih tidak tahu catatan hitam saya ini
Ayah dan ibu, aku lebih memilih bersama kalian walau dibilang kafir. karena kalian yang bekerja keras membesarkan aku. maaf jika barang digudang ada yg kalian tidak sadar berkurang. tapi aku ndak brani untuk bilang.

Jadi saya bilang ini kegiatan omong kosong.
apa yang harus dibuktikan, sudah 14 tahun buktinya hanya pengembangan ponpes. kalian tidak pernah tau hari ini sudah jadi apa para penghianat NII yg 14 tahun lalu masih SMU.

Yg masih menunggu pembuktian

Hardi

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Ilustrasi diambil dari situs [ini]
Email & facebook : bahtiar@gmail.com

Iklan