Neo NII 2018 

Assalamualaikum pa.

Sebelumnya perkenalkan nama saya X. 21 tahun. Tinggal di kota Y.

Maksud saya mengirimkan surel ini tidak lain yaitu ingin sharing mengenai pengalaman saya satu tahun belakangan ini.

Saya mendapat alamat email bapa ini dari salah satu tulisan bapa di internet.

Singkat nya seperti ini cerita nya pa.

Yaitu tepatnya tahun lalu di bulan agustus. Saya kembali bertemu dengan teman lama saya ketika di SD. Awalnya kita cuma main biasa. Main Playstation. Pertemuan itu terjadi 3x dalam 1 bulan. Minggu pertama kita bermain ber 3.

Minggu ke 2 ber 4.

Minggu ke 3 saya kembali diajak bermain playstation. Sebelumnya saya kira akan bermain sama seperti minggu kemarin yaitu minimal ber 3 dengan teman lain nya. Tetapi ternyata tidak. Saat itu saya hanya bermain dengan satu teman.

Permainan selesai sekitar pukul 22.00

Diperjalanan pulang saya diajak mampir di warung untuk sekedar minum kopi lalu dilanjutkan dengan obrolan ngalor ngidul sampai obrolan tertuju pada satu bahasan yaitu tujuan kita hidup di dunia.

Kala itu obrolan menjurus memberikan pengetahuan kepada saya bahwa tujuan kitu hidup yaitu untuk beribadah. Lalu ibadah harus pada tempatnya yaitu di islam.

Teman sy lalu bertanya islam yang mana yang benar. Kala itu dia menceritakan tentang hadits umat islam akan terbagi menjadi 73 golongan.

Saat saya tanya islam yang mana yang akan selamat. Dia suruh saya membaca alquran al baqarah ayat 208. Bahwa islam yang benar itu yaitu islam yang kaffah. Dia mengatakan jika ibadah kita ingin diterima maka kita harus berada di islam yang benar pula.

Diajak lah saya untuk keesokan hari nya untuk bertemu dengan seorang yang sanggup membimbing hidup kita. Sama sama mengharap ridho nya allah. Saya mengiyakan ajakan itu.

Besok nya dipertemukanlah saya dengan beliau di antar oleh teman tsb di sebuah rumah.

Pertemuan tersebut diawali dengan saya mengutarakan kedatangan saya ke tempat itu untuk apa.

Lalu dilanjutkan dengan saya mengucap syahadat di hadapan beliau. Lepas itu beliau mendoakan saya.

Sehabis itu sampai saat ini saya belum lagi bertemu dengan bapak yang menyaksisakan syahadat saya itu.

Saya diminta untuk berkomitmen untuk siap dibimbing. Siap mengikuti kajian kajian yg diadakan.

Saya hampir selalu mendatangi kajian kajian yg dijadwalkan untuk saya. Biasanya terjadwal 1x dalam satu minggu.

Materi yang di dapat yaitu tentang kesadaran kehidupan. Iman kepada Allah. Rasul. Quran dan Islam (ARQI)

Lalu tentang Hijrah.

Setelah mendapat materi tentang hijrah

Saya kembali diminta berkomitmen untuk bersyariah. Disebutnya BN (baitunnisa) saya diminta untuk membaca sumpah yang ada di surat al mumtahanah ayat 12. juga ada materi tentang infaq.

Kira kira di bulan januari materi infaq ini saya terima. Di bulan januari itu lah saya mulai per bulan nya menyerahkan infaq sebesar 2,5% dari penghasilan perbulan saya.

Berikutnya saya mendapat materi tentang dakwah. Jadi kita diharuskan untuk mendakwahi orang lain atau mengajak seseorang yang belum bergabung dengan kita.

Saya mendapat materi tentang bagaimana cara kita mendakwahi calon member kita.

Yaitu dengan cara pengkondisian, pengisian, ajakan dan taftis.

Pengkondisian yaitu kita diharuskan untuk mendata calon member kita dimulai dari nama. Alamat. Pekerjaan. Usia. Pekerjaan orang tua.

Data tersebut diwajibkan sebelum kita melanjutkan ke tahap berikutnya.

Oh iya sebelumnya saya jelaskan dulu. Kajian yg saya ikuti biasa nya diselenggarakan tertutup. Tak jarang juga saat kita dibentrokan dengan jadwal lain kita diminta untuk memprioritaskan jadwal kajian ini. Bahkan membolehkan kita bersiasat kepada orang tua untuk memudahkan kita mendatangi undangan kajian tersebut.

Hingga kita berdakwah juga kita menyiasati setiap bahasa yang dipakai.

Berdakwah kita biasa menyebutnya marketing.

Dai istilah nya sales.

Mad’u istilahnya klien.

Taftis istilahnya belanja.

Infaq istilahnya japrem.

Semuanya dilakukan semata karena untuk meyiasati agar dakwah kita berjalan aman. Karena akan menyampaikan hal yg sangat sensitif. Begitu tuturnya.

Bahkan untuk klien nya saja dipilih pilih. Karena diusahakan untuk tidak mendakwahi polisi. Tni atau seseorang yang orang tua nya bekerja di intansi tersebut.

Selain daripada dakwah tersebut ada juga yang disebutkan program keuangan.

Dimana kita harus membatu program islam dalam hal keuangan juga. Untuk yg terakhir ini contohnya sebelum ramadhan ini saya membantu berjualan kue kue kering.

Di program dakwah saya sudah mengajak 2 orang. 1 teman perempuan saya. Dan 1 adik laki laki saya.

Diawal ramadhan saya mendapat keraguan tentang apa yang sedang saya jalani ini.

Saya selalu merasakan ketidaknyamanan saat melakukan dakwah.

Karena saya mempunyai fikiran saya berdakwah untuk menyalamatkan orang yang saya dakwahi.

Sebelum mereka bergabung bersama kita. Masuk kedalam sistem islam yg kaffah ini. Itu artinya mereka tidak akan selamat. Semua ibadah yang mereka lakukan sia sia. Karena melakukan ibadah tidak pada tempatnya.

Bahkan zakat yang saya keluarkan harus kepada amilin di sistem ini. Jika tidak hanya akan sia sia.

Begitulah fikiran saya kala itu.

Sampai satu waktu saya tak sengaja mendengar tausyiah salah satu ustadz di channel youtube. Tentang mengkafirkan orang islam lainnya.

Barulah saya mulai membuka mata untuk kembali mengkaji apa yg sedang saya jalani.

Istiqarah saya jalani. Referensi referensi dari sumber sumber lain saya baca baca di internet. Dan sampai saat ini saya belum menemukan referensi yang membenarkan tindakan saya sebelumnya.

Sampai saat ini saya lebih condong untuk meninggalkan sistem yang sedang saya jalani.

Saat ini saya meminta nasihat dari pa bahtiar untuk saya.

Saya merasa sudah masuk sangat dalam.

Mohon pencerahnya pa.

Apakah ini termasuk NII? Karena tak ada satupun pemateri saya yang menyinggung tentang NII.

Terima kasih sebelumnya.

Wassalamualaikum

########

Waalaikum salam sdr. X

Dari yg sdr jelaskan itu jelas ajaran Islam menyimpang, walau mereka tdk menyebut NII tapi cara merekrut anggota sama persis dg NII.

Agama hanya sebagai kedok, tujuan utama memeras uang, harta, tenaga, pikiran dan orang-orang di sekitar kehidupan sodara.

Sebaiknya segera jaga jarak dg mereka, teman dan adik yg sdh diajak masuk dinasehati agar juga menjaga jarak.

Tetap perbanyak membaca referensi-referensi ajaran Islam menyimpang.

Yg sdr. alami byk jg dialami anak-anak muda yg lain, tapi setelah masuk, merasakan keanehan ajaran dan byk baca referensi, akhirnya sadar dan keluar.

Demikian saran & masukan dari saya, bila ada yg ditanyakan lg, silahkan dibalas email ini

Salam
Bahtiar
Mantan NII KW9
Tangerang Selatan Banten

Iklan