Antara Komar, MIM, NII, Zaytun, dan Panji Gumilang

Judul Asli : Panji Kena Kasus, Jamaah NII Kena Sasus

Sumber : http://faceindonesia.com/admin/blog/update-nii-crisis-center-panji-kena-kasus…

Selama 15 tahun mengukuhkan dirinya sebagai Imam NII, baru kali ini Panji Gumilang bisa dibikin semaput. Tak tanggung-tanggung, para mantan punggawa terdekatnya kini menjadi lawannya di mata hukum Republik yang selama ini dianggapnya kafir. Dari kasus pemalsuan dokumen hingga pasal makar akan terus mengikutinya hingga pintu sel kelak. Seharusnya, ini merupakan momen yang tepat bagi Panji untuk menunjukkan “kenegarawanan”nya kepada para jamaahnya untuk bersikap jantan. Sayangnya, alih-alih menunjukkan rasa tanggung jawab, justru malah lempar tanggung jawab dan cari selamat sendiri. Hasilnya, dirinya tertekan, NII tidak jelas arahnya, MIM bergerak lambat dan jamaahnya mulai dicaplok oleh jamaah serupa, yaitu Komunitas Millah Abraham (KOMAR) yang dikomandani oleh mantan petinggi NII, Hilmy Mubasyir alias Ahmad Mushaddiq yang pernah dan masih menjadi nabi itu.

Kasus pemalsuan dokumen yang menderanya, telah memakan korban. Adalah Abdul Halim, salah satu orang terdekatnya yang kini meringkuk di sel tahanan Polres Indramayu. Kasusnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan dan akan segera disidangkan. Sementara itu, di Semarang, enam orang petinggi wilayah NII Jawa Tengah yang tertangkap pun akan segera masuk meja hijau. Pasal yang didakwakan adalah makar. Untuk kasus yang satu ini, Panji Gumilang ketar-ketir. Itulah kemudian dia menyewa pembela dari law firm-nya Yusril Ihza Mahendra. Ada sedikit hal yang menggelitik bagi saya bila seorang aktifis Islam harus bersusah payah membayar pengacara mahal untuk membela kasusnya. Kemana Tim Pembela Muslim (TPM)?. Usut punya usut, ternyata semua orang kecuali jamaahnya Panji sudah memiliki “kesepakatan” bersama bahwa Panji Gumilang bukanlah seorang aktifis Islam yang pantas untuk dibela.

Menghadapi dua kasus itu, konon Panji selalu meradang. Sumber terpercaya NCC mengatakan bahwa Panji kini seperti orang ketakutan. Takut untuk ditangkap, takut hartanya diambil orang terdekatnya juga ketakutan ditinggal pengikutnya dan setoran yang menyertainya. Untuk mengamankan posisinya yang serba sulit, tugas harian Imam diserahkan kepada Menteri Keuangan, Syaefullah. Yang justru membuat semakin rumit adalah ketika kas keuangan NII dipegang erat-erat Panji. Tak ada sesenpun dikeluarkannya untuk operasional gerakan. Akibatnya, Syaefullah kebingungan mencari dana talangan untuk menghidupi para santri serta membayar gaji para pejabat NII. Memenuhi kebutuhan itu, operasional NII dilapangan sekarang difokuskan pada pencarian dana saja. Sedangkan MIM yang menjadi terusan perjuangan NII masih belum memiliki arah kerja yang jelas. Bahkan hingga hari ini Panji juga belum memiliki maklumat tentang mau dibawa kemana hubungan NII dan MIM kelak.

Berbeda dengan kalangan atas NII yang sedang bingung. Kalangan bawah NII dalam wadah MIM terus bergerak walaupun tanpa arahan yang jelas selain penggalangan dana. Namun, dengan kebebasan yang ada kini lantaran putusnya rantai komando untuk sementara waktu, semua jaringan NII mampu berimprovisasi dan menembus batas jaringan lamanya hingga bisa membangun jaringan baru di masyarakat. di Jawa Tengah misalnya, hampir di semua kota mereka membuat lembaga pendidikan, lembaga kajian, lembaga pelatihan, koperasi, bank keliling hingga bisnis transportasi layaknya travel yang mengurusi jalur angkutan antar kota. Semua segmen masyarakat dimasukinya, semuanya pun legal. Belum lagi pembentukan kelompok-kelompok pelatihan da’I dan d’iyah yang juga terus digulirkan oleh para anggota NII yang sekaligus alumni pesantren Al Zaytun.

Disisi lain dari berkembangnya MIM, kebebasan berimprovisasi yang muncul dari ketidak adaannya batasan dan komando sang Imam, membuat jamaahnya menjadi goyah. Beberapa ribu diantaranya ada yang hengkang, terutama kalangan pejabat NII yang tidak lagi mendapat gaji. Sebut saja Muadhof atau tenaga pembangunan di Ma’had Al Zaytun. Jumlahnya kini kurang dari seribu personil saja dari empat ribu personil pada awalnya. Belum lagi para aparat NII di lapangan yang terlunta-lunta tanpa pekerjaan dan program yang jelas hingga mematikan setoran. Akibatnya mereka harus turun ke jalan untuk mencari makan saja. Dari sisi pendidikan, Ma’had Al Zaytun sudah dalam tahap kritis. Penerimaan santri baru hanya berhasil merekrut 200 orang saja yang mayoritas anak dari kalangan mereka sendiri.

Tapi yang tak kalah pentingnya, kegamangan para jamaah ini justru menjadi bola muntahan yang menguntungkan beberapa kelompok. Dua yang paling diminati adalah Syi’ah dan KOMAR. Syi’ah dipilih karena memiliki sistem keimamahan. Sementara KOMAR adalah saudara muda NII KW9 yang memiliki dasar ajaran yang sama serta para petingginya yang berasal dari NII KW9 pula.

Bagaimana dengan sisa jamaah NII yang masih konsis?. Tak ada yang tau pasti. Yang jelas masing-masing cari selamat dan berpikir kantong masing-masing. Ada yang terus merekrut dan menggalang dana dengan semangat. Ada yang santai berleha-leha serta ada juga yang terus semangat membentuk jaringan bisnis, tapi bukan untuk NII, namun buat diri dan kelompoknya. Wallahu ‘alam.

Sumber :http://faceindonesia.com/admin/blog/update-nii-crisis-center-panji-kena-kasus-jamaah-nii-kena-sasus/