KISAH YANG TERPENDAM

Disebut KISAH YANG TERPENDAM karena peristiwa ini terjadi 5 tahun yang lalu, pengen diceritakan bingung entah kepada siapa. Kisah tersebut dialami seorang pemuda lulusan SMP yang merantau ke Jakarta, sesampai di Jakarta diajak teman kostnya ikut ajaran Islam aneh. Beruntung di jaman sosial media sekarang ini, pemuda tadi ikut ber-facebook sehingga bersinggungan dengan facebook, nomer telpon, dan email admin web ini. Berikut rangkaian-rangkaian cerita yang beliau sampaikan dalam potongan-potongan sms :

Mas Bahtiar, saya kena ajaran tersebut mulai bulan Februari hingga November 2006, walau sebentar tapi sangat membekas di benak saya. Saya dikenalkan teman kost saya, pada temannya, kemudian diajak ke kontrakkannya di daerah Kampung Kelapa Gading Jakarta Utara. Pertemuan itu terjadi beberapa kali, hingga pada pertemuan ketiga saya diajak Hijrah, dengan syarat saya menginfaqkan semua uang yang ada di dompet, kira-kira 382 ribu, sampai saya tidak disisakan uang sama sekali.

Setelah itu saya dibiarkan pulang jalan kaki, padahal jaraknya sampai 23 KM. Pada pertemuan berikutnya saya diajak bertemu di daerah Blok M. Di sana sudah ada mobil Espass yang menjemput saya, ternyata di dalamnya sudah ada perempuan dan laki-laki yang jadi korban seperti saya juga, kira-kira semua berjumlah 6 orang di mobil tersebut. Di perjalanan kami disuruh menutup mata, pas sampai saya tahu itu daerah Ciledug. Kemudian saya dikasih materi-materi lagi, terus diajak membaca sumpah setia, tapi saya tidak ikut membaca, waktu itu saya masih berfikir hanya sebatas ingin tahu ajaran tersebut. Saya tidak menyangka ternyata di sana banyak juga orang yang menjadi korban, rata-rata muda-mudi. Walau saya tidak ikut membaca sumpah, saya juga disuruh ganti nama panggilan, dengan alasan nama asli saya adalah nama kafir. Setelah itu peristiwa hari itu, selanjutnya tiap minggu saya diajak pertemuan pemberian materi 3 x seminggu. Saya juga disuruh mengajak teman-teman saya agar ikut hijrah masuk ajaran ini. Saya ditargetkan memasukkan 12 orang perbulan atau 3 orang perminggu, tapi saya tidak pernah menjalankannya, saya tidak tega mengajak teman-teman ber-Islam tapi tertekan seperti ini. Merasakan ketidaknyamanan tersebut, saya sering menghindari pertemuan dengan mereka dengan alasan lembur kerja.

Mereka terus mengejar-ngejar saya, sampai ke tempat kerja, ke tempat kost. Bila mereka mendapati saya, saya pun dihujani cercaan kafir dan murtad karena berusaha menghindari mereka. Pikiran saya waktu itu antara takut dengan ancaman mereka dan tidak percaya. Ketidakpercayaan saya pada mereka dijawab dengan ayat-ayat tafsiran mereka. Saya jadi merasa hidup terombang-ambing dalam hati dan pikiran. Mau ibadah katanya sia-sia, tidak ibadah saya takut dosa. Selama itu juga saya merasa stress, saya merasa ada yang berubah pada diri saya, hati saya tidak tenang ikut ajaran ini, tapi tidak berani melawan. Teman-teman saya juga merasakan perubahan pada diri saya, tapi saya tidak berani bercerita terus terang pada mereka. Saya jadi temperamental gampang marah. Setiap ditanya oleh teman-teman saya, selalu saya tutup-tutupi atau saya alihkan pembicaraannya. Makin lama makin galau rasanya.

Selama itu juga uang gaji bulanan kerja saya dimintain terus, dengan alasan untuk mensucikan diri. Karena saya tertekan dan takut, saya pun memberikan uang tersebut pada mereka dan saya hanya disisain sedikit untuk hidup sehari-hari, praktis saya tidak punya tabungan lagi tiap bulan untuk saya kirim ke orang tua saya di kampung. Saya merasakan takut yang amat sangat waktu itu, saya selalu menghindari mereka bila memungkinkan, tapi meraka juga terus mencari saya dengan terus menelpon dan sms tiap hari. Yang paling menakutkan, katanya bila saya berusaha kabur saya akan tertimpa nasib sial, terbunuh di jalan raya, atau jatuh hingga cidera seumur hidup. Saya takut, tapi hati saya juga berontak. Saya kabur dari mereka selama dua minggu, saya pulang ke kampung halaman. Teman dan keluarga saya bertanya mengapa saya pulang dan mengapa saya jadi pendiam atau aneh atau seperti orang ketakutan. Tapi saya jawab dengan bohong atau mengalihkan pembicaraan termasuk pada orang tua kandung saya sendiri. Stress pokoknya …

Pas saya berangkat ke Jakarta lagi, saya ditemui oleh mereka lagi. Saya interogasi habis-habisan oleh mereka. Saya dicemooh dan sebagainya. Lalu saya ditanya kembali dengan perkembangan tilawah saya. Saya jawab dengan bohong bahwa saya sudah dapat calon tilawah di kampung tapi tidak mau diajak ke Jakarta.

Hari berikutnya, saya dipanggil oleh bos tempat saya bekerja. Bos menanyain saya dengan berbagai pertanyaan. Mulai dengan keanehan pada diri saya, saya selalu dicari dan pergi dengan orang itu-itu saja. Saya pun menjawab dengan kebohongan. Orang-orang NII mulai tahu bahwa saya sudah mulai dicurigai di tempat kerja. Mereka memaksa saya untuk pindah kerja, tapi saya menolak dengan alasan sudah nyaman di tempat tersebut. Hari berikutnya lagi, ada hal yang membuat saya tidak nyaman dan ingin keluar dari ajaran itu. Selain disuruh meninggalkan pekerjaan sekarang ini, saya disuruh meninggalkan orang tua, saya akan diajak entah kemana, mereka tidak menjelaskan. Saya disuruh merusak nomer hape yang lama dan disuruh beli yang baru. Saya dilarang pulang kampung untuk berlebaran dengan orang tua dan keluarga di kampung. Saya menghindar dari NII, tapi mereka datang ke kantor tempa saya kerja. Saya menghindar, saya pesan pada teman-teman agar melindungi saya dari kejaran mereka. Hampir orang-orang NII dikeroyok oleh teman-teman kerja saya, saat mereka tidak percaya bahwa saya tidak ada di sini.

Pada suatu pertemuan dengan mereka, mereka memaki-maki saya tanpa belas kasihan, menghina orang tua saya, dengan sebuatan orang tua saya kafir. Saya emosi dan naik darah. Maka saya hajar mereka berdua. Saya sendirian ternyata bisa melawan mereka yang berdua. Setelah perkelahian tersebut mereka tidak lagi mendatangi saya, tidak lagi menelpon saya, dan tidak lagi meng-sms saya. Sayapun menetapkan keluar dari ajaran mereka, saya muak dengan mereka !

Sejak saya melawan dan keluar dari ajaran mereka, baru kali ini bisa cerita pada orang lain yaitu pada Mas Bahtiar. Alhamdulillah hati saya lega Mas, plong rasanya. Itulah pengalaman pahit saya Mas, terima kasih telah bersedia mendengar / membaca sms-sms saya.

——

Semoga kisah ini dapat menyemangati teman-teman yang masih terjebak di ajaran tersebut untuk lebih berani bersikap dan melawannya.