MENEMUKAN PANCASILA DI ZAYTUN ?

Kepada Umat NII KW 9 di Idariyah atau Teritorial manapun berada,

Mari pulang sejenak ke rumah, tengoklah Bapak, Ibu, dan keluarga yang pernah ditinggalkan.

Saatnya merenungkan kembali perjalanan yang pernah ditempuh :

  1. Apakah dengan ikut NII KW 9, Ibadah kita menjadi lebih baik ?
  2. Apakah dengan ikut NII KW 9, kita jadi lebih menghormati orang tua ?
  3. Apakah dengan ikut NII KW 9, pendidikan kita jadi lebih fokus atau malah DROP OUT ?
  4. Apakah dengan ikut NII KW 9, karir pekerjaan kita jadi lebih terspesialisasi atau malah berujung P H K ?
  5. Apakah dengan ikut NII KW 9, kita menjadi pribadi yang lebih matang atau malah jadi temperamental mudah marah pada orang di luar NII KW 9 ?
  6. ………………………………………….. dsb

Bagi sahabat-sahabat pengikut aktif atau Mantan NII KW 9 Zaytun yang ingin berbagi pikiran tentang masalah-masalah di atas, silahkan menghubungi saya di :

  • HP : 08132 8484 289 (boleh SMS)

atau

Simak liputan berikut sebagai perbandingan :

Sumber : http://www.generasiindonesia.com/berita-248-.html

GENERASIINDONESIA-Bersamaan dengan peringatan Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945 ketika menyampaikan rumusan dasar Negara di depan sidang BPUPK, pada 1 Juni 2011 Lembaga Pendidikan Modern Al Zaytun mendeklarasikan starting day Masyarakat Indonesia Membangun disingkat MIM. Dalam deklarasi starting day ormas  tersebut, Menteri Agama, Gubernur Jawa Barat, Kepala BIN serta Kapolri yang sedianya hadir, diwakilkan oleh deputi di jajaran masing-masing.

Menteri Agama misalnya, diwakili Direktorat Jenderal Pondok Pesantren, Dr. H. Chaerul Fuad. Dalam sambutannya, memberikan apresiasi atas peringatan Hari Lahir Pancasila dan deklarasi MIM.

 “Peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi penting karena merupakan lahirnya falsafah hidup bangsa. Dan Pancasila adalah pijakan untuk mencapai tujuan dimana didalamnya terdapat nilai-nilai dasar yang harus diimplementasikan demi mencapai keadilan dan kemakmuran,” tegas Chaerul Fuad ditengah sambutannya mewakili Menteri Agama.

 Chaerul mencontohkan Uni Sovyet, akhirnya pecah karena tidak memiliki landasan dasar ideologis yang dapat mempersatukan pluralitas. Sebagai alat pemersatu, Pancasila telah berhasil mempersatukan pluralitas bangsa Indonesia sehingga tercipta harmoni social. “Maka tak perlu lagi diperdebatkan apakah Pancasila harus direvisi atau bahkan diganti,” ujarnya.

 Menanggapi isu yang mengatakan bahwa Al Zaytun menjadi pusat gerakan NII KWK-IX, Chaerul Fuad enggan menjawab, justru mengembalikan pada persoalan dideklarasikannya MIM. “Dari organisasi MIM, kita bisa melihat bahwa ormas ini meletakkan dasar ideologi Pancasila dan keinginan mewujudkan demokratisasi ekonomi. Jadi kita lihat saja implementasinya agar tidak hanya tertuang dalam tulisan sebagai visi organisasi.” Tegasnya.

 Sejauh pengamatan kementerian Agama, Ma’had Al Zaytun sebagai penyelenggara pendidikan modern yang mengembangkan budaya toleransi dan perdamaian ini, telah menjalankan tiga fungsi dalam hubungan kerja sebagai lembaga pendidikan dibawah Dirjen Pondok Pesantren Kementerian Agama dengan menjadi motivator, mobilisator dan aktor.

 “Saya pribadi mengapresiasi apa yang menjadi visi MIM dengan meletakkan dasar ideology pancasila dan demokratisasi ekonomi meski itu baru statemen, semoga jadi program konkret. Ini ucapan saya, ya. Bukan ucapan Menteri,” kata Chaerul setengah tergelak.

 Dengan iringan Mars dan hymne MIM, Abdul Halim, Sekjen MIM membacakan manifesto MIM yang isinya merupakan 9 tujuan atau amanat proklamasi  kemerdekan Indonesia merdeka yaitu  (1) Membangun untuk bersatu; (2) Membangun untuk berdaulat; (3) Membangun untuk adil dan makmur; (4) Membangun untuk memajukan kesejahteraan umum; (5) Membangun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; (6) Membangun untuk mewujudkan ketertiban dunia; (7) Membangun untuk perdamaian abadi; (8) Membangun untuk keadilan sosial; dan (9) Membangun untuk mempertahankan kedaulatan rakyat.

 Ke-9 tujuan merdeka diatas, juga dijadikan mars MIM yang bunyinya sebagaimana dibawah ini.

 Merdeka, merdeka, merdeka
Merdeka untuk membangun
Masyarakat Indonesia Membangun
Membangun untuk bersatu
Masyarakat Berdaulat adil dan makmur
Memajukan kesejahteraan umum
Mencerdaskan kehidupan bangsa
Mewujudkan kerertiban dunia
Perdamaian abadi, keadilan sosial
Mempertahankan kedaulatan rakyat

 Reff :
Masyarakat Indonesia Membangun
Tuju cita cita kemerdekaan
Masyarakat Indonesia Membangun
Menjunjung panji panji nasional
Menjunjung hak azasi manusia
Penyebar toleransi dan damai.

Sumber : http://www.generasiindonesia.com/berita-249-.html

GENERASIINDONESIA-Usai pembacaan manifesto Masyarakat Indonesia Membangun, orasi diberikan oleh Ketua Umum MIM, Syaikh A.S Panji Gumilang dengan penuh semangat. Berseragam hijau dan berkacamata hitam, Syaikh A.S Panji Gumilang menekankan tentang salah satu bukti tercapainya masyarakat Indonesia membangun adalah terwujudnya karakter luhur bangsa sebagaimana diajarkan dalam Pancasila.
Begitu selesai acara seremonial peringatan Hari Pancasila 1 Juni dan starting day Masyarakat Indonesia Membangun, Generasi Indonesia diajak Syaikh berkeliling kampus Al Zaytun yang asri, dan berakhir dengan ramah tamah sambil makan siang di Masyikhah yang merupakan kediaman Syaikh).

 Syaikh Panji Gumilang dalam suasana santai masih saja tak bosan-bosannya bercerita mulai dari sejarah perkembangan Islam dan peran para ulama China di pesisir jawa bagian utara hingga tentang makna nilai-nilai dasar Negara, Pancasila.

 “Nilai-nilai dasar negara Indonesia, itu merupakan ajaran Ilahi, yang dapat berlaku untuk semua rakyat dan bangsa Indonesia. Nilai-nilai dasar negara ini merupakan ideologi modern, untuk masyarakat majemuk yang modern, yakni masyarakat Indonesia,” ujar Syaikh.

 Nilai dasar sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah suatu pemahaman substansi nilai-nilai dasar negara dan menjadi hak dan kewajiban setiap warga negara. Konsekuensinya, adalah mewujudkan masyarakat yang berketuhanan. “Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa itu adalah negara yang menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agama dan beribadat menurut agama dan kepercayaan masing-masing.”

 Dari sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, memiliki hubungan erat dengan sila pertama. “Kemanusiaan, sangat erat hubungannya dengan ketuhanan. Ajaran Illahi menjadi tidak dapat diimplementasikan jika tidak wujud dalam sikap kemanusiaan yang hakiki.” Ujar Syaikh sembari menjelaskan bahwa sila kedua ini sebagai sebuah semangat dan kegigihan  agar manusia kembali ke pangkal jalan dan membangun kembali revolusi bathiniah, mendisiplinkan diri dengan baik untuk menemukan kendali dan penguasaan diri.

 “Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah suatu kemampuan untuk menyeimbangkan antara kemakmuran lahiriyah dengan kehidupan ruhaniyah,” tegasnya.

 Pada sila ketiga, Persatuan Indonesia, ialah suatu landasan hidup bangsa atau sistem, yang selalu mementingkan silaturahim, kesetiakawanan, kesetiaan, dan keberanian. Katanya, “kehadiran Indonesia dan bangsanya di muka bumi ini bukan untuk bersengketa. Indonesia wujud dan hidup untuk mewujudkan kasih sayang sesama bangsa maupun antarbangsa.”

 “Sila ke-4 Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, itu merupakan landasan yang harus mampu menghantar kepada prinsip-prinsip republikanisme, populisme, rasionalisme, demokratisme, dan reformisme yang diperteguh oleh semangat keterbukaan, dan usaha ke arah kerakyatan universal,” ujar pengembang padi bibit unggul toshihikari ini.

 Mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, sila ke-5,  adalah merupakan tujuan dari cita-cita bernegara dan berbangsa, menyangkut keilmuan, keikhlasan pemikiran, kelapangan hati, peradaban, kesejahteraan keluarga, keadilan masyarakat dan kedamaian.

 Terlepas dari isu yang dihembuskan pihak-pihak tertentu dengan menjadikan Al Zaytun sebagai pemantik dengan meletakkan berhadap-hadapan saling berseberangan dengan Pancasila untuk memuluskan RUU Intelijen menjadi UU, maupun pihak-pihak yang sedang menyusun “proposal” dana intelijen asing. Perbincangan dengan Syaikh Al Zaitun memberi kesan tersendiri, apalagi begitu fasih bicara pancasila dan nasionalisme, serasa jauh dari kesan ingin mendirikan Negara Islam Indonesia seperti santer terdengar di luar pagar Al Zaytun.