Se-carik Kertas Sorga

NYERUWAT SEJARAH
Pria separuh baya kelahiran Juni 1964 ini menuturkan ceritanya, sambil sesekali menghela nafas dalam-dalam, ia mencoba mengingat pengalaman yang sudah lama dia kubur, dia pendam, dan baru kali ini dia mau mengungkapkannya lagi.
Ja’far (bukan nama asli) runut menceritkan masa lalunya sambil memberikan beberapa lembar kertas yang sudah mulai menguning, karena sudah lama tersimpan di lemarinya sebagai dokumen yang entah kapan akan bermanfat.
Pria yang pernah menjadi asisten dosen Prof. Din Syamsudin di Ikip Muhammadiyah Jakarta ini memulai kisahnya dari perjuangan alm Abdul Karim Hasan, dengan keilmuwannya dan visinya mempersiapkan generasi muda yang berilmu untuk mengharumkan masa depan bangsa, membawa panji Islam untuk dikibarkan di permukaan tanah air Indonesia.
Waktu berjalan, ketika kepemimpinan beralih, bergulirlah program 8 sumber pendapatan kas manajemen:
1. Infaq
2. Bakti Qurban
3. Bakti Romadlon
4. Tabungan
5. Qirod/Pinjaman
6. Aqiqoh
7. Shodaqoh Pernikahan
8. Shodaqoh min shodaqot.
Adalah qirod (pinjaman) yang dalam pengumumannya akan dikembalikan setelah lima tahun berjalan, qirod yang dikonversi dalam bentuk emas murni (@ 26 ribu/gram), Ja’far mencoba membantu perjuangan ini dengan menyetorkan sejumlah uang, saat itu dia memiliki uang hasil penjualan rumahnya di daerah Meruya Jakarta Barat (500m2 = 100juta Rupiah) dia menyetorkan pinjaman sejumlah 1555 gram (1,5 kg) secara bertahap, karena keyakinan dengan apa yang sudah digariskan oleh manajemen bahwa dalam lima tahun akan dikembalikan.
Lima tahun berjalan, pada bulan November 1998 dia menagih janji pengembalian pinjaman, menulis proposal dan memberikannya kepada pimpinan terdekatnya, dan alhamdulillah, dijawab ajuan dengan memberikan faedah dari pinjaman tersebut sejumlah Rp. 8.854.510, tanpa penjelasan kenapa faedah yang dikembalikan.
Kemudian pada tahun 1999, pria yang pada tahun 1985-1993 menjadi guru PNS di jakarta ini, bergabung untuk menjadi pendidik di mahad, dan mengajar bahasa Indonesia, sejak angkatan pertama hingga datang masa sulit baginya, maklumlah, hingga tahun 2003 dia baru bisa memberikan 100.000/bulan kepada sang istri yang seminggu sekali dia kunjungi, anaknya sudah beranjak dewasa, dengan kebutuhan sekolah, dan kebutuhan keluarga yang tentu tidak akan cukup dengan uang tersebut, sang istripun tidak memiliki masukan lain.
Hingga waktu itu tiba, di saat kondisi rumah serba kekurangan, anaknya terkena musibah, jatuh di asrama dan kepalanya membentur lantai, dia membutuhkan sejumlah uang untuk pengobatan anaknya dan tentunya kebutuhan rumah tangga yang semakin melilitnya, dia menulis ajuan untuk pencairan qirod yang sudah 10 tahun, tiga kali ditulisnya dan tidak ada jawaban sama sekali.
Akhirnya dengan sangat berat hati dan kecewa, dia meninggalkan mahad dan menyatakan keluar untuk menghidupi keluarganya dan membiayai sekolah anaknya, sambil membawa pertanyaan besar di otaknya, kemana 1,5 kg emas murni miliknya yang dipinjamkan kepada manajemen mahad?
Ribuan ja’far merasakan hal yang sama, sejak diturunkannya ketetapan pinjaman, mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan dana dan disetorkan untuk dipinjamkan dengan harapan akan dikembalikan dalam waktu lima tahun, sesuai dengan surat edaran.
Menurut sumber yang tidak mau disebutkan namanya, hanya 6 gram saja qirod yang diberikan oleh pimpinan tertinggi, pantaskah seorang pemimpin yang mewajibkan pengikutnya untuk memaksimalkan qirod, sedangkan dirinya tidak memberikan contoh?
Ratusan bahkan ribuan kilo emas yang sudah dikonversi dalam bentuk rupiah hilang begitu saja tanpa ada laporan program maupun evaluasinya, obligasi jama’ah yang dijanjikan akan dikembalikan dalam jangka waktu lima tahun tak ditepati, hanya peryataan “semua dana pinjaman sudah berbentuk tanah dan bangunan di komplek pesantren”.
Bukankah sudah ada 8 sumber dana? Bukankah sudah ada program sodaqoh tanah? Bukankah sudah ada program sodaqoh karpet masjid? Bukankah sudah ada program sodaqoh tiang masjid? Dan masih banyak program lainnya untuk mewujudkan bangunan kokoh di komplek pesantren yang jumlah dananya hanya allah dan rekening pribadinya yang mengetahui, karena pengguanaan dana tanpa hitung dan kalkulasi, semua masuk dan keluar tanpa transparansi, berakibat pada rontoknya ribuan jama’ah tanpa permisi.
Ta’mir masjid kampung saja selalu mengumumkan keuangan masjid setiap sebelum sholat Jumat, bagaimana dengan institusi sebesar ini? Celetuk mereka yang merasa dibohongi.
Jika sesuatu yang dijanjikan pengembaliannya, hitam di atas putih, saja tidak ditepati, apalagi program besar baru-baru ini, tanpa janji dikembalikan, atau pertanggung jawaban dalam bentuk dana masuk dan keluar., semua akan menjadi basa-basi tanpa arti.
الْوَسَائِلُ لَهَا أَحْكَامُ الْمَقَاصِدِ
“Cara memiliki hukum sama dengan tujuan(nya)”
Bila sarana yang digunakan adalah kebohongan, maka akan lahir tujuan yang penuh dengan kebohongan, lihatlah bangunannya yang tinggi menjulang, digunakan untuk kebohongan-kebohongan berikutnya, lihatlah hamparan daratannya yang luas, menghasilkan tipu daya dalam manajemennya, bila tidak diselamatkan, maka cita-cita mulia para leluhur akan berakhir dengan dusta dan hina
لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ ويَقُولُ خَيْرًا ويَنْمِي خَيْرًا
“Bukanlah pembohong orang yang mendamaikan antara manusia, ia berkata baik dan menaburkan kebaikan “.
Kebohongan akan selalu mengahasilkan kebohongan-kebohongan lainnya, dan akan ditampakan bukti kebohongannya setelah institusi pendidikan terbentuk, di nyeruwat sejarah berikutnya.
والله في عون عبده

https://m.facebook.com/photo.php?fbid=311184729316276&id=100012742535943&set=a.170414256726658.1073741830.100012742535943&refid=17&ref=m_notif&notif_t=like&_ft_=tl_objid.1414327331944133:thid.100001006389251:306061129499414:67:0:1498892399:-5610794949438031072&__tn__=E

 

 

 

Iklan