Tetap Mendampingi Korban : NII, Gafatar, Al Qiyadah Al Islamiyah

kiriman dari seseorang di kolom komen web ini :

Utk mengungkapkan NII kw 9 sesuai dengan fakta. Bagaimana sejarahnya dan kapan metodologi ini muncul di Indonesia. Berpikirlah secara sederana. Tidak perlu menjelaskan secara teknis karena sudah tentu banyak sekali yang di tambahkan dan di buat sedramatis mungkin. Pertanyaan disini adalah bagaimana nasib yg keluar dari NII, dan apa dampak dari diri orang tsb?
Nii ini layaknya seperti MLM dimana sang sales menjual produk dagangannya kepada konsumen. Supaya mau membeli produk tsb, pengaruhi dia dengan iming-iming kata “surga” pasti tertarik. Kemudian jika ingin yakin dia bakal beli produk tsb, sebaiknya cukup mempengaruhi 1 konsumen saja. Alasannya kalo dia ragu-ragu maka dia tidak bisa menanyakan kepada yang lain. Tapi untuk meyakinkan dia maka ajak temanmu yang dia kenal utk mendampinginya. Jadi kalo dia ragu-ragu pasti dia akan tanya ke temanmu itu. Ini disebut juga strategi pemasaran. Sama halnya kamu masuk ke angkot yg ada penumpangnya dan ternyata penumpang tsb masih ada kerabat dengan supir angkotnya.
Nah bagaimana jika konsumen terlanjur membeli dan menyesalinya. Tentu buang saja barangnya.

Lalu bagaimana dgn NII? Setelah si konsumen ini tertarik dengan produk ini. Konsumen mewajibkan utk menyicil produknya, dengan begitu otomatis konsumen akan terikat dengan perusahaan nii ini. nyicilnya pun sampai “futuh”. Nah disinilah konsumen akan dimainkan secara psikologis (di pengaruhi dan di hasut). Muncullah dokrin ala NII, sama halnya seperti kita mengenal AQUA, jika kita melihat minuman VIT tetap menyebutnya AQUA bukan. Itu yg d sebut dokrin. Hasil dokrinan inilah kita percaya. Apapun yg di katakan mas’ul diikutin tanpa bertanya, karena apa? Karena kita percaya sama mas’ul. Kemudian diberikanlah “cinta” sehingga kita mau mengorbankan apapun. Karena yg diberikan hanya cinta dan tidak kasih sayang maka kita sadar ada yg salah. Cinta itu lamban laun akan terkikis, tapi kasih sayang sepanjang masa. Sayangnya Nii hanya memberikan cinta saja. Kemudian kita merasa di khianati dan keluar dari Nii. Kemudian apakah setelah keluar, urusan selesai? Tidak. Kalo soal harta pasti tidak kembali. Tapi yang keluar dari Nii, luka hati menjadi berbekas. Krn putus cinta.

Yang berbahaya di NII bukan masalah infaqnya, tetapi melainkan psikologis si korban. Kekerasan dibagi menjadi 2, yaitu kekerasan fisik dan psikologis. Nii memanfaatkan psikolgis tersebut. Krn itulah saat keluar dari Nii, si korban menjadi linglung dan tidak tahu arah serta ketakutan. Adakalanya dia menjadi pembenci. Karena itu kalo disebut si korban sudah sadar, sudah sadar gimana? Sudah sadar belum tentu sudah sembuh, dia tentu saja masih sakit karena kekerasan psikologis yg dilakukan oleh nii, contohnya pembullyan baik berupa tekanan, pemaksaan dll. Mari kita tetap mendampinginya utk menyembuhkan lukanya. Jangan hanya blg “Alhamdulilah” saja, tapi wujudkan dengan tindakan kita.