Jammas & Masjid Rahmatan Lil Alamin

Surat dari kordinator kpd kita :
Ada sahabat kita kordinator ma’had , 17 tahun tinggal di kontrakan , yang di jadikan posko setingkat daeroh,,,
2 tahun lalu wafat, Ia meninggalkan dua anak.
Sebelum meninggal dalam keadaan sakit kronis, ia tetap bersemangat mengkawal program jammas, walau kadang sesampainya di tempat tujuan harus terbaring kelelahan , karna penyakit , diabet , gagal ginjal, dan batu empedu, usianya 45 tahun tinnggal di tanggerang,
Bersama team jamas sering sampai larut malam sampai jam 12’malam.
Keluarganya sering cemas, khawatir dan gelisah karena kalau sedang “‘kumat”‘ ia bisa sampai hilang ingatannya, dan dokter sudah mengingatkan ia tidak boleh beraktifitas yang melelahkan, namun karna posisinya sebagai ketua kelompok ia merasa punya tanggung jawab utk mensukseskan program jamas, karena sakit berat istri dan anaknya sering mengingatkan agar ia jangan mengikuti kegiatan jamas, namun ia tidak hiraukan, karna ada beban target di kelompoknya yang harus ia kawal.
Pernah sampai jam 2 pagi ia baru sampai di rumah , dan ketika ditanya kenapa sampai larut malam, rupanya di dalam angkot ia hilang ingatan dan akhirnya nyasar entah kemana, anak perempuan dan istrinya sering menangis sedih melihat kondisi suaminya tersebut,
Ko teganya kawan -kawan di teamnya membiarkan ia pulang sendiri dari tempat acara pertemuan kordinasi jamas tersebut, padahal menurut istrinya para kordinator lainnya tahu kalau suaminya sudah lemah dan penyakitnya sudah kronis, tapi masih saja di mintakan tanggung jawab yang di luar batas kemampuannya.
Dari hari kehari penyakit sahabat tersebut semakin kronis, dan akhirnya Allah memanggilnya.
Pas hari beliau meninggal istrinya lagi-lagi merasakan kesedihan selain di tinggal tulang punggung keluarga ia pun merasa heran, kemana para kordinator yang lain, yg hampir 17 tahun selalu bersama siang malam. ..bahkan sampai pagi lagi berkumpul, untuk mengumpulkan setoran jamas ….
tapi ketika ia di rundung musibah kawan – kawan dan para pimpinannya tidak perduli , bahkan sekedar mnyatakan empatipun tidak.
Untungnya ketua lingkungan dan para tetangga di sekitar perduli. Dari mulai memandikan , sampai menghantrkan ke liang lahat di jawa tengah. Para tetangganyalah yang kompak menolong keluarga sahabat kita tersebut.
Sementara dari pimpinan kordinator tangerang sendiri tidak ada kontribusi untuk membantu kepada keluarga kami, keluh ibu itu

Reff

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1319922824717918&id=100001006389251&refid=7&ref=m_notif&notif_t=like&_ft_=qid.6392007438640160497:mf_story_key.-7776111125450288240:top_level_post_id.1319922824717918&__tn__=%2As

Dan setelah suaminya meninggal untuk biaya hidup sehari – hari Ibu itu kerja nyuci pakaian dari beberapa tetangga yang empati kepada keluarga tersebut.
Tapi seakan – akan sudah mati rasa, di tengah ia berjuang membiyai kebutuhan sekolah anaknya dan biaya hidup sehar2. Ibu tsb masih diminta juga pengorbanan harta untuk membangun masjid Rahmatan Lil Alamin. kata ibu tsb sambil sedih.

Untungnya ada sahabat yang sudah tidak tega melihat ibu tersebut diminta iuran jamas tiap bulannya.
Ketika bertemu kami ia langsung minta kalau ibu tersebut tolong di silah….
Sahabat kita tersebut team jammas kordes (kordinator desa) sama dengan almarhum suami ibu tersebut, dan ia sendiri sudah tidak mau lagi di jadikan ketua kelompok, karna tidak tega melihat kondisi kawan-kawan yang dibebani dengan target yang tidak jelas dasar perhitungannya dari mana.

Ini persoalan yang terjadi di kordinator dan banyak lagi persoalan di lapangan. Namun ketika ada persoalan bukan diselesaikan. Hanya dikatakan ini resiko perjuangan, dan bahkan yang paling ampuh kalau ada sahabat kita yang di tindas lalu ia “‘tidak aktip” dikatakan sunatullah sedang berlaku. Inilah penyaringan orang – orang yang berkualitas katanya.
Dan ini juga berlaku kepada nasib ibu tersebut, ia yang dulu selalu memfasilitasi kegiatan di posko , dan tidak kenal lelah dari pagi siang sore hingga malam untuk membantu penggalangan dana ke ma’had, sekarang seperti sampah “habis manis sepah di buang”

Ia sekarang harus berjuang untuk membiayai hidup kedua anaknya, dengan jasa mencuci pakaian, dan mengontrak di sebuah petakan di lingkungan sekitar, karna setelah suaminya meninggal ia tidak lagi mengisi posko yang memang sudah tidak di perpanjang kontraknya.

Sementara yg lain, tidak mau tahu kondisi yang seperti ini, karna prinsip yang ada, tugasnya ialah mencari duit duit dan duit … itu yang di tugaskan kepada para kordinator jammas

 

Iklan